5: THE UNPREDICTABLE

118 17 0
                                        

“UDAH GILA YA, KALIAN?!”

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

“UDAH GILA YA, KALIAN?!”

Suara itu muncul di saat Klaris sedang bergerak hendak kembali memotong rokku di sisi belakang. Entah sudah sependek apa rok yang kukenakan siang itu akibat ulahnya. Saat aku mendongak, aku melihat Banyu berdiri di sana. Dengan matanya yang penuh amarah.

"KAMU NGAPAIN SIH GINI-GINIAN?!" tukas Banyu menghampiri Klaris dengan wajah murka.

Seketika aku dilepaskan oleh empat senior bajingan ini. Dan aku masih tertegun menatap Banyu yang detik ini ribut sama Klaris, di saat tiba-tiba kerumunan mulai menghampiri kami. Dari anak-anak basket yang sedang latihan di lapangan sana.

Aku yang begitu benci jadi pusat perhatian, makin benci ketika sadar bahwa mereka sedang memandangku detik ini. Dengan rok sobek-sobek bekas guntingan keji barusan, dan kerumunan yang mendadak rame, aku nggak tahu apa yang aku rasakan detik itu.

Kacau. Ribut. Kisruh.

Lebih kacau lagi saat menyadari Banyu nggak cukup peka untuk tahu bahwa aku cuma butuh dibawa pergi dari sana detik ini. Aku nggak butuh Banyu ribut dan ngegas Klaris dan gengnya.

Aku benar-benar cuma butuh menghilang sekarang.

Dan di saat itulah tiba-tiba aku merasakan seseorang bergerak mengaitkan jaket di sekeliling rokku. Nggak lama kemudian sosok itu menggandengku dengan cepat, menjauh dari kerumunan.

Sosok yang sayangnya bukan Banyu.

💥

Butuh waktu lama banget bagiku untuk kembali ke kesadaran sepenuhnya. Dan selama itu juga aku cuma duduk diam, di dalam mobil yang begitu asing buatku ini.

Si empunya mobil membiarkan mesin dan AC-nya menyala sementara dia menunggu di luar sana. Ngobrol sama Babeh.

Aku nggak ngerti perasaan yang dominan sekarang apa. Marah, malu, kecewa, sedih, murka, semua campur jadi satu. Itu sebabnya aku belum berkutik banyak.

Padahal, kalau detik ini aku ambil hp dan hubungi Saka atau Saga, bisa habis cewek-cewek bajingan barusan.

Tapi bahkan untuk memberi tahu apa yang terjadi padaku ke tiga temanku yang sudah balik duluan saja, aku nggak mampu. Jangankan untuk bisa merangkai kata-kata di SMS, untuk membayangkan kalau kejadian barusan baru saja menimpaku, rasanya masih sangat aneh.

Setelah sekitar setengah jam lebih, seseorang mengetuk kaca mobil ini. Sebenarnya sudah beberapa kali sejak tadi. Namun baru sekarang aku bisa bergerak membukanya.

"Nih, kali aja kamu haus," kata orang ini singkat sambil menyerahkan sebotol air mineral padaku lewat kaca yang terbuka sedikit. Si pemilik mobil ini.

Dengan ragu, aku mengambilnya.

"Can I—just, well—actually, just—take your time," ucapnya lagi, memilih tak lanjut berkata padahal ia belum selesai menuntaskan kalimat awalnya.

High School Uncut (Completed)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang