4

413 54 2
                                    

Abigail tengah duduk di kursi balkon saat mendengar deru suara mobil yang datang mendekat. Gadis itu berdiri dengan cepat, berpegangan pada pagar pembatas seraya melongok ke bawah. Keningnya berkerut ketika menyadari bahwa yang ada di depan rumah bukan mobil Cesare. Dia tidak dapat melihat dengan jelas siapa yang datang dari tempatnya saat ini. Belum pernah ada yang berkunjung ke sini kecuali Cesare dan kendaraan yang membawa bahan makanan. Maka tidak heran jika rasa penasaran Abigail tergelitik.

Gadis itu berjalan cepat keluar kamar. Suara orang yang bercakap-cakap terdengar bahkan saat dia baru menginjakkan kaki pada anak tangga pertama. Suara wanita. Abigail mengenali salah satunya sebagai milik Luisa. Sedangkan yang satunya....

"Dia ada di sini." Suara itu bernada tinggi dan menuntut. Abigail tidak memiliki petunjuk siapa yang bicara dengan Luisa. Meski kedengarannya, Luisa tidak menyukai pengunjung wanita itu.

"Tidak ada siapa-siapa di sini. Bahkan Tuan Cesare jarang datang kemari." Abigail mendengar Luisa berkata. Walau berusaha terdengar tenang, Abigail mengenali perubahan pada suara wanita itu yang tampak lebih waspada. Seharusnya itu menjadi peringatan baginya. Namun dia tidak bisa membiarkan Luisa menghadapi wanita itu seorang diri. Dari tempatnya berdiri, dia dapat melihat bahwa wanita itu tidak sendiri. Setidaknya ada dua orang pria bertubuh besar yang ikut mendampingi.

"Ada apa, Luisa?"

Semua pandangan tertuju kepada Abigail saat gadis itu menuruni anak tangga. Dia dapat melihat Luisa yang mengatupkan rahang sambil mendelik kepadanya. Luisa marah karena Abigail menampakkan diri.

"Kau bilang tidak ada orang lain di sini?" Wanita yang berbicara dengan Luisa berkata penuh kemenangan. Dia adalah wanita paruh baya yang cantik. Dengan rambut cokelat gelap yang belum dihiasi uban, mata yang sama kelamnya, serta penampilan seperti sosialita papan atas. Penampilan anggun tersebut didukung oleh ekspresi wajah yang tampak mencela. Pengamatan wanita itu fokus kepada Abigail. Ada kebencian mendalam yang terlintas pada tatapan wanita itu kepadanya.

"Dia pelayan baru. Aku tidak bisa mengurus rumah besar ini sendirian. Kau sudah membereskan lantai atas?" Luisa mengedipkan mata dengan tidak kentara ke arah Abigail. Dia tidak mengerti mengapa Luisa tidak ingin wanita itu tahu mengenali identitasnya. Namun Abigail lebih memilih untuk mengikuti isyarat tersebut.

"Sudah." Gadis itu berkata singkat. Cengkeramannya pada pegangan tangga menunjukkan kecemasannya. Ada yang tidak beres di sini. Dia dapat menilainya dari sikap Luisa yang tampak waspada. Juga lirikan khawatir yang berkali-kali ditujukan ke arah Abigail.

"Cesare mempekerjakan pelayan orang Amerika?" Pertanyaan bernada skeptis itu terdengar mengejek. Wanita itu mengambil langkah mendekati Abigail.

Luisa membalikkan tubuh dengan cepat, menempatkan diri di antara Abigail dan wanita itu.

"Jangan ganggu dia." Luisa berkata tajam.

"Menyingkir dari hadapanku!" Wanita itu memberi perintah dengan geram. Luisa tidak bergerak dari tempatnya, masih menjadikan dirinya sebagai tameng bagi Abigail. "Kudengar gadis Moretti itu juga orang Amerika," lanjut wanita itu tanpa memedulikan sikap melindungi Luisa dan terus melangkah menuju Abigail. "Dia orangnya, kan? Pelacur Cesare. Adik dari pembunuh anakku."

Seketika Abigail memahami sikap Luisa yang sejak tadi berusaha melindunginya. Wanita itu.... Dia Gabriella De Santis. Ibu dari pria yang telah dibunuh Pietro.

Abigail merasakan tarikan di rambutnya ketika Gabriella menjambaknya dengan kasar. Secepat kilat, Luisa memberi pukulan pada tangan Gabriella hingga wanita itu melepas pegangannya sambil menjerit marah.

"Berani-beraninya kau!"   

"Aku diperintahkan untuk melindunginya."

Gabriella menyipitkan mata dengan geram, lalu memberi isyarat kepada dua orang pria yang sejak tadi hanya berdiri mengamati. Keduanya maju ke arah Luisa yang langsung memasang kuda-kuda. Abigail menatap perkelahian di hadapannya dengan ngeri. Dia tahu Luisa memiliki kemampuan bela diri yang sangat baik. Itulah alasan Cesare hanya meninggalkan Abigail dengan wanita itu, karena Luisa dapat berperan ganda selain sebagai pengurus rumah tangga.

Bound to YouTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang