"Tuan Cesare pergi ke Bogotá. Ada transaksi besar yang akan terjadi di sana. Transaksi yang cukup alot." Luisa meletakkan piring yang baru dia cuci ke mesin pengering. Meski perhatiannya tidak hanya terfokus pada Abigail, tapi bibirnya tidak berhenti bicara
"Apakah dia akan lama?" tanya Abigail penasaran.
"Tergantung." Luisa mengangkat bahu, menegakkan tubuh, lalu menghadap pada Abigail. "Masalahnya bukan berapa lama, meski Tuan Cesare sepertinya sudah bersiap jika transaksi itu menjadi lebih panjang. Atau mungkin tidak menemukan titik temu."
Abigail menelan ludah, kembali merasa cemas setelah kalimat Luisa. "Dia membawa senjatanya, kan?"
Wanita itu tergelak, menatap Abigail seakan gadis itu tengah melontarkan pertanyaan yang sangat konyol. "Always. Tuan Cesare juga tidak sendiri. Setidaknya selusin anak buah Tuan Cesare akan menemani. Kau tidak perlu mengkhawatirkan keselamatannya. Dia punya banyak cadangan nyawa, kalau kau ingin tahu pendapatku. Dewa Kematian selalu gagal untuk melaksanakan tugasnya bila menyangkut nyawa Tuan Cesare," canda Luisa.
"Apa luka di pelipisnya termasuk salah satu dari 'kegagalan' itu?" pancing Abigail. Dia berusaha membuat pertanyaannya seringan mungkin agar Luisa tidak curiga. Usahanya tidak mengecewakan.
"Ya. Tuan Cesare mendapat luka itu dari Tuan Diego, adiknya, saat sedang belajar menembak."
"Cesare punya adik?"
"Tadinya." Luisa tersenyum sedih. Abigail mengerti maksud dari senyum tersebut. Adik Cesare sudah meninggal. "Andai meleset beberapa milimeter saja, maka tembakan Tuan Diego pasti sudah melubangi kepala Tuan Cesare. Beruntung peluru tersebut hanya meninggalkan luka goresan," tutup Luisa. Tidak membuka ruang bagi Abigail untuk bertanya lebih jauh.
Abigail tidak berusaha mendesak. Dia tahu bahkan hanya dengan Luisa bercerita sejauh ini, wanita itu bisa mendapat masalah karena rasa ingin tahu Abigail. Meski, selama ini Luisa tidak keberatan membicarakan beberapa hal dengannya. Hal yang tidak akan Cesare bicarakan. Abigail menghela napas berat, duduk bertopang dagu pada meja makan yang kini telah bersih.
"Aku melihatmu dan Tuan Cesare tadi." Luisa ikut duduk di sebelahnya, menyipitkan mata dengan tampang bersekongkol. "Lain kali, kalau kalian akan berciuman sepanas itu, lakukan di dalam kamar. Kalian beruntung hanya ada aku di rumah ini yang akan melihat."
Wajah Abigail langsung berubah semerah rok yang dia kenakan. "Itu... tidak seperti kelihatannya. Dia marah kepadaku."
"Karena apa?" Luisa bertanya menyelidik. Abigail menundukkan kepala. Malu karena harus mengakui perbuatannya yang kekanak-kanakan.
"Aku bilang kalau aku hamil. Tapi aku tidak benar-benar hamil." Abigail menambahkan dengan terburu sebelum Luisa mengambil kesimpulan yang salah. "Aku mengatakannya hanya untuk menarik perhatian. Semua salahku."
"You shouldn't have done that." Kali ini, Luisa yang mengembuskan napas sambil menggelengkan kepala. "Tuan Cesare pernah kehilangan anak. Calon anak."
Bola mata abu-abu cerah Abigail membulat sempurna begitu mendengar kata-kata Luisa. Awalnya, dia mengira wanita itu tidak akan bercerita lebih banyak. Namun, tampaknya Luisa memutuskan bahwa Abigail berhak tahu.
"Tuan Cesare tidak selalu seperti ini. Maksudku, ada masa dia lebih sering tertawa daripada sekarang." Luisa memulai ceritanya, tersenyum melihat Abigail yang duduk lebih tegak dan menaruh perhatian kepadanya. "Jangan bilang kalau aku yang cerita. Lebih baik lagi kalau kau diam dan pura-pura tidak pernah mendengarnya."
Abigail mengangguk tanpa ragu. "I'll not tell him."
"Kau tahu kalau aku sudah melayani keluarga Tuan Cesare sejak dia masih kecil." Luisa duduk bersandar, melempar pandangan jauh seakan sedang mengenang masa lalu. "Aku yang pertama kali mengajari Tuan Cesare cara menembak dengan benar. Dia murid yang bersemangat. Yah... melihat latar belakang keluarga dan pekerjaan mereka, tidak heran kalau anak sekecil itu sudah diajari memegang senjata. Kau pasti mengerti. Kakakmu juga begitu, kan?"

KAMU SEDANG MEMBACA
Bound to You
RomanceHidup Abigail Moretti berubah pada malam dia bertemu dengan Cesare De Santis. Dari seorang gadis yang selalu hidup dalam perlindungan, menjadi simpanan bos mafia musuh bebuyutan kakaknya sendiri. Namun, dia sudah bertekad. Perlakuan Cesare tidak ak...