Saat Abigail membuka mata, dia tidak mengira pria itu masih bersamanya. Pintu geser yang mengarah ke balkon, terbuka sebagian. Mengirim semilir angin pagi ke punggung telanjang gadis itu. Abigail beringsut duduk, menarik selimut hingga menutupi dada. Terdengar suara Cesare yang sedang bicara di balik tirai yang melambai. Gadis itu menjejakkan kaki di lantai, melilitkan selimut ke sekeliling tubuh dan berjalan menuju balkon. Cesare tengah bersandar di pagar pembatas. Mengenakan celana piyama yang menggantung rendah di pinggul, dengan sebatang rokok terselip di bibir dan ponsel menempel di telinga.
Cesare tidak langsung menyadari kehadiran gadis itu. Sibuk dengan lawan bicaranya di seberang jalur. Ujung selimut Abigail menyeret lantai dingin setiap kali langkahnya mendekati pria itu. Cesare baru mengalihkan pandangan pada Abigail saat gadis itu nyaris menjangkaunya. Kata-katanya terhenti sejenak, hingga lawan bicaranya harus memanggil pria itu berkali-kali. Cesare menghampiri Abigail, mencekal lengan gadis itu dan praktis menyeretnya kembali ke dalam kamar. Abigail masih dilanda kebingungan karena Cesare melakukannya sambil meneruskan percakapan di telepon. Pria itu mendorongnya masuk, kemudian menutup pintu geser dengan bunyi yang memekakkan telinga.
Abigail berjengit. Tidak mengerti alasan dia nyaris dilempar masuk. Dengan wajah bersungut-sungut, dia melangkah ke kamar mandi. Kakinya belum mencapai pintu saat dia mendengar pintu balkon kembali dibuka.
"Jangan keluar seperti itu. Anak buahku bisa melihatmu dengan jelas." Abigail dapat mendeteksi amarah samar dalam suara pria itu. Rokok Cesare masih menyala setengah saat pria itu melempar puntungnya pada lantai balkon dan menginjak hingga padam.
Abigail mengangkat bahu, memberi tanggapan tanpa kata. "You said you don't smoke in the morning." Gadis itu mengingatkan dengan heran.
Cesare melangkah masuk, menutup pintu balkon untuk menghalau angin. Sengaja melakukannya agar tidak perlu menatap Abigail saat menjawab. "Not always."
"Kenapa berubah?"
Abigail menangkap lirikan pria itu. Hanya sejenak. Hingga gadis itu tidak yakin bahwa Cesare benar-benar sempat melihat ke arahnya. "Tidak ada alasan khusus. Jangan dibahas lagi."
Lagi-lagi, dia harus membiarkan rasa ingin tahunya berlalu. Cesare adalah orang paling tertutup dan tidak terus terang yang pernah dia kenal. Abigail melanjutkan langkah ke kamar mandi, menanggalkan selimutnya di depan pintu. Saat itulah dia mendengar umpatan kasar. Gadis itu berjengit. Tidak mengerti alasan Cesare sering mengumpat akhir-akhir ini. Juga alasan tatapan tajam pria itu yang tertuju kepadanya.
Cesare mengambil langkah lebar untuk mencapainya, lalu dia merasakan lengannya lagi-lagi ditarik. Kali ini ke arah kamar mandi yang memang menjadi tujuannya.
"Apparently, smoking doesn't help."
Abigail mengerjapkan mata, kemudian mengerti seketika itu juga. Dia tidak dapat mencegah tawa kecil yang lolos dari bibirnya. Cesare tidak berkata-kata lagi dan menggiringnya masuk. Menutup pintu dengan agak terlalu kasar. Sekarang, Abigail tahu alasan Cesare merokok sepagi ini.
***
Ada sesuatu yang Cesare sembunyikan, meski Abigail tidak tahu apa. Karena, setiap kali gadis itu memergoki Cesare berbicara di telepon, dia selalu mendapati pria itu menjauh dari jangkauan pendengarannya. Meski Abigail tidak yakin masalah yang dihadapi Cesare berhubungan dengan dirinya, tapi satu hal yang jelas, pria itu tidak ingin Abigail tahu isi pembicaraannya. Cesare memang bukan tipe pria yang akan duduk dan mengobrol bersamanya. Tentang apa pun. Namun, saat berkali-kali mendapati bahwa pria itu menghindarkan Abigail dari topik tertentu, mau tidak mau, gadis itu tergoda untuk mencari tahu.
"Is everything okay?"
Cesare menerima handuk yang diulurkan Abigail dan mengelap keringat di seputar lehernya. Alis pria itu terangkat dengan tatapan ganjil ketika mendengar pertanyaan tersebut.

KAMU SEDANG MEMBACA
Bound to You
RomanceHidup Abigail Moretti berubah pada malam dia bertemu dengan Cesare De Santis. Dari seorang gadis yang selalu hidup dalam perlindungan, menjadi simpanan bos mafia musuh bebuyutan kakaknya sendiri. Namun, dia sudah bertekad. Perlakuan Cesare tidak ak...