Tidak Sepolos Tampilannya.

48 4 0
                                        


"Auh..." pekik Pelangi saat di dalam kamar mandi.
rasa perih menjalar dari bagian sensitifnya.
"Sakit..." keluh Pelangi dengan airmata.
"Bodoh." Pelangi mengingat kembali kegiatannya semalam bersama Kenzo.
"Ck, bodoh apa yang aku lakukan?" ia menyesalinya.

"Cil," Kenzo mengetuk pintu kamar mandi
ia khawatir karena sudah sejak 1 jam lalu, Pelangi masuk kedalam.

"Apa yang harus aku perbuat? aku sangat malu." bayang-bayang dirinya yang lebih dominan memimpin permainan semalam kembali mengeruak.
"Auhkk! sakit," dengan posisi duduk di atas kloset yang tertutup Pelangi mengipasi bagian sensitifnya dengan tangan. meskipun tidak mengurangi rasa sakit sama sekali, namun hanya itu yang bisa ia lakukan.

"Cil. buka pintunya." Kenzo mulai tidak sabar.
berulang kali ia memutar knop pintu yang terkunci itu.

Suara keras dari pintu yang terbuka paksa membuat Pelangi sontak melihat ke arahnya.
siapa lagi pelakunya kalo bukan Kenzo.

'Dia benar benar licik.'
kritik Pelangi.
'Dia membodohiku menjeratku dengan tipu muslihat.' Pelangi menatap nanar pada Kenzo. Yang sudah berdiri di depannya.

Kenzo mengerutkan kedua alis, bingung dengan posisi duduk Pelangi yang mengangkang tanpa mengenakan pakaian bawah. dan kenapa pula ia mendapat tatapan membunuh dari Pelangi.

pandangan Pelangi mengikuti arah pandang Kenzo.
lalu sama sama saling memberi tatapan kaget.

reflek Pelangi merapatkan kedua kaki seolah melindungi benda berharga miliknya yang terancam.

sementara Kenzo terkejut karena belum terbiasa dengan aktifitas junior yang sewaktu waktu bangun tanpa ia pinta.

"Em, gue cuma, cuma—" kegugupan Kenzo, sirna saat melihat Pelangi menangis.

Pelangi membuka kembali kakinya lebar-lebar.
mata Kenzo melotot sempurna dengan mulut menganga.
ini pun hal yang baru bagi Kenzo.
meskipun sudah berulang kali berganti wanita namun inilah kali pertama junior aktif dan mencicipi hangatnya main celap-celup.

isakan Pelangi menyadarkan Kenzo dari lamunan liarnya.
ia berjalan mendekati Pelangi dan segera berjongkok di depan Pelangi.

"Sakit." ucap Pelangi tanpa menunggu pertanyaan Kenzo.

Kenzo cukup cekatan ia mengerti kondisi Pelangi.
di pegangnya kedua kaki Pelangi dan ia mengamati bagian sensitifnya.

bengkak dan lecet.
Kenzo mentap wajah Pelangi.
"Apa sangat sakit?" dengan ragu ia bertanya.

Pelangi mengangguk.
"Pedih apalagi saat terkena air." lirihnya dengan menangis.

Kenzo mengusap airmata Pelangi lalu mengangkat tubuhnya membawanya kembali pada kamar dan meletakannya di atas tempat tidur.

"Gue tanya Reza atau Riha mungkin mereka tahu obat untuk mengurangi rasa nyeri, pada Miss V mu."

"Enggak!" pekik Pelangi dengan reflek, enak saja setelah membajak sawah miliknya lalu dia menyebarkan aib itu.

"Dimana-mana kalo sakit harus kedokter cil, paling tidak konsultasi untuk resep obatnya."

"Tapi aku malu dan Oom akan bilang apa, pada mereka?"

Kenzo nampak berfikir, benar juga apa yang akan dia katakan? Apakah akan berkata bahwa ua sudah menggagagi istrinya dengan bringas dan kasar? tak terbayangkan betapa malunya jika Reza menertawakannya.
"Lu bener."

"Ini semua kesalahan Oom!" dengan terisak dan sedikit meninggikan suara, Pelangi menggerutuki Kenzo.

"Kenapa lu limpahin kesalahan sama gue? lupa elu yang paling dominan!" ujar Kenzo tak terima disalahkan.

Cinta Dua Puluh Empat KaratCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang