6 bulan kemudian...
suara gelak tawa dari koridor lantai 3 VVIP rumah sakit terdengar renyah. Diluar gerimis tipis-tipis karena sudah memasuki musim dingin. Beberapa perawat terdengar seperti bernyanyi bersama dan ada suara gitar merdu yang tak asing. Wendy sedang mendapat jatah liburnya dan berniat mengajak ibunya makan siang bersama hari ini, setelah berlari kecil dari parkiran mobil ke lobby ia langsung menuju ruangan ibunya. Saat menuju ruangan ibunya Wendy terhenti di koridor lantai 3, ia sengaja tidak naik lift untuk menuju ruang ibunya yang berada di lantai 5 untu mengulur waktu karena ibunya masih ada pasien jadi ia menaiki eskalator. Tepat di ujung koridor lantai 3 dimana itu ruangan VVIP Wendy terhenti dengan suara petikan gitar yang tak asing baginya. Sudah lama ia tidak mendengar nada dan cara petikan orang itu. Dan suara tidak asing itu adalaha sahabatnya Seulgi yang menghilang selama enam bulan tanpa mengabarinya.
Sayup-sayup gelak tawa itu makin dekat, Wendy mendekati sebuah ruangan yang ia yakini bahwa suara itu berasal dari sana. Setelah berada di depan pintu ruangan itu Wendy makin yakin bahwa suara petikan gitar dan yang sedang bernyanyi itu adalah Seulgi. Ia mengintip dari balik kaca kecil pintu rumah sakit. Diantara para perawat yang mengelilingi Seulgi ia melihat sahabatnya itu dengan pakaian rumah sakit. Senyumnya pada perawat yang sedang bernyanyi dengannya menghangatkan hati Wendy tapi sekaligus membangunkan amarahnya, karena selama ini ia berpikir bahwa Seulgi pergi tanpa mengabarinya dan ternyata ia ada ditempat paling dekat dengannya. Kenapa sahabtnya itu ada dirumah sakit saat ini.
Lama termenung didepan pintu ruangan Seulgi seorang dokter menghampirinya. Itu adalah dokter park yang merupakan dokter yang merawat dan mengoperasi Seulgi. Karena mengenal Wendy ia menghampiri wanita itu dan menyapanya.
"hei Wendy? kamu anaknya dokter son bukan?"
"oh hallo dok. iya betul." Wendy menunduk dengan sopan membalas sapaan dokter Park.
"ohiya kamu kenapa cuma berdiri disini? mau masuk kebetulan saya mau memeriksa Seulgi." Ajak dokter Park ramah pada Wendy.
Wendy masuk keruangan itu setelah dokter Park, Semua perawat menyapa dokter Park dan begitupun Seulgi. Senyum Seulgi langsung berubah menjadi wajah kekagetan saat ia melihat Wendy yang masuk keruangannya setelah dokternya. Dan Wendy hanya memandang Seulgi dengan tatapan sayu penuh kerinduan pada sahabatnya itu. Dalam kepalanya menimbulkan banyak pertanyaannya.
***
Setelah Dokter selesai memeriksa Seulgi dan memberi penjelasan tentang keadaan Seulgi yang semakin membaik dilain sisi Wendy memerhatikan penjelasan dokter Park dengan seksama untuk memahami apa yang terjadi pada sahabatnya itu dan jika ada yang tidak ia mengerti ia langsung menanyakannya. Seulgi hanya tersenyum tipis melihat kekhawatiran sahabatnya itu karena ia juga merindukan bawelnya Wendy.
"So.." Wendy menatap Seulgi dengan tatapan yang tidak bisa diartikan setelah Dokter Park dan perawat meninggalkan ruangan Seulgi.
"Sorry." Seulgi hanya bisa menjawab dengan suara rendah, merasa bersalah karena tatapan Wendy saat ini.
"Kenapa kau hanya pergi dan tidak mengatakan apa-apa padaku? Apa Siwon Oppa mengetahuinya? mengetahui keadaanmu?" Seulgi hanya mengangguk tipis. "Jadi hanya aku yang tidak mengetahuinya?" Wendy sedikit kesal.
Pintu Ruangan Seulgi tiba-tiba terbuka. Dokter Son yang merupakan ibu Wendy langsung menghampiri Seulgi dan juga anaknya.
"eomma? you know this? why you never told me?" Wendy langsung menodong ibunya yang baru saja memasuki ruangan. Ibunya dan Seulgi saling bertatap dan Seulgi hanya menaikkan bahunya.
"maaf sayang. Bukannya eomma tidak ingin memberi tahumu tapi Seulgi meminta eomma untuk merahasiakannya."
"Kang Seulgi kau benar-benar sesuatu. Untuk apa merahasiakannya dariku? aku tak paham apa maumu?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Caramel Macchiato
ФанфикшнApa rasanya kopi? aku tidak tahu aku tidak pernah meminumnya. Tapi kenapa orang-orang begitu menyukainya. Setiap pagi mereka meminum minuman dengan aroma harum itu tapi dengan rasa yang pahit. Ya, aku memang pernah mencicipinya tapi aku tidak menyuk...
