"Why? ( slowed vers )"
- Bazzi -
music on
-----------------------------
"Kenapa aku kalau udah ngeliat kamu, bawaan nya sedih karena saking sayangnya dan takut kehilangan kamu"
. . .
Sekarang sudah jam 7 malam. Hendery ada didepan rumah Xiaojun, baru nyampe dan lagi rapihin rambutnya.
Dengan setelah jaket polos hitam dengan kaos putih didalam nya, ditambah celana jeans gelap dan sandal joger hitam yang membuat style Hendery terkesan simple tapi berdamage.
Dia ngelangkahin kakinya naik ke atas teras rumah Xiaojun, dan jarinya bersiap untuk ngetuk pintu sambil hatinya ngoceh.
"Semoga yang buka pintu Xiaojun, amin"
Setelah meyakinkan diri, dia mengetuk pintu rumah Xiaojun beberapa kali. Serasa mau lamaran aja ya pake yakinin diri segala nih si Dery wkwk.
"Siapa?"
Sautan Xiaojun dari dalam rumahnya. Ujung bibir Hendery spontan terangkat menciptakan sebuah senyuman tulus yang manis diwajah seorang Hendery Puthra Erlangga.
Pintu terbuka. Hendery masih bertahan berdiri didepan pintu itu dengan senyum yang masih tercetak dan tangan yang setia memegang sebuah kotak berbentuk persegi yang disiapkannya sebelum menemui Xiaojun.
"Hendery? Ngapain kesini?" tanya Xiaojun bingung.
"Hehe halo sayangnya aku" jawab Hendery dengan kekehan.
"Apasih, iya halo" jawab Xiaojun agak seneng tapi masih cuek responnya.
"Alah masih ngambek?" tanya Hendery mengelus pelan surai rambut Xiaojun.
"Ga ada yang ngambek tuh" respon Xiaojun.
"Yang bener? Ninginingining.. Pacarku masih ngambek nih keliatannya" canda Hendery sambil miring miringin kepalanya ke kanan kiri.
"Ih ga ya Der, ga ada yang ngambek" jawab Xiaojun seperti sedang menahan salting.
"HAHAHA YAAMPUN GEMES BANGET DAH" respon Hendery sambil tertawa lepas karena saking gemesnya sama Xiaojun.
"Maaf ya maaf" jawabnya lagi.
"Hm" deham Xiaojun singkat.
"Ah ini ga dimaafin nih kayanya" canda Hendery.
"Dimaafin" jawab Xiaojun cepet.
"Ouw beneran apa ga nih? Duh duh sini liatin dulu mana mata genitnya? Eaa hahaha" ucap Hendery yang seneng banget jailin Xiaojun.
"Iya beneran Dery" jawab Xiaojun penuh penekan sampai Hendery gakuat nahan gemes nya nih.
"Haha oke yudah iya deh. Oh iya nih, aku ada sesuatu buat kamu" kata Hendery sambil ngelus kepala Xiaojun sekilas kemudian nunduk ngeliat kotaknya.
"Buat aku?" tanya Xiaojun.
"Iya sayang. Maaf ya seharian ini aku ga ngabarin kamu, ga memulai percakapan duluan. Tapi percayalah, aku selalu menunggu chat darimu wahai pujaan hati" kata Hendery yang sempet sempet nya ngepuisi diakhir, Xiaojun lagi senyum senyum salting kan nih jadinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Truth Or Dear
Jugendliteratur"Kalau petikan gitar itu bisa lu denger, kapan lu bisa denger isi hati gua, Xiaojun? Tapi ga mungkin bisa sih didenger.." gumam nya pelan. Kisah cinta masa SMA seorang Hendery yang penuh lika-liku bersama sahabat kecilnya, Xiaojun. Berawal dari seb...
