Empat

290 53 3
                                        

"Bukan itu maksud——"

"Ah, udah lah! Jujur aja!" Lili memotong ucapan Fajri, dia jadi kesal sendiri.

"Kok lo kesel, sih?" Tanpa sadar Fajri jadi ikut ber-lo-gue.

"Lo masih nanya?!"

Fajri menarik napas dalam, berusaha sebisa mungkin untuk tetap sabar. "Okey, kalau lo marah, gue minta maaf. Tapi serius, gue nggak ada niat sedikitpun untuk menghina." Lili bergeming, sehingga Fajri memilih melanjutkan kata-katanya. "Gue malah mau bilang 'keren', karena jujur, gue jarang banget nemuin anak muda yang gak gengsi buat jualan kayak gini. Secara, kan, anak jaman sekarang kebanyakan lebih mengedepankan gensi. Ya meskipun ternyata omongan gue malah lo anggap sebagai penghinaan, sih."

Lili sedikit salah tingkah. "Ya, ya lagi lo ngomong, lah!" sewot Lili, meskipun nadanya sudah lebih bersahabat.

"Ya gimana caranya ngomong, kalau tiba-tiba udah dituduh kayak tadi?"

Lili membuka mulutnya. Niatnya sih mau menjawab, tetapi karena tak ada sepatah-katapun yang terucap, Lili merapatkan bibirnya kembali.

Fajri mengerti, Lili pasti bingung dan mungkin ngerasa bersalah, jadinya dia bilang, "Yaudah, lupakan. Intinya maaf kalau kamu merasa dihina, saya nggak ada niat. Serius."

Lili harus mengakui nada bicara Fajri memang terkesan formal, tetapi berbarengan dengan itu entah gimana caranya malah terdengar dewasa banget. Sepertinya Fajri bukan tipe cowok yang suka memperpanjang masalah.

Cewek itu mengangguk pelan lalu sedikit mendekat kearah Fajri yang masih duduk di atas jok motor. Kemudian tanpa Fajri duga, cewek di hadapannya itu mengulurkan tangan.

"Maaf," kata Lili.

Bukannya menjabat tangan Lili yang terulur, Fajri malah tercengang. Abis gimana, ya, cara Lili minta maaf itu nggak biasa banget——setidaknya bagi Fajri, karena biasanya orang tuh minta maaf ke dia paling cuma ngomong atau lewat chat, bukan ngulurin tangan kayak Lili begini.

"Oy," panggil Lili pelan, itu membuat Fajri mengerjap beberapa kali, kemudian menatap tangan Lili yang masih terulur.

Sedikit ragu Fajri menjabat tangan Lili, meskipun hanya sebentar, sih, karena Lili dengan cepat menarik tangannya kembali.

Cewek itu berdeham, lalu mengalihkan pandangannya ke kanan, tapi karena penasaran pelan-pelan Lili menengok ke arah Fajri kan tuh, eh sialnya malah langsung disambut oleh Fajri ternyata juga tengah menatapnya. Tatapan yang tergolong lekat itu berhasil bikin jantung Lili jadi dag-dig-dug, pokoknya agak ribut, makanya deh Lili buru-buru melempar pandangannya ke sembarang arah, intinya kemanapun asal nggak ke Fajri.

Selanjutnya suasana di antara mereka terasa awkward gitu——bagi Lili, sih——apalagi belum ada pembeli lagi, jadi Lili harus diam mematung sambil mutar otak buat mencari ide kesibukan apa yang harus ia lakukan, tetapi sayangnya tidak ada ide yang muncul.

Sedangkan Fajri? Dia sih masih setia menatapi Lili. Enggak, bukannya jatuh cinta. Lagian, Fajri jua nggak percaya sama yang namanya 'cinta pada pandangan pertama'. Cuma, ya, emang nggak ada obyek buat ditatap aja. Lagian natap Lili itu seru juga, apalagi setelah kesalahpahaman Lili padanya tadi, kayaknya cewek itu jadi agak malu.

"Kamu ngerasa canggung?"

"Hn ...?" Lili memasang wajah tak mengerti, dia juga agak tersentak karena Fajri yang tiba-tiba bersuara.

"Kamu ngerasa canggung? I mean, gara-gara yang tadi?"

"Hm, bisa nggak lo ngomongnya pakai lo-gue aja? Jangan kamu-kamu'an gitu."

Dia Fajri | Un1tyCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang