ACHA
Gue dan Oliv berjalan keluar dari pintu kedatangan bandara Syamsudin Noor Banjarmasin saat jam menunjukkan pukul 4 WITA. Terlihat dari kejauhan Levi yang berdiri dengan tatapan kosong menunggu gue dan Oliv.
"Vi--"panggil gue tepat saat sudah di hadapan Levi yang langsung tersadar dari lamunannya
"Eh. Hai."sapa Levi mencoba terlihat baik-baik saja
Oliv tersenyum dan menepuk bahu Levi pelan.
"Yaudah yuk langsung ke hotel aja. Kalian pasti capek."ujar Levi
Tiba-tiba seseorang menghampiri kami dan hendak mengambil alih bawaan gue dan Oliv.
"Kenalin Pak Rudi, sopir orang rumah."ujar Levi menjawab kekagetan gue dan Oliv
Gue dan Oliv beroh dan menyerahkan barang kami.
Pak Rudi berjalan di depan kami menuju parkiran dan berhenti di depan sebuah alphard berwarna hitam.
"Liv, lo duduk depan aja."ujar Levi
Gue menegak ludah. Gue tau bahwa Levi memang orang yang berkecupan, terlihat dari dia yang tinggal di apartement daerah jakarta selatan. Namun, gue tidak pernah tau bahwa Levi memang se-kaya ini.
"O--ke."jawab Oliv yang sepertinya cukup terkejut juga
Kami bertiga kini sudah berada di dalam mobil dalam hening. Terlihat Levi yang memandang ke arah luar jendela.
Gue mengenal Levi sudah hampir 3 tahun, gue hampir mengetahui seluruh permasalahan keluarganya. Ibunya meninggal saat ia berumur 12 tahun, bunuh diri. Ayahnya menikah lagi kurang dari 6 bulan setelah Ibunya meninggal dengan selingkuhannya. Sejak saat itu hubungan Levi dan Ayahnya memburuk dan semakin memburuk saat Ayahnya memutuskan untuk tinggal di Banjarmasin, kota istri barunya, meninggalkan Levi sendirian di Jakarta.
Kami bertiga masuk ke dalam sebuah kamar hotel yang cukup mewah.
"Ini ada 2 kamar."ujar Levi sambil menunjukkan 2 kamar yang ada di dalamnya, "kalian laper? pesen room service aja ya."ujar Levi
Gue dan Oliv saling berpandangan, "Vi, kita kesini bukan mau liburan. Dan lo gak perlu sibuk service kita."ujar gue
Levi tersenyum kecut, "Tapi kan gu--"
"Kalau tau kayak gini mendingan gue gak kesini."potong gue cepat
Levi terdiam sejenak, "Gue gak tau. Gue bingung banget harus gimana sekarang. Gue benci banget sama dia, ta--ta--pi gue--gue juga sekarang takut."ujar Levi lirih
Gue refleks berjalan mendekati Levi dan langsung menariknya ke dalam pelukan. Sedetik kemudian pertahanan yang mungkin sudah Levi lakukan sejak tadi pagi hancur juga. Ia langsung luruh dan terisak dalam pelukan gue yang disusul oleh pelukan Oliv juga.
"Lo ada kita sekarang. Jadi gak usah takut, bro."ujar Oliv
Levi terisak dalam pelukan gue dan Oliv.
ʘʘʘ
AARVEN
Gue kembali menegak kembali alkohol yang baru gue tuangkan ke dalam gelas dalam satu kali tegukan. Musik hingar-bingar menjadi latar belangkang malam ini. Gue gak mempedulikan fakta bahwa besok adalah hari senin, yang gue pedulikan hanyalah fakta bahwa Acha benar-benar pergi ke Banjarmasin.
Gue mengusap muka gue kasar, "Arrrgh. Shit!"umpat gue entah yang ke berapa kalinya
Gue kembali menatap ponsel gue yang tidak menampilkan satu pesanpun, gue kembali memandang pesan terakhir yang masuk dari Acha 6 jam yang lalu yang hanya mengabarkan bahwa ia sudah sampai di Banjarmasin.

KAMU SEDANG MEMBACA
UNFAIR
RomanceJika orang tuamu memberikan kasih sayang dan cinta, bukan berarti seluruh anak di dunia bisa mendapatkan kasih sayang dan cinta yang sama. Jika harimu selalu diisi dengan tawa dan canda, bukan berarti seluruh manusia di dunia bisa memiliki hari yang...