Selamat membaca
Hari ini tidak akan terulang dihari esok, maybe..
Aku menduduki sebuah cafe yang cukup terkenal, memesan coffe latte dan tteobokki. Ia melihat sekilas buku yang dibeli, sesudah itu Mita melihat orang dijalanan bergandeng dan tertawa, iri sekali.
Mita kangen Revo. Sangat rindu. Lebih rindu. Benci. Cin..
Akhh"Aku mau hubungin dia tapi ga berani, takut ganggu, kapan dia balik. Eh kok aku merinding sih kayak ada yang merhatiin, setan kali" monolog Mita.
Dia. Dia melihat Mita dari jauh bahkan tidak berani mendekat, ayolah yang gentle dikit gausah takut.
Keesokannya..
"MITAA" kaget Viya yang sukses membuat Mita terbangun dari lamunannya."Astaga, ganggu aja!" Kesal Mita.
"Lagian kamu ngelamunin siapa sih""Jadi gini..mau nanya menurut kamu kalo suka bertahan atau berhenti?"
"Bertahanlah bego, tapi tergantung situasi kamu nya tahan atau gak" balas Viya sambil menoel kepala Mita.
"Tapi kalo dia gak berkabar terus aku kangen boleh gak lelahnya?" Ucap Mita dengan tampang menyerah.
"Ini ceritanya Mita kangen Revo?" Goda Viya, pipi Mita langsung merah lucu sekali.
"Apaansih, mungkin ya mungkin tidak."
"Cinta emang rumit Mit, aku aja harus berusaha walaupun Mikel berusaha juga. Intinya kalo kamu cinta ya perjuangin, bertahan, beri perhatian, jangan gengsi dan kalo kamu udah gak tahan boleh kok dilepasin walaupun sulit. Karena cinta harus butuh pasangan yang sama-sama berusaha dalam mempertahankan, berbagi pikiran dan tau menyelesaikannya." Viya menjelaskan panjang lebar agar Mita mengerti.
"Begitu ya, makasih pakar cinta"
"Belum ahli tapi menuju ahli haha"Ucapan Viya membuat Mita berpikir benar juga, intinya sama-sama berusaha.
Biasanya Lizara nimbrung disini tapi hari ini tidak karena dia sakit, aduh Lizara bisa sakit juga namanya makhluk hidup.Terik matahari menyilaukan sekali, Mita ingin menutup hordeng di tempat duduknya saja. Sekilas ia melihat mahasiswa yang sibuk meneliti tanaman. Tunggu itu siapa kenapa dia tidak asing, Revo?
"Itu Revo? Kenapa dia disini, masa iya dia pindah kuliah, ah kali cuman mirip. Plis Mita kangen boleh tapi jangan ngayal." Mita berbeo sendiri.Dosen sudah memulai pelajaran, katanya bakal ada mahasiswa pindahan yang bakal milih matkul ini juga. Seharusnya dia jangan milih matkul ini, dosennya ribet nyinyir lagi. Walaupun Mita gak pernah dinyinyirin tapi tetap aja. Maklum udah tua makanya begitu, maafkan Mita yang berdosa ini.
"Permisi, pagi pak. Saya mahasiswa pindahan" ketuk mahasiswa itu.
"Pagi, silahkan masuk perkenalkan diri kamu."
Mita langsung melihat mahasiswa itu dan berharap dia. Sekujur tubuh Mita membeku, tidak percaya.
"MAHASISWA PINDAHAN?!" Teriak Mita membuat semua yang di dalam melihatnya.
Mahasiswa itu melihat Mita dengan senyuman yang tidak bisa dijelaskan."Eh maaf pak, saya cuman kaget" ucap Mita malu sekali. "Viyaa itu Revo bukan? Ini mimpi? Aku pengen nangis." Bisik Mita ke Viya.
"Kayaknya iya deh, kamu lagian teriak gitu banget, gasabaran."
"Viya pengen nangis boleh gak, kayaknya aku masih mimpi deh"
"Kagak beb, ini nyata. Jangan nangis sekarang, nanti aja waktu sama dia."
"Pagi, panggil aja saya Revo mahasiswa pindahan."
Revo si mahasiswa pindahan itu langsung duduk di belakang Mita. Sebelum melewati Mita ia melihat senyum yang tersirat sesuatu, mungkin.
Matkul hari ini terlihat sangat asik, entah karena itu atau itu.
"Mita, hai apa kabar?" Tepuk pelan dari belakang. Mita langsung menegang di tempat duduk.
"Mit? Masih ingat aku? Kok gak jawab" panggilnya sekali lagi.
"Ha-hai kenapa ya?" Balas Mita gugup. "Ini aku Revo"
"Iya tau, aku duluan ya." Mita langsung kabur, eh tapi kenapa dia harus lari..
"Hai Rev, gimana disana?" Sapa Viya yang hendak mengejar Mita.
"Lancar aja, Viya itu si Mita kenapa?"
"Mungkin dia kaget ada kamu, kejar aja terus. Duluan ya."Jangan lupa vote dan komen yaa><

KAMU SEDANG MEMBACA
Cinta Pandangan Kedua🖤 [SLOW UPDATE]
RomanceJatuh cinta? Mita tak pernah bercampur tangan dengan urusan itu, yang dia tahu hanya puisi puisi dan puisi. Sampai tiba saatnya mereka dipertemukan pandangan pertama dan bertatap lagi pada pandangan kedua dibawah gedung saat hujan. Tapi ada kesalah...