Berwisata di pegunungan asri sangatlah menyenangkan. Udara sejuk dan pemandangan indah akan menyegarkan pikiran. Terlebih bagiku yang memiliki keseharian di tengah riuhnya kota. Salah satu destinasi populer di Jawa Barat adalah Gunung Puntang. Lokasi wisata tersebut tidak jauh dari kota Bandung, wajar saja menarik minat banyak pecinta gunung untuk menjajalnya.
Meskipun belum pernah mencapai Puncak Mega yang digadang sebagai titik panorama terindah di sana, aku pernah beberapa kali mengunjungi lokasi perkemahan dan penginapan. Beberapa reruntuhan bangunan dapat ditemukan di area perkemahan. Konon itu adalah sisa-sisa dari rumah para petinggi Belanda. Reruntuhan terkenal adalah bekas radio dari masa kolonial, gedung Radio Malabar.
Mirip dengan gunung lain di Indonesia, Puntang lekat dengan kisah mistis. Hal tersebut tersebar dari mulut ke mulut para pengunjung. Salah satu kisah terkenal adalah penampakan khas perawakan orang Belanda yang sering dilihat para pendaki. Bukan hal aneh jika kita menoleh kembali sejarah di mana pernah terjadi pembantaian oleh tentara Jepang ketika melancarkan agresi militer di negeri kita. Gunung ini juga memiliki mitos seperti pada lokasi wisata Kolam Cinta akan membuat langgeng suatu hubungan dan dilarang mandi membelakangi Curug Siliwangi karena akan mendatangkan petaka bagi pelakunya. Aku tidak berkeinginan untuk membuktikan mitos tersebut, hanya tertarik untuk menikmati kekayaan alam Jawa Barat, namun entah mengapa para penunggu di sini mengusikku, atau mungkin mereka hanya ingin berkenalan dan menyatakan keberadaan.
Beberapa kejadian seram kualami ketika berkunjung ke gunung yang terkenal angker ini. Kala itu aku masih menduduki bangku Sekolah Menengah Pertama. Kali pertamaku mengunjungi Puntang. Aku mengikuti sebuah acara bersama anak-anak seusia. Kegiatan dilaksananakan selama dua hari satu malam. Tiba di Puntang pagi hari lalu mengikuti rangkaian acara dan beristirahat di malam hari. Panitia menyiapkan penginapan untuk kami tidur secara berkelompok. Kelompok terbagi dua menjadi kelompok lelaki dan kelompok perempuan. Di depan tempat kami menginap terdapat sebuah lapangan yang dipergunakan untuk berbagai kegiatan kami termasuk olahraga pagi.
Tidak ada hal aneh terjadi selama kegiatan berlangsung, namun ketika malam menyelimuti gunung, hal-hal ganjil mulai kualami. Aku sulit sekali tidur meskipun rekan-rekan sekelompok sudah pulas kemudian memutuskan untuk duduk bersender ke dinding penginapan dekat pintu. Sayup kudengar suara gaduh di luar penginapan. Semakin lama semakin kencang. Seperti suara beberapa anak kecil bermain sepak bola. Beberapa menit kemudian selain riuh tawa dan teriakan aku bahkan mendengar jelas bunyi bola ditendang-tendang. Masih mencoba berpikir positif, aku menyimpulkan bahwa itu adalah kelompok lelaki yang sulit tertidur dan memilih untuk bermain sepak bola saja. Sedang asyik berpikir seseorang menepuk bahuku. Aku memekik karena kaget lalu refleks menoleh. Kuhembuskan nafas lega karena kulihat temanku, Senny berdiri sembari mengucek mata menghilangkan kantuk.
"Kenapa, sen?"
"Mau minta temani ke toilet?"
"Oh, ayo."
Toilet berada tidak jauh dari penginapan sehingga kami harus ke luar dari tempat kami bermalam lalu berjalan sedikit ke arah belakang bangunan. Senny menggandeng tanganku, terlihat ketakutan. Wajar kami merasa takut karena rumor seram gunung ini sudah menjadi rahasia umum. Kubuka pintu, udara dingin seketika menyapu wajah. Setelah berada di luar kututup kembali pintu secara perlahan agar tidak mengganggu temanku yang lain karena malam begitu hening, suara apapun terdengar jelas di sini. Mulai suara hewan malam, serangga dan gemerisik daun sangat jelas di telingaku. Tidak, ini terlalu hening. Kulayangkan pandangan ke arah lapangan. Sepi, tidak ada seorang pun terlihat. Ke mana anak-anak yang kudengar sedang bermain bola beberapa detik lalu? Mustahil jika mereka bisa menghilang secepat itu.
Rasa ngeri merayapi. Aku diam membeku melihat lapangan kosong. Telingaku jelas sekali mendengar keriuhan tadi. Apa yang sebenarnya kudengar tadi? Senny menarik-narikku, sepertinya ia sudah tidak tahan ingin segera ke toilet. Dengan tubuh sedikit gemetar aku berjalan cepat bersama Senny. Setelah selesai mengantarnya, aku enggan untuk kembali ke penginapan. Kuajak Senny ke salah satu warung terdekat menjadikan lapar sebagai alasan. Senny menyetujui ideku, dia pun ingin membeli sesuatu untuk menghangatkan tubuh.
Warung itu sepi, hanya seorang Ibu tersenyum menyambut dan menanyai pesanan kami. Aku memesan mie instan sementara Senny memesan segelas teh manis hangat. Ibu tersebut menanyai kami dari mana, dengan siapa dan sedang dalam rangka apa ke Puntang. Aku dan Senny menjawab bergantian pertanyaan tersebut lalu kami pun berbasa basi menanyai beberapa hal pribadi seperti lama membuka warung dan lain sebagainya. Ketika seorang pendaki datang, Sang Ibu permisi meninggalkan kami untuk membuat pesanan. Senny terlihat diam saja memikirkan sesuatu. Aku yang sudah agak tenang tidak terlalu memikirkan hal ganjil di penginapan menanyakan apa yang sedang ia pikirkan. Selly pun menjawab pertanyaanku dengan berbisik.
"Tadi aku terbangun karena mendengar suara gaduh di luar dan tiba-tiba ingin buang air kecil. Beruntungnya aku karena kamu masih terbangun"
"Kamu mendengarnya, Sen?"
"Kamu juga?"
"Iya, aku sulit tidur dan memutuskan untuk duduk dekat pintu dan dari arah lapangan terdengar suara gaduh seperti beberapa orang bermain sepak bola."
"Aku juga, tapi mengapa lapangan itu sepi? Lalu apa yang kita dengar tadi?"
Aku dan Senny saling tatap dalam diam memahami bahwa yang kami dengar bukanlah suara manusia melainkan makhluk dari alam ghaib.
"Itu sudah biasa, neng. Tidak aneh. Biarkan saja, mereka hanya sedang melakukan aktivitas mereka."
Ibu pemilik warung ternyata mendengar percakapan kami dan merespon sembari tersenyum.
"Kalian di sini saja dulu sampai subuh, baru kembali ke penginapan. Tenangkan diri dulu."
Kami mengangguk menerima usulan ibu warung. Ibu tersebut menjelaskan banyak hal mengenai gunung Puntang membuat suasana lebih hangat dan menenangkan.
Ibu itu merupakan generasi ketiga yang mengelola warung. Kakek dan Neneknya menurunkan usaha kepada orang tuanya dan karena sudah terlalu tua maka Ibu ini menggantikan Ayah dan Ibu. Ia memiliki seorang suami yang kebetulan sedang mengambil beberapa perlengkapan warung di rumah dekat sini dan dua orang anak lelaki berusia lima belas dan tujuh belas tahun. Hal ghaib sering kali ia alami dan dengar namun selama tahu cara membawa diri hal tersebut tidak akan membuat celaka. Mereka hanya ingin diketahui keberadaanya. Dari percakapan ini pula aku mengetahui perihal masa lalu reruntuhan di sekitar area perkemahan dan Radio Malabar. Gedung radio yang dihancurkan oleh masyarakat sekitar bersama para pejuang kemerdekaan di Bandung Selatan dilandasi semangat Bandung Lautan Api.
Subuh pun menjelang. Setelah membayar pesanan, kami pamit dan kembali ke penginapan. Teman-teman lain masih terlelap. Kami memutuskan untuk tidak tidur dan mengobrol sembari menunggu kegiatan pagi. Acara hari ini berlangsung dengan baik. Kami tidak menceritakan kejadian semalam kepada siapa pun, khawatir mereka ketakutan. Rangkaian acara selesai, kami pulang ke kota Bandung menaiki mobil yang sudah disediakan. Dari kejadian ini aku mendapatkan pelajaran bahwa seringkali kecelakaan terjadi di gunung bukan karena makhluk ghaib tetapi karena manusia terlalu takut lalu menjadi sembrono ketika mereka mencoba untuk menyapa. Atau dengan sombong para manusia berlaku tidak sopan sehingga membuat marah penunggu gunung. Alam kita berbeda tetapi bisa saja sewaktu-waktu tanpa sengaja kita bersinggungan seperti apa yang aku dan Senny alami. Dalam hati aku bertekad untuk selalu sopan dalam bersikap, mencintai alam dan menjaga tempat di mana kita berada karena selalu ada sejarah di setiap lokasi.

KAMU SEDANG MEMBACA
ADA
HorrorAku tidak ingin melihat mereka, tapi aku tahu mereka ada. Bersiaplah, karena kisah ini mungkin akan kalian alami juga. BERDASARKAN KISAH NYATA