15 tahun berlalu setelah masa SMA-nya, Nilam Anjani berpikir mungkin memang semua ini cukup dikubur, nggak perlu ada yang tahu.
Sampai satu hari novel lawas yang ia buat karena kejadian besar di masa sekolahnya itu naik ke layar lebar, menariknya k...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Orang pertama yang ingin aku temui setelah ujian Matematika adalah Banyu. Orang pertama yang ingin aku kabari bahwa aku bisa menjawab soal-soal barusan dengan lebih lancar, tanpa harus menunggu contekan Tasha adalah dia.
Matematika jadi pelajaran eksak terakhir di jadwal ujian anak kelas sepuluh. Sisa Biologi dan Bahasa Inggris yang harusnya sih nggak sesulit yang lain bagiku.
Aku sampai rela menunggu anak-anak kelas dua belas bubar cuma demi mengabarkan langsung pada Banyu. Orang yang sudah menolongku selama dua minggu ini secara begitu intens.
Aku sedang berdiri di dekat ruang try out Banyu ketika tiba-tiba seseorang menepuk dari belakang.
"How's the exam?" Kaleb rupanya. Cowok itu menjinjing ranselnya di pundak, menyambutku, dan tersenyum lebar.
"Such a news," ucap Kaleb lagi, "Should we celebrate it?" tanyanya.
Aku menoleh ke dalam ruang kelas Banyu. Banyu tampak baru beres dan berjalan mengumpulkan kertas try out-nya ke pengawas.
"Well-" jawabku gantung.
"Come on," tukas Kaleb, "Kamu tuh sudah kerja keras banget tau, dua minggu ini, Nilam. Let's just chill a bit," kata cowok ini. "Nonton? Coffee? Ramen? Anything?"
Belum sempat aku menjawab, Kaleb tiba-tiba melambaikan tangan pada seseorang di belakang. Saat aku berbalik, Banyu sedang berjalan menghampiri kami berdua.
Sebentar, barusan Banyu melambaikan tangan ke Kaleb? Atau sebaliknya?
"Gimana?" tanya Banyu pendek padaku seolah mengabaikan kehadiran Kaleb sesaat.
Aku yang masih bingung, mengacungkan dua ibu jari dengan senyuman lebar di wajah.
"Serius?" wajah Banyu yang tadi kelihatan masih ruwet berubah ikut berseri. "Beneran bisa?" tanyanya lagi.
"Oh, come on, guys," tiba-tiba Kaleb berdiri di antara kami berdua, merangkul pundakku dan juga pundak Banyu begitu saja. "Let's just celebrate it," ulangnya lagi.
Jujur, detik itu aku kaget.
Satu, aku nggak tahu akan terjadi apa setelah adegan kayak gini di depan koridor ruang ujian anak kelas dua belas. Kedua, aku nggak pernah tahu kalau Banyu dan Kaleb saling kenal begini. Selama ini, aku cuma tahu Kaleb selalu memandang Banyu sebagai sosok yang ada di pihak berseberangan karena menyembunyikan banyak kejadian buruk di sini.