Bismillahirrahmanirrahim
Semoga Allah mudahkan segala hal.
***
"Raileen, Mama pulang!"
Gadis kecil yang dipanggil namanya terlonjak. Ia bangkit dari tidur dan bergegas keluar kamar, menuruni tangga. Tak henti bibir mungilnya mengeluarkan seruan bahagia. Cengiran lebar ia tunjukkan.
Dalam jarak sepuluh langkah menuju Mama, ia meloncat-loncat kegirangan. Sementara itu, Mama membuka kedua tangan, menunggu gadisnya itu menghambur ke pelukan.
"Asik! Raileen kangen Mama," ucap gadis kecil itu sambil memeluk Mama. "Mama beliin Raileen apa?"
Mama menuntun gadis kecilnya agar duduk di kursi. Ia mulai mengeluarkan barang yang tadi dibelinya. Kemudian, menunjukkan satu kotak keju. Wanita dengan wajah mulai muncul kerutan itu tersenyum manis.
"Mama beliin Raileen keju."
Pelukan hangat kembali diberikan. Pipi gadis kecil itu dikecup berulang kali oleh Mama, sebagai isyarat betapa sayang pada putri sulungnya.
***
Raileen terengah. Ia menyentuh dadanya yang terasa sesak. Gadis itu mendongak sambil memejamkan mata. Tulang-tulang pada tubuhnya tak sanggup lagi menopang, ia terduduk lemas.
"Sekarang Mama mana?" Pipi halusnya telah basah oleh air mata.
Ia memaksa membuka mata, menatap bingkai foto pernikahan. Di sana, wajah cantik mamanya tersenyum. Pundaknya direngkuh seseorang yang kini berada di hadapan Raileen.
Gadis itu menggeleng, masih tak percaya dengan yang tadi dirinya dengar. Ia merangkak, mencoba mendekati laki-laki tua di atas kursi roda.
"Sekarang mama saya di mana?" tanya Raileen dengan nada sedikit tinggi. Mata penuh linang itu menyorot Hala, laki-laki yang sedari tadi hanya berdiam diri. "Mana mama saya, Hala?"
"Setelah kecelakaan itu—"
"Saya tidak ingin mendengar apa pun selain di mana Mama sekarang!"
Tadi selepas mereka berbincang kecil, Papa Hala meminta agar gadis itu mengikuti mereka. Berkeliling, mengunjungi satu per satu ruang dan berakhir di dalam sebuah kamar penuh bingkai.
Di bingkai itu terdapat wajah Mama dengan berbagai pose. Di sana, Mama terlihat bahagia. Ada banyak tanya terpatri dalam pikiran Raileen. Kemudian menemukan jawaban, mereka pernah menikah, tepat empat tahun silam.
"Raileen, saat itu kami menikah baru dua tahun. Di akhir pekan, kami memutuskan untuk berkeliling kota, dan berkunjung ke panti tempat kamu tinggal."
Raileen diam, memberi kesempatan agar laki-laki tua itu melanjutkan cerita.
"Namun, takdir-Nya memang tak pernah bisa diduga. Kami mengalami kecelakaan tunggal, menabrak bahu jalan. Kamu lihat? Luka itu masih membekas. Bukan hanya di kedua kaki yang kini lumpuh, tetapi juga di sini, hatiku."
Laki-laki itu mendengkus, mencoba menormalkan suara yang sedikit serak. Suasana dalam ruangan 6 × 6 m² itu lengang. Mereka terdiam, merasakan begitu banyak kesedihan.
Ada jeda cukup panjang. Laki-laki itu tak sanggup untuk melanjutkan cerita. Tangisnya luruh, mulai deras mengalir di pipi penuh kerutan itu.
"Sekarang Mama di mana, Om? Mama baik-baik aja, kan? Raileen mau nunjukin piala dan sertifikat juara. Selama ini Raileen selalu menang perlombaan. Selalu berusaha agar nanti ketika ketemu Mama, dia bahagia dan bangga."
Tenggorokannya tersekat. Ia beringsut, memeluk kedua kaki laki-laki itu. Matanya menatap nanar lalu bibirnya kembali bergetar, mengucapkan suatu hal.
"Om, tolong ... Raileen mau ketemu Mama."
Hala yang sedari tadi terpaku, kini bangkit. Ia menarik pelan Raileen. Meski sempat memberontak, ia berhasil membuat gadis itu kembali duduk di kursi.
Mata Hala memerah, menahan tangis. Ia menatap Raileen lembut lalu menarik kepala gadis itu dalam dekapan. Dikecupnya berulang kali rambut Raileen.
"Tolong dengarkan saya, Raileen. Apa pun nanti yang kamu ketahui, berjanjilah untuk tetap hidup tanpa membenci kami. Karena ... saya dan Papa tidak pernah menginginkan hal ini terjadi."
Mereka keluar dari ruangan. Berjalan perlahan dan terdiam sejenak di ambang pintu. Hala kembali mendorong kursi roda, memimpin jalan.
Halaman depan rumah itu kembali Raileen injak. Ia mengikuti ke mana Hala menuntun mereka. Kemudian, langkahnya tertahan ketika Hala berhenti di dekat pusara.
Langit yang semula cerah berubah menjadi mendung. Angin telah membawa awan menutupi sinar mentari. Perlahan, udara terlihat semakin kelam.
Raileen luruh bersamaan dengan hujan yang jatuh di atas sana. Terlalu deras, hingga orang-orang tidak mengetahui seberapa kencang Raileen menjerit kesakitan. Ia memeluk tanah pusara, tergugu dengan hati pilu.
***
Alhamdulillah
Terima kasih sudah membaca.
Sukses selalu, Orang hebat.
Spread love,
Sugi 💖
YOU ARE READING
HELLO, TETANGGA KOS! ✓ | TELAH TERBIT |
Teen Fiction1st Runner up novelet CMG *** "Kamu mungkin tidak akan mempercayainya. Namun, apa yang saya sampaikan adalah kenyataan yang ada. Ayahmu, dia menghamili darah dagingnya sendiri." Raileen tidak tahu sesakit apa hatinya ketika mendengar kalimat itu...
