“tumben banget ngajakin makan disini?” tanyaku ketika menyadari mobil calvin berhenti di sebuah restoran mahal, yang harga sebotol air mineralnya saja cukup untuk makan tiga sampai empat hari, alih-alih warung makan kaki lima yang biasa kami datangi.
“ya nggak pa-pa. sekali-sekali,” jawab calvin seraya mematikan mesin dan melepas sabuk pengaman. “yuk, turun,” ajaknya.
aku menurut. membuka pintu mobil dan turun dengan sangat tidak elegan karena hampir terjatuh hingga kepalaku terantuk bagian atas pintu mobil membuatku refleks mengaduh.
“aduh!”
“kenapa?” calvin datang menghampiri dan bertanya.
“grogi nih gue. sampe kejedot pintu,” akuku seraya menyengir.
calvin nggak menyahut. hanya ulurkan tangan elusi dahiku yang membentur pintu dan meniup-niupnya seakan-akan itu berpengaruh menghilangkan rasa sakit yang mendera di sana.
“masih sakit?” tanyanya yang kujawab gelengan singkat.
calvin membuka telapak tangannya di hadapanku, lantas berkata, “yaudah. yuk, masuk.”
kami saling berpegangan tangan, melangkah masuk ke dalam restoran mewah itu. saat sudah berada di dalam, seorang pelayan datang menyambut kami. calvin menanyakan soal reservasi, dan pelayan itu langsung mengarahkan kami pada sebuah meja di lantai dua restoran yang sudah dipesan atas nama calvin.
ketika sampai di depan meja yang dimaksut, aku langsung duduk. tidak berniat menunggu sebuah adegan romantis seperti calvin berinisiatif tarikkan kursi karena aku pilih lebih dulu melakukannya untuk diriku sendiri.
“suka nggak tempatnya?” tanya calvin sesaat setelah kami duduk menyamankan diri di atas kursi kayu mahal berukiran yang melengkapi meja tadi.
aku menarik kedua sudut bibirku sembari melihat pemandangan di luar restoran dari balik kaca tebal yang membatasi ruangan restaurant ini dari dunia luar.
“suka,” jawabku seraya kembali putar wajah menghadap calvin. “tapi jangan sering-sering. mahal.”
“iya,” sahut calvin.
“eh tapi, cal—”
kring kring kring
ucapan naya terpotong kala dering telepon yang berasal dari ponselnya tiba-tiba saja berbunyi menginterupsi. gadis itu lantas merogoh tasnya untuk ambil ponsel yang masih terus berbunyi. ada nama ibu yang terbaca mata buat naya langsung arahkan layar ponselnya pada calvin dan berkata,
“ibu nelfon.”
calvin mengangguk. persilahkan naya bangkit dan sejenak menjauh untuk angkat telepon.
“halo, bu?” sapa naya.
“halo. lagi dimana, kak?”
“diluar. cari makan. kenapa?”
“sama calvin?”
“iya.”
“pas kalo gitu. ibu minta tolong, bilangin makasih buat kadonya.”
“hah, kado?“dahi naya berkerut bingung. “calvin ngasih ibu kado? dalam rangka apa?”
“di kartu ucapannya sih katanya selamat, karena ibu berhasil lahirin naya, gitu.”
“hah? gimana, sih? aku nggak ngerti.”
“kamu kan lagi sama dia, tanyain aja. udah dulu, ya? telfonnya ibu tutup,” pamit ibu sebelum kemudian menutup sambungan telepon secara sepihak.
naya, masih dengan wajah bingungnya, berbalik dan kembali duduk di kursi yang sempat dia tinggal. ponsel di tangan kembali dimasukkannya ke dalam tas, namun sepasang matanya tak lepas memandang calvin yang sibuk bermain ponsel.
“cal,” panggil naya memecah hening.
yang dipanggil angkat kepala, letakkan ponselnya di atas meja lalu bertanya, “udah telfonnya?”
“udah.”
“ibu bilang apa?”
“kata ibu, makasih kadonya.”
“oh, iya sama-sama.”
“cal,” panggil naya lagi.
“kenapa?”
“lo ngajak makan disini dalam rangka apa sih?”
calvin mengangkat bahunya santai. “pengen aja.”
“terus ngasih ibu kado dalam rangka apa?”
“dalam rangka ngucapin selamat, karena delapan belas tahun yang lalu, beliau udah berhasil lahirin lo.”
“cal—”
“iya, naya. gue tau lo nggak suka—”
“ih, dengerin dulu.”
calvin mengangguk, persilahkan naya bicara.
“ibu tadi bilang makasih, karena lo udah mau bantu jaga dan bikin bahagia anak yang delapan belas tahun lalu dia lahirin ke dunia susah payah,” ujar naya yang membuat calvin langsung lukis senyum di wajahnya.
“iya, sama-sama. tapi, tolong bilangin balik ke ibu, jangan lupa anaknya disuruh makasih ke diri sendiri dulu, karena dia udah biarin dirinya bahagia dan nggak nyerah sama keadaan yang kadang emang suka ngajak berantem.”
“bilangin juga, gue berterimakasih karena udah dikasih ijin abisin satu tahun dia kemarin bareng sama gue.”
“oh iya, sama satu lagi. bilangin sama dia, mulai hari ini, dia ga perlu takut setiap tanggal 28 januari dateng. karena selama ada gue, gue bakal selalu berusaha supaya hari lahirnya nggak akan lagi jadi hari yang menakutkan buat dia.”
KAMU SEDANG MEMBACA
harta tahta eska. (on going)
Fanfictieft straykids. oneshot straykids eskalokal. (mostly calvin antares) AU ; lowercase 2020, seobarbie eskalokal.
