Malam kedua

51 5 0
                                        

"Zo. jujur deh, lu gak nyakitin bocilkan?"

Kenzo menimang pertanyaan Mario.
Karena ia sendiri tidak tau, Pelangi merasa tersakiti atau tidak.

"Harusnya sih enggak."

"Lah kok gitu?"

"Harusnya dia ngerasa berterimakasi ke gue."

"Untuk?"  Selidik mario bingung.

"Untuk rasa semalem lah, apa lagi."

"What! jadi elu?" Mario menjeda ucapannya.

"Iya dan rasanya gil___.."

"Stop!" putus Mario tidak ingin telinganya yang suci tercemar. ia memberi tatapan jijik pada Kenzo yang di tatap justru terkekeh.

"Somplak lu! lu hargailah keperjakaan gue."

"Lu yakin masih pejaka?"

"Gue bukan elu ya."
cibir Mario.

"Yakali elu lupa ingatan."

"Aishh."

Mario mengangkat handphon yang bergetar di saku jaznya.
"Bu Sri, tumben banget nelpon." ia menggeser layarnya.

"Tuan...___" suara Bu Sri terdengar panik.
Mario terdiam mendengarkan, lalu ia mematikan ponselnya.

"Kenapa?" tanya Kenzo setelahnya.

"Pulang istri lu pingsan di kamar mandi."

tanpa bertanya lagi Kenzo segera berjalan dengan terburu buru meninggalkan ruangan kerjanya.
sapaan Yuni tak ia hiraukan.
bahkan Kenzo terlihat sekali cemas membuat yang lain merasa aneh,
pasalnya ini lah pertama kali wajah datar itu memiliki ekprsi.

"Siapkan mobilnya." perintah Mario pada Yuni yang sedang sama menatapi kepergian Kenzo.

"Baik pak" lalu Yuni menghungi sopir.

mobil Kenzo tiba di depan kantor bersamaan dirinya yang keluar dari pintu lobi
sang sopir sigap membukakan pintu.

"Saya ingin cepat sampai rumah, kurang dari 30 menit jika tidak ini hari terakhirmu bekerja."

"Baik pak." meski dengan perasaan kalut sang sopir tetap saja mengiyakan.
berharap pagi menjelang siang ini kondisi jalan tidak macet.

15 menit kemudian sang sopir berhasil tiba di depan rumah dalam waktu singkat dengan jarak normal biasa di tempuh 45 menit itupun jika tidak macet.

"Tuan." sapa bu sri.

"Dimana Nona Muda?" tanya Kenzo seraya berjalan menaiki tangga dengan langkah terburu dan wajah cemas.

"Nona Riha sedang memeriksanya Tuan."
Penjelasan Bu Sri yang mengekor di belakang Kenzo.

Kenzo menggeser daun pintu kamarnya.
menampakan Riha yang sedang memasangkan jarum infus pada pergelangan tangan Pelangi.
Kenzo berjalan mendekat kali ini ia memperlambat langkahnya pandangannya tak beralih pada wajah pucat Pelangi.
hingga ia benar benar berada di dekat Pelangi berdiri di samping ranjang dengan tatapan sendu.

Penyesalan atas perbuatannya yang kasar kembali menyesap kedalam pikirannya.
Pelangi tidak ingin melihat wajah Kenzo sedari tadi ia membuang wajah kearah lain.
menyembunyikan air mata yang sudah tergenang di kelopak mata.

"Jangan seperti itu." ucap Riha yang tahu jika Kenzo benar benar khawatir.
"Istri lu kelelahan, ditambah ia sangat syok, sepertinya fobianya terhadap cicak sudah sangat berat."

Kenzo mengalihkan perhatiannya pada Riha, yang sedang merapihkan peralatan medisnya.

"Istri lu pingsan cukup lama di bawa shower, untung saja Bu Sri menyadari dan segera menolongnya.

Cinta Dua Puluh Empat KaratCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang