“ini nggak pa-pa emangnya kalo aku ikut ketemu klien kamu?” tanya naya pada calvin yang kini sibuk berbalas pesan dengan orang-orang di ponsel.
dua sejoli itu, sejak satu jam yang lalu memang sedang duduk di salah satu restaurant untuk makan siang. bukan tanpa sebab mereka memilih bangunan dua lantai ini sebagai tujuan. karena kebetulan setelah acara makan siang bersama ini dilaksanakan, calvin akan bertemu salah satu klien yang sudah membuat janji dengannya sejak empat hari lalu lewat aplikasi perpesanan.
“nggak pa-pa. aku udah bilang sama orangnya kalo pacarku ikut dan beliau nggak keberatan,” jawab calvin santai seraya meletakkan ponselnya di atas meja.
“klien kamu cewek atau cowok?”
“ibu-ibu. mau cerai sama suaminya.”
“masalahnya apa emang sampe mau cerai.”
“belum cerita sih. nanti mungkin dia cerita.”
naya manggut-manggut. “kalo ngurus kasus cerai gitu, susah nggak, cal?”
“tergantung, sih. siapa yang cerai, terus apa aja harta yang direbutin, hak asuh anak juga kadang bikin susah, belum kalo naik banding. aku kalo ngurusin artis cerai, skip aja lah. kebanyakan drama. males,” jelas calvin panjang lebar.
“tapi kan duitnya banyak, cal.”
“kalo nggak halal buat apa? masa aku ngasih makan kamu duit haram.”
“dih.” naya mengangkat satu alisnya. “emang bantuin artis cerai itu duitnya haram?”
“duit bayaran jadi pengacaranya mungkin enggak. tapi, duit dan lain sebagainya itu bisa jadi nggak halal. kamu tau sendiri, kan, artis walaupun nggak semua, tapi banyak yang suka memutar balikkan fakta demi dianggap tanpa cela.”
“iya, sih. tapi nggak boleh diskriminasi gitu ah. nggak semua artis kayak gitu. nggak boleh pukul rata.”
“iya, nyonya antares, iyaaaaaa.”
“dihhhh,” balas naya sebelum kemudian terkekeh geli.
mereka lantas kembali melanjutkan perbincangan. sampai lima menit setelahnya, meja yang mereka duduki didatangi oleh seorang wanita berumur sekitar empat puluh tahunan yang menyapa calvin dengan nada ramah dan anggun.
“ini benar pak calvin, ya?”
calvin bangkit dari kursinya lantas mengulurkan tangan untuk menjabat tangan wanita itu. “iya, bu dewi. saya calvin. ini pacar saya, naya.”
naya ikut berdiri dan menyalami wanita yang calvin panggil bu dewi tadi. “silahkan duduk, bu,” ucapnya mempersilahkan.
bu dewi tersenyum lantas duduk di hadapan mereka berdua. “maaf saya terlambat, pak, bu, jalannya tadi sedikit macet,” katanya.
calvin mengangguk maklum. membiarkan wanita itu duduk tenang dan rileks sebelum perbincangan serius itu mulai mereka perbincangkan.
“jadi begini, pak calvin. saya ingin bercerai dari suami yang sudah saya nikahi selama dua puluh tahun,” ujar bu dewi. memulai pembicaraan inti dari pertemuan mereka.
“kalau saya boleh tahu, masalah utama apa yang pada akhirnya membuat ibu memutuskan untuk bercerai?” calvin bertanya hati-hati, berusaha tidak menyinggung perasaan wanita di hadapannya.
“selama sepuluh tahun, saya sudah diselingkuhi berkali-kali dan dengan wanita yang berbeda-beda. saya sudah memberikan suami saya kesempatan, berkali-kali pula, tapi suami saya belum juga berubah. selain itu, saya juga terkadang mendapatkan kdrt dari suami saya. saya hanya ingin berpisah dan memulai hidup yang baru yang tenang, pak calvin. saya tidak meminta sepeserpun harta. asal saya bisa berbahagia tanpa bayang-bayang suami saya,” terang bu dewi yang menjawab dengan suara begitu tenang.
“ketika ibu tahu jika ibu sudah diselingkuhi untuk pertama dan kedua kalinya, kenapa ibu masih memilih bertahan? bahkan sampai sepuluh tahun?” secara setengah sadar, karena terlalu larut dalam cerita klien calvin, naya tiba-tiba melemparkan sebuah tanya yang barangkali tidak diduga oleh dua orang lain yang ada di sana.
calvin sudah akan melayangkan maaf karena naya melempar tanya yang menyinggung hal pribadi andai bu dewi tidak mengukir sebuah senyum maklum dan menjawab, “karena membuat sebuah hubungan itu, bukan hanya perkara menjanjikan kebahagiaan, tapi juga menerima kekurangan.”
“suami saya menerima kekurangan saya, jadi saat itu saya pikir, saya harus mampu menerima segala kekurangannya juga. toh sejak awal saya paham, ketika saya memilih untuk menikah dan membuat sebuah hubungan baru, berarti saya juga telah membuat banyak hubungan lain, dengan keluarga dan seluruh orang yang dikenal oleh suami saya.”
“pada hakikatnya, menyatukan lebih dari dua kepala, lebih dari dua pemikiran, lebih dari dua prinsip, lebih dari dua ego, dan lebih dari dua perasaan, itu tidak pernah mudah. jadi wajar saja kalau terkadang konflik, bosan, jenuh, itu datang menghampiri sebuah hubungan.”
“tetapi, dalam hidup kita selalu punya pilihan. apakah kita akan membiarkan masalah itu bertambah besar atau memilih untuk memaafkan dan bertahan.”
“namun, perkara bertahan, bukan berarti kita bebas melukai diri dengan mempertahankan hubungan yang tidak benar-benar beri arti. kita tetap harus memiliki alasan yang jelas dan kuat, untuk apa, kita mempertahankan hubungan itu dengan seluruh tenaga.”
“pada intinya, setiap hubungan membutuhkan alasan untuk bertahan.” bu dewi memandang naya dan calvin bergantian. “dan sekarang saya telah kehilangan alasan saya untuk bertahan, pak, bu.”
****
idk what i write. lagi mandi terus tiba tiba kepikiran ini hahaha. btw aku bukan anak hukum bukan pengacara. buta soal perceraian. so cmiiw guys
KAMU SEDANG MEMBACA
harta tahta eska. (on going)
Fanfictionft straykids. oneshot straykids eskalokal. (mostly calvin antares) AU ; lowercase 2020, seobarbie eskalokal.
