T W E N T Y - O N E

855 115 15
                                        











Cahaya matahari mulai masuk di celah jendela kamar renjun dan langsung tersorot di wajah putih pucatnya, mata nya terbuka menampilkan pupil merah menyalanya

Selanjutnya renjun bangun dari tempat tidurnya nya yang berukuran sangat luas itu sambil mengedipkan matanya beberapa kali saat sorot matahari itu, namun anehnya mengapa dia tidak merasa terbakar

Saat asik memikirkan sesuatu yang membuat otak nya bekerja lebih keras dari bawag terdengar suara teriakan adiknya yang membuat telinganya berdenging

Renjun pun cepat keluar menuju arah suara adiknya yang kelewat cempreng persis seperti bongsik -lumba lumba milik keluarga liviu-

"astaga dewa, apa yang terjadi? " renjun berjalan lunglai di tangga sambil berpegangan pada pembatas

"coba abang liat itu" chenle menunjuk pada sebuah ruangan yang tergenang air

"jenoo keluar kau" renjun berjalan kearah ruangan itu yang di ketahui tempat renjun melakukan kegiatan rutin setiap gerhana bulan

Tak ada jawaban akhirnya renjun membuka pintu itu, air pun kemudian menyembur keluar sampai membasahi setengah badannya dan chenle hanya tertawa melihat itu dan secara langsung mendapatkan tatalan tajam dari renjun

"yaa kenapa kau buka pintunya" ucap jeno dengan tubuh berwujud asli dari dirinya, sirip berwarna biru, ekor biru mengkilap dengan sisik yang berwarna biru namun lebih gelap, rambutnya berwarna putih, manik matanya sebiru dan seindah segitiga bermuda, tak lupa gigi taring khasnya yang terlihat mencuat saat dia terdiam

Renjun dan chenle terpana melihat keindahan dari sosok Liviu jan marcel tersebut, bahkan renjun tak berkedip sedikitpun sungguh terlalu indah untuk di lihat

Beberapa saat kemudian tubuh jeno berubah menjadi wujud manusia, dengan menggunakan pakaian khas kerajaan liviu

"aku tau aku tampan, tak usah sebegitu melihat nya bisa bisa matamu copot"

Plakkkk

Satu pukulan di terima jeno di bagian lengannya cukup kuat, membuat chenle tersadar seketika

"bukan itu, tapi kau membuat rumah ku banjir dasar siluman duyung. Jika kau ingin berendam lebih baik ke danau belakang"

Ucap Renjun dengan tampang sengitnya membuat jeno yang tadi sudah berencana agar tidak takut dengan sosok di depannya nya ini namun nihil, rencananya mendadak ia lupakan.

Kalau sudah begini ia tak berani berdebat, dia masih sayang nyawa nya

"maafkan aku"

"hmm, tapi cepat kuras air ini, sungguh mengganggu"

"tuhh dengar itu pangeran jan marcel"

Jeno kemudian segera membuang air yang menggenang disna, tidak susah baginya untuk menguras air di ruangan itu bahkan danau di belakang bisa dia kuras

Jeno mengangkat tangannya dan memutar mutar jari telunjuk nya sampai air itu membuat pusaran seperti angin puyuh, dirinya kemudian membuka pintu yang langsung terhubung ke danau belakang, lalu mengarahkan tangannya ke danau dan secara cepat air itu mengalir keluar mengikuti arah tangan jeno

Hanya dalam beberapa detik saja air didalam ruangan sudah bersih dan lantai juga menjadi kering bahkan terlihat lebih bersih di bandingkan sebelumnya

Setelah itu jeno masuk lagi kedalam rumah, dilihatnya renjun dan chenle sudah tidak ada di tempat kemudian jeno memilih bersiap siap untuk pergi kesekolah, sungguh jeno merindukan sekolahnya terutama sahabat gembulnya -haechan-


Mythic || Noren (Terbit)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang