2

18 7 16
                                        

“Sama kamu ajalah.” Ujar Awan

“Haaa.” Kejut Asya

•••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••
Sudah 3 menit mereka diam,sampai awan memecah keheningan itu.

“Kayak keong racun deh kamu.” Ujar Awan

“Emang kamu pernah liat keong racun.” Ujar Asya

“Enggak sih. Terus gimana pernyataan aku” Tanya Awan

“Gimana apanya. Aku pulang dulu ya, mama aku kayaknya nyariin.”Ujar Asya

“Yaudah hati-hati.” Teriak Awan

Satu minggu kemudian, selama 1 minggu ini Asya berusaha tidak bertemu atau menghubungi Awan karena Asya bingung harus ngomong apa sama Awan. Toh Awan juga gak nyariin Asya. 2 bulan didesa banyak kebiasaan yang Asya alami, karena sering bertemunya gadis desa yang lemah lembut Asya jadi sedikit lemah lembut, Asya juga sedikit menjadi cewek yang sabar. Asya yang dulu suka ngegas sekarang sedikit irit bicara. Hari ini Asya kembali ke kota, tempat yang memang lingkungan Asya bermain dan bersekolah.

“Pa, kita bakal ke rumah itu lagi?” Tanya Asya

“Enggak sayang, kita bakal pindah didepan rumah tante Selvi.” Jawab mamanya Asya

“Jadi tetanggaan sama Maudy dong.” Ujar Asya

“Iya. Kamu lama kan gak ketemu dia.” Ujar papanya Asya

“Wihhh, ketemu tiap hari dong sama Maudy.” Ujar Asya

Sesampainya dirumah Asya terkejut melihat apa yang dilihatnya...

⬇️rumah Asya

⬇️yang di lihat asya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


⬇️yang di lihat asya

(Angep aja ngak ada yang mukul sama yang di pukul)

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

(Angep aja ngak ada yang mukul sama yang di pukul)

“Pa, Ma. mereka siapa kok dirumah kita?” Tanya Asya

“Papa sama Mama mungkin akan sering ninggalin kamu, maka dari itu Papa sama Mama sepakat untuk nyiapin sopir dan pembantu dirumah.” Jawab Papanya Asya

Senja Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang