Nggak nyangka, nasib perasaan aku sama kandasnya seperti nasib nilai mata pelajaran eksak aku.
Baru saja mataku terbelalak saat melihat nilai Fisika yang dibagikan. 25. Seperempat. Sebegitu begonya ya aku sampai cuma dapat nilai segini? Kalau bisa dibilang, ini sih cuma nilai apresiasi nulis aja.
"Lagian, kalau nyontek Tasha pake kacamata dong, Lam. Kan urang udah bilang. Ayo, kalau mau periksa mata," Kanya menyenggolku yang sedari dibagikan hasil ulangan tadi cuma tercenung diam.
Kulirik lagi kertas ulangan yang Kanya pegang. 70. Pas, sih. Pas lulus KKM. Dan seenggaknya nggak seperempat banget.
"Lam, udah aja atuh beli selusin Dunkin buat si Ibu," bisik Kimmy dari belakang.
Sontak aku dan Kanya langsung menoleh ke belakang. Menatap Kimmy heran. Ini anak antara nekad atau bodoh sih, ngomongin guru yang jelas-jelas masih berdiri di depan sana.
"Timmy bilang, anak kelas sebelas pernah kasih bocoran. Kalau mau cepat lulus remedial, bawain Dunkin aja. Si Ibu sukanya yang keju sama abon," jelas Kimmy lagi.
Di samping, Tasha cuma bisa geleng-geleng kepala.
Tapi memang konon katanya begitu, sih. Beberapa guru di sini biasa terima bingkisan untuk memuluskan nilai-nilai anak didiknya. Istilahnya mengatrol. Malah pernah katanya ada guru yang cara katrolnya ilegal.
Eh, tapi katrol sendiri kan sudah ilegal, apalagi yang ilegal dari ilegal? Ibarat anak dari hubungan gelapnya dua ekor babi. Ah, tapi ini sih paling rumor bikinan anak-anak yang sakit hati karena nilainya jelek saja.
"Udah, nanti sebelum remedial, kita belajar bareng lagi aja. Harusnya, soalnya mirip-mirip, cuma dibedain angka sama variabel yang ditanyanya," jelas Tasha sambil membenahi ikatan rambutnya.
"Asli, Tash. Buat urang, dibedain nama subjeknya aja udah pusing, apalagi angka sama variabel," balasku pesimis merenungi nasib.
"Udah lah, lagian juga maneh mau masuk IPS, bukan? Nggak jago Fisika juga nggak pa-pa. Nilai Bahasa Inggris maneh yang penting terbaik di kelas ini," kata Kanya berusaha mengembalikan semangatku lagi.
"Nggak harus jago tapi kalau seperempat banget juga nggak akan naik kelas dong, Nya," balasku.
"Udah, tenang. Pokoknya kalau nurut kata Timmy, dijamin lulus remedial," sahut Kimmy lagi, masih bersikeras.
"Heh! Kalian teh, gararosip gararosip terus. Mau jadi pembawa acara Silet? Sini, kamu, Kimmy, maju jelasin jawaban soal nomor 5!" gertak guru Fisika ini menyudahi rumpi kami begitu saja.
"Dunkin selusin sekarang berapa, sih?" tanyaku pada Kanya sesaat setelah Kimmy bangkit dari kursinya. Kanya cuma geleng-geleng kepala.
🙄
Karena nilai seperempat, rusak susu sebelanga.
Begitulah kira-kira kujalani sisa hari setelah menerima hasil ulangan Fisika. Ulangan remedialnya bakal diadakan besok sepulang sekolah. Dan detik ini kepalaku rasanya berat banget. Mungkin karena beban yang dirasa.
Gak terbayang apa jadinya kalau aku sampai betulan masuk IPA cuma karena gengsi. Setiap hari aku harus bersahabat untuk lihat angka seperempat ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
High School Uncut (Completed)
Romantik15 tahun berlalu setelah masa SMA-nya, Nilam Anjani berpikir mungkin memang semua ini cukup dikubur, nggak perlu ada yang tahu. Sampai satu hari novel lawas yang ia buat karena kejadian besar di masa sekolahnya itu naik ke layar lebar, menariknya k...
