ACHA
Gue membukakan pintu apartement dan terlihat Gavin yang berdiri di hadapan gue tersenyum lebar.
"Hai, Zi."sapa Gavin santai
"Hai."balas gue sambil mempersilahkan Gavin masuk
"Alhamdulillah jadi Zia yang baik hati bukan mbak-mbak jutek"ledeknya yang hanya gue timpali dengan cibiran
"Loh kok gak ada orang?"tanya Gavin terkejut saat menuju ruang tengah dan tidak menemukan siapapun
"Iya sebenernya gak ada kelas malem ini, tapi gue sengaja jebak lo dateng kesini."jawab Gue yang sontak membuat Gavin menoleh terkejut
Gue langsung tertawa kencang, "Bercanda elah. Muka lo serius amat. Lo takut gue apa-apain ya?"ledek gue
Gavin mendesis sebal, "Kebalik. Lo harusnya yang takut."balasnya
Gue terkekeh, "Jam lo kayaknya kecepetan 1 jam, anak-anak belum dateng. Naresh lagi ke bawah."jawab gue
Gavin langsung mengecek jam-nya dan menepuk jidatnya, "Astaga, gue lupa atur waktu."ucapnya merutuki kebodohannya
Gue tertawa pelan, "Emangnya lo habis darimana? Spore?"tanya Gue sambil menyodorkan 1 botol beer pada Gavin, "gratis nih birnya karena jadi peserta pertama yang datang."
Gavin nyengir dan mengambil botol bir yang gue berikan, "Iya. Biasa Ibu Negara minta dikawal."jawab Gavin dan menegak bir
"Lo anak simpenan pejabat ya?"tanya gue santai yang entah kenapa membuat Gavin tersedak
Gue yang terkejut melihat respon Gavin langsung mengambilkan tissue dan segelas air mineral, "Astaga, lo kenapa?"tanya gue sambil membantu Gavin membersihkan dirinya dari tumpahan beer
Gavin tertawa cukup kencang, "Lo nanya gak kira-kira sih. Gimana gue gak keselek?"
Gue nyengir.
Tepat saat itu pintu apartement terbuka dan melihatkan Aarven.
"Eh Gav, tumben udah dateng."sapa Aarven sambil menghampiri kami
"Iya nih gara-gara salah liat jam gue fikir telat taunya."jawabnya sambil tertawa
Tiba-tiba pintu kembali terbuka dan menampakkan Bara dan Shaka. Aarven langsung menyambut mereka.
Gue menepuk bahu Gavin pelan memberikan kode bahwa gue akan pergi dan membiarkan yang lain saling menyapa.
Gavin mengangguk dan tersenyum, namun tiba-tiba tangannya menahan lengan gue sebelum gue melangkah, "Nyokap gue bukan simpenan pejabat."bisiknya pelan
Gue mengerutkan kening sejenak, "Oh m---"ucap gue yang terpotong
"Tapi dia istri kedua walikota."lanjut Gavin yang kini sontak membuat gue langsung terbatuk-batuk.
Gavin terkekeh geli dan berjalan meninggalkan gue menyapa yang lain.
Sialan bales dendam.
ʘʘʘ
AARVEN
Jam menujukkan pukul 8 tepat saat kelas belajar di mulai, semua sudah di posisi masing-masing. Lagu up beat mengiringi proses belajar , sesekali terdengar umpatan kesal dari mulut di antara 6 orang tersebut, sesekali terdengar juga lelucon receh yang dilemparkan. Gue sesekali ikut tersenyum saat di antara mereka menggoda Acha untuk memberikan mereka kartu yang lebih baik.
Gue melirik sekilas pada Acha yang dengan lihainya memainkan kartu-kartu ditangannya.
Melihat Gavin, Lucas, Bara, Shaka, Wendy atau Sarah di kelas belajar selalu mengingatkan gue pada masa-masa menyenangkan sekaligus menyedihkan yang pernah gue dan Acha lalui. Bermain dari satu tempat ke tempat lain demi mengumpulkan uang. Tertawa bahagia saat mengetahui pada hari itu bisa mengumpulkan belasan juta. Menangis terisak saat mengetahui pada hari itu baru saja kehilangan jutaan.

KAMU SEDANG MEMBACA
UNFAIR
RomanceJika orang tuamu memberikan kasih sayang dan cinta, bukan berarti seluruh anak di dunia bisa mendapatkan kasih sayang dan cinta yang sama. Jika harimu selalu diisi dengan tawa dan canda, bukan berarti seluruh manusia di dunia bisa memiliki hari yang...