RS

9 6 6
                                        

04:00

Pagi buta sekali Misya sudah terbangun, menetralkan pandangannya terhadap cahaya biru lampu yang menyorot, disisinya sudah ada seorang suster rapi dengan pakaiannya tengah mengganti cairan infus yang rupanya sudah habis

"pagi mbak" Misya menyahut bersikap hangat pada sang suster yang menjalankan pekerjaannya, dirinya bangga pada mereka yang rela bangun lebih awal dari manusia lain

"Pagi juga de Mi-sya, gimana keadaannya? sudah membaik?" tanya sang suster dengan senyum tulusnya seraya memanggil nama Misya setelah mencontek dari sebuah buku yang entah apa itu, Misya mengangguk ringan, hanya saja ada sedikit rasa pusing dikepalanya

tak lama sang suster berpamitan dan keluar dari ruang inap Misya, Misya mendudukan badannya sedikit demi sedikit, beberapa kali merenggangkan tubuhnya menggeliat

Misya beranjak dari Brangkarnya berniat mengintip Arsya dan Bunda rosa dipagi sebuta ini

"Apapun keadaannya kita bakal tetap tetanggaan" senyum ceria Misya sebelum membuka pintu kamar inapnya

seketika bau obat-obatan menyeruak diindra penciumannya, jelas tempat itu sangat berbeda tidak seperti dirumahnya sendiri yang setiap pagi sudah tercium bau masakan Bi Asih hingga sampai kekamarnya. Sangat berbeda

HUAMMMM
Misya menggeliat seraya menguapp, pagi cerahnya memang sedang berbeda namun dia harus tetap menikmati paginya dimanapun dan kapanpun, selang beberapa detik menguap Misya menghela nafas panjang dengan mata masih menyipit khas orang bangun tidur

kakinya mulai melangkah kearah kiri sebelum tubuhnya kaku ditempat dengan tangan masih dipinggang dan rambut yang acak acakan dirinya membeku. begitu beku setelah sosok didepannya menatap dengan dingin kearahnya seakan dari tatapannya saja sudah tergurat banyak pertanyaan

"A-Ar-sya" mulut Misya kelu seketika, rasanya secanggung ini karena Misya telah berbohong pada Arsya sedari malam

"pagi tetanggaa" ujar Misya dengan terkekeh sumbang berharap tatapan yang dingin itu mulai mencair, namun nihil Arsya masih enggan bersikap hangat sepagi ini.

Tanpa ucapan sepatahpun Arsya menarik tangan Misya memasuki Ruang inap dimana sedari awal Arsya melihat Misya keluar dari kamar itu, bahkan Arsya sudah berdiri sebelum Misya keluar kamar lalu menguap dengan gaya jeleknya tadi. Misya tidak menyadari itu

"Ar" Misya menyeimbangkan langkah besar cowo itu, Misya tau kini Arsya sedang dalam mode serius

"sejak kapan lo dirawat?" pertanyaan itu terlontar, Misya sudah memiliki jawaban atas itu, tapi tidak untuk hal membohongi Arsya. ia bingung

"ke-maren" Misya tertunduk, kini dirinya sudah duduk ditepi brangkar

"Kenapa bohong, lo kenapa gabilang?" darrr! sudah diduga sesuatu yang Misya tidak harapkan ditanyakan Arsya malah sudah harus dijawab sekarang

"MISYAA" Misya terperanjat kaget, matanya terpejam beberapa saat

"Liatt guee Misya!!" Bahkan dari suara Arsya saja Misya sudah yakin ada guratan kemarahan dimata cowo itu, pandangan yang awalnya menatap ubin ruangan kini perlahan menatap mata itu. wajah Arsya pucat pasi, apakah Arsyanya sakit??

Misya khawatir pada cowo itu sehingga tidak mengatakan perihal dirinya yang sakit, dia tau pasti Arsya akan sangat khawatir. ia tidak ingin membebani Arsya, berita sang Bunda Rosa sudah cukup membuat Arsya merasa frustasi. Sebab apapun yang terjadi pada Bundanya ataupun Misya kerap Arsya selalu merasa dirinyalah yang salah yang tidak bisa menjaga salah satunya. Karna ketulusan hati cowo itu Misya berbohong

"Mi-sya lagi sakit Ar, ja-ngan marahin gi-tu" Misya menatap dengan memohon matanya sudah sedari tadi berkaca-kaca saat mendapat teriakan dari Arsya, ia tidak marah pada cowo itu, dia tau Arsya begitu sangat khawatir pada dirinya

VUIGOSS [On Going] Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang