Sarapan

230 25 0
                                        

“ayo dibagi buah pepaya menanam benih buang kedongdong selamat pagi neng raya ada bang aji nih, bukain dong,” seru aji kelewat semangat.

pagi ini, aji udah stand by di depan kontrakan ceweknya yang semalem minta ditemenin begadang sampai jam tiga pagi.

nggak lama setelah seruan pantun disuarakan beriring ketukan pintu sebanyak tiga kali, bunyi kunci dan kenop yang diputar saling bersahutan buat senyum aji kian melebar kala bareface raya muncul dari balik pintu menyambut kedatangannya.

“pagi aji,” sapa gadis itu singkat seraya melebarkan pintu kontrakannya agar aji dapat ikut masuk ke dalam.

aji mengekor raya yang berjalan masuk sembari menguap kecil. melihat bagaimana raya masih terkantuk-kantuk saat mempersilahkannya duduk, aji yakin pacarnya itu pasti benar-benar baru saja bangun dari tidur singkatnya.

“aku cuci muka dulu ya, ji,” pamit raya sebelum berjalan masuk ke dalam kamar mandi.

butuh waktu sekitar sepuluh menit bagi raya untuk membasuh muka, menyikat gigi, dan merapikan rambutnya. nggak heran, ketika dirinya keluar dari kamar mandi, dua mangkuk bubur ayam dan dua mug susu cokelat hangat sudah tersaji di atas meja ruang tamunya. perasaan gadis itu seketika menghangat hingga tak bisa menahan senyum yang ingin terbit di wajahnya.

raya menutup pintu kamar mandi, lantas kembali merajut langkah, dekati aji, yang sedang asyik menonton kartun upin ipin di televisi, dan duduk di sebelahnya.

“bang agus udah buka lagi?” tanya raya membuat fokus aji teralih kepadanya.

“udah. ternyata kemarin tiga hari tutup tuh istrinya lahiran,” jawab aji. memberitahukan informasi bahagia yang tadi pagi dibagikan oleh pedagang bubur ayam langganan mereka, bang agus, pada raya.

“ih, punya debay dong?” pekik raya senang. “tengokin, yuk?”

“gampang. nanti aji mintain alamatnya bang agus.”

“iya, makasih, aji,” balas gadis itu seraya tersenyum manis.

aji mengangguk. tangannya maju dekatkan mangkuk bubur dan mug berisi susu cokelat hangat pada raya. “sarapan dulu.”

“iya. aji juga,” sahut raya sebelum mengangkat mug miliknya dan menyesap isi di dalamnya sedikit demi sedikit.

aji ikut mengangkat mug yang tersisa namun tidak segera membawa benda itu dekati bibir dan hanya menahannya dengan kedua tangan sebab matanya sibuk memandangi raya yang sudah memulai menyendok bubur ayam dari mangkuk.

sepasang irisnya fokus tatap wajah manis dari gadis yang sudah setahun ini menemani setiap sedih senang harinya. gadis yang berumur setahun lebih muda darinya, yang tidak dia sangka akan menjerat hatinya pada pandangan pertama. benar-benar diluar akal manusia. budut, kalau kata bang ical.

mata aji berhenti tepat di kedua lingkaran hitam yang tercetak jelas di sekitar mata raya. tangannya, secara sangat sadar, terulur maju menyentuh lingkaran hitam itu dan mengusapnya pelan.

“raya jangan kebanyakan begadang,” ujarnya menasehati, yang mungkin juga harus dia katakan pada dirinya sendiri.

“pengennya gitu, ji. tapi tugasnya tuh, nggak pengertian banget ngajakin raya begadang mulu,” keluh raya yang baru saja menelan sesendok besar bubur dari mulutnya.

“kamu jadi mirip pocong, ray.”

bibir raya merengut sebal. “kok pocong, sih?” protesnya. “mirip panda dong harusnya.”

“jangan lah. kasian pandanya dimiripin sama kamu,” kata aji semakin membuat raya kesal.

“ih kok gitu sih aji!” pekiknya tak senang.

aji tertawa melihat gadisnya kesal. tangan yang semula mengusap kedua lingkaran hitam milik raya, turun dan beralih mencubit pipi gembil gadisnya yang menganggur.

“kasian kalo pandanya dimiripin sama kamu, ray. nanti dia minder, soalnya kalah lucu.”

“AJIIIIII AH!”

harta tahta eska. (on going)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang