"Nona." sapaan dari koki rumah mengejutkan Pelangi yang sedang berjongkok di depan kulkas dengan pintu kulkas yang terbuka.
"Apa anda butuh sesuatu?" lanjutnya bertanya.
Pelangi menoleh dan mengangguk.
"Aku butuh air jahe hangat. perutku terasa sakit dan kram."
Pelangi berdiri dengan masih memegangi perut yang terasa semakin sakit akibat datang bulan rutin.
"Saya akan membuatkannya. lebih baik anda beristirahat saja, sebentar lagi tuan Mario akan kembali untuk makan siang."
'A..apa aku harus bagaimana, apa yang harus aku jawab ketika dia bertanya nanti, ya tuhan aku harus bagaimana?'
"Nona apa perlu saya beri tahu tuan Kenzo bahwa anda sakit?" ucapan sang koki membuat Pelangi tersadar dari lamunan.
"Si .. siapa?" Pelangi melihat perubahan raut wajah bingung dari sang koki.
"Ma..mangsutku siapa yang sakit, aku hanya butuh air jahe hangat, dengan sedikit gula merah. nanti akan sembuh dengan sendirinya." jawab Pelangi beralasan. ia tidak ingin membuat para pekerja curiga bahwa dia bukan siapa siapa di rumah ini, dan tidak mengenal sang pemilik rumah.
"Aku, akan istirahat sebentar."
"Baik Nona. saya akan memberi tahu tuan Kenzo saat beliau bangun."
"A' ti. . tidak tidak. bi ..biarkan saja tidak perlu mengganggu tuan, kau lanjutkan saja pekerjaanmu."
Sang koki menunduk hormat dan Pelangi pergi dari dapur.
'Siapa lagi itu tuan Kenzo, aku sungguh seperti imigran gelap di negriku sendiri.'
Pelangi menggeser pintu kamar, memasukinya tanpa merasa beban, segera ia merebahkan diri di atas ranjang, rasa nyaman membuat kantuknya datang. iapun membenamkan badannya di bawa selimut putih
tak butuh waktu lama kini dirinya benar-benar terlelap dalam mimpi.
Kenzo baru saja keluar dari kamar mandi. dengan hanya mengenakan celana kolor berwarna ijo di atas lutut.
rasa kantuk pusing dan lelah membuat tubuhnya semakin terasa berat, segera ia merebahkan diri di balik selimut putih.
dengan posisi saling membelakang Pelangi dan Kenzo tidur dalam satu ranjang berwarna putih polos bersih.
.
.
Hari sudah sore saat Mario menggeser pintu kamar Kenzo.
betapa terkejutnya dia saat matanya melihat posisi Kenzo yang memeluk posesif tubuh pelangi.
"Astafirloh!" pekik Mario.
"Bahkan sekarang dia melanggar janjinya sendiri untuk tidak melakukan perbuatan kotor di dalam rumah."
Mario berjalan mendekat dan berdiri disamping Kenzo,
ia semakin di buat kaget saat melihat wajah sang perempuan adalah gadis yang ia tolong dan antarkan pulang.
"Zo! " Mario menyibakan selimut yang menutupi tubuh keduanya, kejutan ketiga ialah ada banyak bercak darah segar di celana Pelangi.
"Ternyata dia perawan. Ck kasian banget.
memang brengsek lu Zo." cibir Mario dan yang menjadi bahan cibiran masih terlelap dengan memeluk tubuh Pelangi bak guling.
Mario mengambil gelas berisi airminum di atas nakas, lalu ia dengan sengaja menyiramkannya pada wajah Kenzo, membuat Kenzo reflek dan bangun langsung duduk. tentu saja pergerakan tiba-tiba dari kenzo turut membangunkan Pelangi.
"Gila lu! mau gue pecat lu hah!" marah Kenzo belum menyadari jika Pelangi kaget dengan posisi duduk di samping Kenzo mata membulat dan mulut menganga sempurna.
Mario melipat kedua tangan angkuh. memberi tatapan tidak suka pada Kenzo.
"Apa yang lu lakuin ke dia?"
Mario menunjuk Pelangi dengan bibir yang maju. ia terlalu malas menggunakan cara lain.
saat Kenzo menoleh mengikuti arah monyong bibir Mario. ia sama halnya terkejut. bahkan Kenzo tidak pernah mengijinkan mahluk perempuan berada dalam pintu gerbang rumahnya. lalu bagaimana dia bisa satu ranjang dengan dirinya.
"Siapa lu! ngapain lu disini hah!" suara tinggi Kenzo membuat Pelangi semakin merasa takut, ia sendiripun tidak mengerti situasi apa yang sedang ia alami ini,
Seingatnya dia tertidur dan begitu bangun sudah ada dua pria di kamarnya.
"Ma..maaf. aku akan pergi." Pelangi bangun dari ranjang, namun ketika ia berdiri sempurna kedua pria itu melotot melihat banyak bercak darah di bagian seprai lalu mereka melihat arah tersangka sumber dari noda itu.
"Ak..aku aku, Aku .." Pelangi bingung harus bagaimana, rasa malu dan takut menjalar hingga membuat tubuhnya terasa mengigil. airmata meluncur begitu saja, bagaimanapun Pelangi hanya remaja polos dan lugu, dalam situasi haid bulanan diusia remaja wanita akan lebih banyak mengeluarkan darah, dan Hormonnya akan lebih sensitif.
Melihat Pelangi menangis membuat kedua Pria dewasa di depannya ini merasa ibah. terlebih Mario, yang memang sudah lebih dulu bertemu Pelangi. Ia tidak menyangka masa depan Pelangi dirusak oleh sahabat sekaligus bosnya.
"Lu harus bertanggung jawab bro" ucap Mario sinis pada Kenzo.
"Ta..tapi gue gue."
"Nikahi dia. atau gue laporin lu ke kakek Bisma."
Mendengar kata nikah membuat Pelangi dan Kenzo tercengang, lalu saling menoleh melihat satu sama lain, dan detik berikutnya kembali melihat pada Mario.
"Gila lu! enggak gue gak mau kawin sama perempuan yang bukan tipe gw." Tatapan mengeritik Kenzo membuat pelangi menunduk dan menangis ia terisak.
"Bejat lu Zo. lu itu udah ngawinin dia. nikahnya yang belum."
Pelangi menjadi meraung raung. mendengar perdebatan dua Om Om di depannya.
Suara tangisnya sangat bising membuat gendang telinga terasa sakit seperti di tusuk tusuk paku.
Mario dan Kenzo sama sama menutup telinga.
"Iiiiihhh. . somplak lu ya! berisik Paijem!" protes Kenzo namun sengaja melempar bantal pada Pelangi membuat Pelangi semakin mengeraskan tangisnya.
.
.
"Apa kalian sudah gila hah!"
Suara kakek Bisma begitu keras hingga mengalahkan jerit tangis Pelangi.
Entah sejak kapan kakek berada di ambang pintu. setahu mereka saat ini kakek sedang berada di jerman.
* * *
Di ruang kusus milik kakek Bisma disinilah mereka Bertiga berakhir.
dengan Pelangi yang tentu saja sudah berpakaian bersih dan rapih.
Pelangi hanya menunduk takut, serta bingung dengan situasi saat ini.
terlebih dia sama sekali tidak mengenal keluarga ini.
"Jadi siapa yang akan menjelaskan?" Kakek bisma meminta penjelasan.
namun tidak ada yang mau bicara.
Brakkk !
suara gebrakan meja berhasil membuat tubuh Pelangi tersontak kaget, kini matanya sudah berkaca kaca.
rasa takutnya semakin menjalar.
"Apa kalian bisu?"
Kakek Bisma sadar jika Pelangi ketakutan ia merendahkan suara senormal mungkin,
"Kenzo sudah pecahkan perawan dia kek." jawab Mario nyeleneh.
hingga berhasil membuat ketiga orang di sekitar nya melotot sempurna.
"Brengsek lu! jaga tuh bacot." tak terima Kenzo pada Mario.
"Gue saksinya. lu tidur peluk-peluk dia gak pakek baju cuma kolor ijo doang. dan dia__" Mario menunjuk posesif pada Pelangi.
"Dia pecah perawannya. Kakek juga liatkan tadi banyak darah di sprai"
Pelangi menelan saliva berat, ingin bicara namun bibirnya seperti terkunci.
Dia tidak berani membuka suaranya, ia takut semakin memperkeruh keadaan.
* * *
KAMU SEDANG MEMBACA
Cinta Dua Puluh Empat Karat
General FictionArea 21+ bocil harap bijak. Om CEO vs Bocil, menikah! Pasti seru. yang satu layaknya pohon pisang dan satu lugunya kelewatan. Rumah tangga yang bermula dari sebuah kesalahan hadir dengan nuansa komedi romantis.
