15 tahun berlalu setelah masa SMA-nya, Nilam Anjani berpikir mungkin memang semua ini cukup dikubur, nggak perlu ada yang tahu.
Sampai satu hari novel lawas yang ia buat karena kejadian besar di masa sekolahnya itu naik ke layar lebar, menariknya k...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Berakhirnya acara itu seolah jadi akhir juga untuk semua harapanku. Dengan seorang Banyu. Kayaknya, memang sindrom kepanitiaan saja, sih. Karena sering ketemu, sering menghabiskan waktu bareng, perasaan suka itu muncul. Mungkin hanya sementara.
Aku harap perasaan suka sekaligus kecewa ini bakal hilang seiring waktu. Dan seiring upayaku buat nggak terlalu sering ketemu sama Banyu.
Termasuk saat jam ekskul.
Sudah beberapa kali aku cari-cari alasan buat bolos ekskul. Bahkan, aku kepikiran untuk udahan aja. Nggak lanjut lagi. Toh, aku juga sadar bahwa passion-ku mungkin bukan di musik.
Sudah kerja keras belajar gitar, nyatanya aku nggak kunjung menguasainya. Jangankan memainkan partitur yang sering diedarkan saat latihan, mengingat kunci-kuncinya saja susah banget.
"Duh, lagian maneh tuh kalau ngajak main jangan pas hari ekskul, dong. Sekarang kan urang mau latihan cheers. Tasha mau les. Kimmy, ya udah nggak usah ditanya lah, ya," ucap Kanya kesal sendiri. "Lagian, mau sampai kapan sih, maneh bolos ekskul?"
Aku menghela napas sambil mengayun-ayunkan kaki. Kami sedang duduk di bangku depan koridor kelas sesaat beres jam pelajaran, jeda sebelum ekskul masing-masing dimulai.
"Nggak akan lanjut lagi kayaknya," jawabku malas.
"Lah, karena si Kang—" buru-buru Kanya menahan omongannya sendiri, "Karena dia doang?" tanyanya lagi dengan suara pelan.
Aku menggeleng. "Nggak sih," jawabku, "Kayaknya emang urang juga nggak bakat aja di musik. Urang pikir ya, karena Mas Saga jago main gitar, terus urang juga. Tahunya nggak."
Kanya kehabisan kata-kata.
Dia tahu masalahnya bukan cuma soal aku yang nggak kunjung bisa menghafal kunci gitar, melainkan lebih ke dengan siapa aku bakal ketemu di sanggar musik itu.
"Ya udah, urang cabut dulu, ya. Kabarin aja, kali aja maneh juga beres cepat," pamitku sambil meraih tas dan beranjak dari sana. Meninggalkan Kanya yang cuma bisa tercenung heran.
Sejenak aku menoleh ke lorong menuju sanggar musik itu.
Termenung dan entah apa yang kuharap bisa aku temukan saat melihat ke arah sana. Banyu yang tiba-tiba menghampiri dan bertanya ke mana saja aku nggak pernah nongol ke sanggar?
Nggak, lah.
Aku juga tahu, jangan pernah berusaha hilang cuma buat dicari, bukan? Apalagi oleh sosok nice guy seperti Banyu.
Buat apa?
🍃
Masih jauh dari jam 3. Kalau aku balik cepat sekarang pasti ditanya sama ibu.
Bagaimana nasib ekskulku, kenapa sudah cabut padahal tampil pun belum, dan tetek-bengek lainnya. Seperti yang selama ini sering terjadi padaku.
Nasib punya kakak-kakak yang kehidupan sekolahnya seolah lancar banget. Populer, berprestasi, selalu tahu apa yang mereka mau. Sedang aku, bahkan nggak tahu apa yang aku mau detik ini.