Kaella sadar, terjebak dalam hubungan tanpa status adalah hal paling idiot. Daripada berada dalam hubungan tak jelas semacam itu, mending cari yang lain, kan? Tetapi ia terlanjur jatuh dalam pesona Gabriel. Bos geng satu itu adalah pria dengan tempr...
Yang kangen Gabriel-Kaella boleh lambai tangan dulu disini 👋👋
Atau kalian kangen aku?
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
.
.
***
.
.
Tok tok...
Suara ketukan pintu kamar Shanin terdengar pelan. Tanpa menunggu pemiliknya menyahut, pintu itu telah didorong terbuka. Gabriel muncul dari sana dengan nampan berisi sarapan, terlihat sudah siap dengan seragamnya untuk berangkat ke sekolah.
Shanin hanya diam memandangi sampai pemuda itu duduk di samping ranjangnya.
"Lo gak ikut sarapan." Gabriel mengambil piring lalu mengaduk nasi beberapa kali agar terbaur dengan lauknya. Ia menyendok setengah penuh lalu didekatkan ke mulut Shanin. Namun adik kembarnya itu tak membuka mulut, terlihat sedikit memalingkan wajah. Gabriel menurunkan sendok kembali pada piring seraya menghela nafas.
"Gimana makan malamnya? Lancar?"
Dari sekian banyak basa-basi di pagi hari, pertanyaan itu yang harus Gabriel dengar dari Shanin. Walau sebenarnya ia tahu Shanin akan mengungkit kejadian semalam, Gabriel tetap merasa bersalah. Ia salah membiarkan Jonathan mengusir Shanin hanya agar tak terlihat ada di rumah.
"Seharusnya gue nggak ikut," sesal Gabriel.
"Lancar?" Shanin mengulangi pertanyaan seolah bukan jawaban itu yang ingin ia dengar dari Gabriel.
Terdiam beberapa saat, samar-samar Gabriel menganggukkan kepala tanpa mengangkat pandangannya. "Menurut mereka mungkin iya, tapi bagi gue seperti neraka."
Shanin mengulurkan tangan mengelus bahu kakaknya. "Lo berusaha melakukan yang terbaik."
Apakah itu benar-benar usaha terbaik yang paling bisa Gabriel lakukan? Membiarkan Shanin pergi sendirian. Menelan makanan yang rasanya ingin ia lemparkan. Kedengaran seperti pecundang.
"Sorry."
Shanin terdiam. Ini terlalu pagi untuk dadanya merasa sesak mengingat kejadian tadi malam. Bukan seperti ini cara mengawali pagi hari. Langit di luar sana kelihatan cerah. Lagipula, bukan Gabriel yang seharusnya meminta maaf.
"A." Shanin membuka mulut. Meminta Gabriel menyuapinya tanpa perintah. Dengan menurut pemuda itu mengangkat kembali sendok yang sempat ia taruh. "Enak," gadis itu berkomentar, padahal biasanya dia cuma akan mengunyah dalam diam.