ADA

7 3 0
                                    

Keberadaan 'mereka' terkadang tidak kita sadari meskipun mereka sudah merelakan energi untuk mendeklarasikan eksistensinya. Pernahkah kalian mendengar bisikan samar ketika seorang diri? Atau hembusan angin meskipun tidak terlihat selembar daun pun bergoyang? Bagaimana dengan benda kecil yang menghilang secara misterius, misalnya, kunci kendaraan yang kita simpan di atas meja saat malam hari tetapi esok pagi secara ajaib ditemukan di dalam tas? Jika belum, mungkin kini saatnya kalian merasakan aura sekitar mulai berubah, lebih mencekam, lebih sepi, dan perlahan kengerian mulai menjalari, membuat bulu kuduk meremang. Bisa jadi ketika kalian membaca ini, 'mereka' berdiri di belakang atau menempel di samping kalian, ikut membaca dan ingin menyapa, merasa terpanggil.

Berkali-kali mereka menunjukkan keberadaannya padaku, sebagian besar dapat kuhiraukan lalu terlupakan tanpa membutuhkan usaha ekstra, tapi sebagian tidak bisa dihilangkan dari ingatan karena terlalu nyata jika harus disebut halusinasi dan terlalu sulit untuk dilogiskan menjadi fenomena alam. Seperti saat suatu malam pukul dua puluh dua aku menelepon teman di kursi pekarangan. Rumahku menghadap ke sebuah proyek pembangunan rumah susun, tetapi kala itu proyek pembangunan terhenti tanpa sebab meninggalkan gedung besar gelap tanpa manusia.

Saat asik mengobrol, dari sudut mataku terlihat sekelebat bayangan putih melintas ke dalam proyek yang gelap. Aku memicingkan mata ke arah tersebut, memastikan. Satu detik, dua detik tidak terlihat apa pun, mungkin aku salah lihat. Namun tepat ketika aku akan berpaling, bayangan putih tersebut melintas kembali, sebuah sosok mengambang berpakaian putih panjang ke luar dari dalam bangunan menuju ke arah rumah tetangga sebelah yang hanya berjarak sekitar seratus meter dari posisi dudukku. Tanpa perlu berpikir dua kali, aku membalikkan tubuh, masuk ke dalam rumah, mengakhiri obrolan lewat telepon. Mungkin di sudut mata kalian kini juga berkelebatan makhluk halus, hanya saja kalian tidak tahu.

Bukan hanya indra penglihatan saja, pendengaran pun tidak luput dari godaan 'mereka'. Kala itu Adzan Maghrib baru saja berkumandang, jalanan sepi. Aku tetap memutuskan untuk mengembalikan buku ke rumah teman. Jarak rumah kami tidak jauh, hanya saja harus melewati sebuah gang dengan lebar hanya setengah meter.

Aku berjalan pelan melewati jalan kecil tersebut, hingga sebuah nafas berat terdengar samar, menoleh sekilas, tidak ada siapa pun di sana. Kembali aku berjalan cepat dan suara nafas itu semakin terdengar kencang, aku mulai berlari, suara tersebut bahkan kini tepat di belakang kepalaku mengikuti setiap derap langkah hingga aku bertabrakan dengan temanku yang sedang menungguku di ujung gang. Suara itu pun menghilang.

Suara nafas belum seberapa seram. Suatu malam aku terbangun pukul dua dini hari karena haus. Baru saja hendak bangun dari kasur untuk mengambil segelas air, dari luar jendela kamar terdengar seorang wanita bersenandung. Awalnya pelan sekali, tetapi makin lama makin jelas, semakin lirih dan menyedihkan. Kuurungkan niat. Kubalutkanselimut tebal ke seluruh tubuh, dan mencoba tidur di tengah senandungnya. Hingga akhirnya aku pun tertidur. Coba tajamkan pendengaran, jangan-jangan sebenarnya ada makhluk tak terlihat sedang mendekatkan diri ke telinga kalian dan menyenandungkan sebuah lagu sendu.

Bahkan indera penciuman dapat memberikan efek ngeri berkali lipat. Aku pernah pulang tengah malam dari acara kumpul-kumpul suatu komunitas relawan. Setelah menyimpan motor di garasi, aku masuk ke dalam rumah. Semua penghuni telah terlelap jadi kukunci kembali pintu rumah perlahan agar tidak membangunkan keluargaku. Kuganti pakaian, menyimpan tas dan menuju kamar mandi.

Kamar mandiku terletak di belakang rumah sehingga aku harus melewati ruang makan dan gudang. Melewati gudang, aura sekeliling mulai aneh. Maju ke ruang makan semakin terasa mengerikan, tepat di pintu kamar mandi aroma melati menyeruak. Harumnya menyengat sekali. Aku tersadar tidak ada tanaman apapun di dekat sini. Tanpa berniat melongok ke dalam kamar mandi, aku berbalik dan membangunkan orang tuaku mengajak mereka untuk mengecek bersama ke kamar mandi. Ayah menemaniku. Tetapi anehnya, bau itu sudah menghilang. Bukankah seharusnya bau itu bertahan lama di udara lalu menghilang perlahan tidak kilat seperti ini? Coba baui sekeliling, berhati-hatilah jika aroma semerbak bunga atau bangkai yang tidak sedap tiba-tiba tercium. Itu tandanya mereka hadir.

Jika kalian berpikir akan aman karena semua itu tidak kalian rasakan, kalian salah. Benda mati di sekitar bisa jadi penghantar rasa takut dari mereka, seperti saat aku tertidur di malam hari dengan pintu terkunci dan kabel power radio tertancap pada saklar namun di pagi hari ketika bangun, kulihat kabel sudah terlepas, tidak tertancap lagi sementara pintu masih terkunci.

Lebih parah lagi aku pernah nyaris celaka ketika mengendarai motor di sebuah tikungan. Ban motor terasa bergoyang seperti kehilangan udara di dalamnya seketika. Hampir saja aku terjatuh karena sulit menstabilkan motor. Aku pun menepikan motorku, mengecek ban, ternyata tidak ada kebocoran, udara di dalamnya pun masih presisi, sempurna. Aku naik kembali ke atas motor, ingin segera tiba di rumah. Aneh sekali, ban itu tidak terasa bergoyang liar seperti sebelumnya. Esok sore aku baru tahu dari tanteku bahwa di tikungan itu sering kali terjadi kecelakaan tanpa sebab di malam tertentu. Untunglah aku masih dalam perlindungan Yang Maha Kuasa saat itu sehingga tidak sampai mengalami kecelakaan. Jadi, berhati-hatilah pada benda di sekitar, bisa jadi ada pergerakan tidak wajar dari benda-benda tersebut.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Aug 19, 2021 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

ADATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang