"Sudah kan?" tanya Kenzo setelah mereka keluar dari ruang admin. kini nampak berjalan di koridor kampus bersama lalulalang siswa disana.
pelangi menoleh ke kanan kekiri. ia memperhatikan para pelajar itu dan mulai risih dengan tatapan para wanita pada Kenzo.
pelangi menoleh pada Kenzo, lalu ia merangkul lengan Kenzo berjalan beriringan.
"He'em" Kenzo mencoba menetralkan pikirannya karena saat ini ia merasa aneh, juniornya mendadak aktif, jantung berdetak lebih kencang dari biasanya.
"Lepaskan." akhirnya Kenzo meminta Pelangi melepas rangkupan pada lengannya.
"Tidak. enak aja, oom itu udah ambil perawanku jadi aku berhak berbuat sesukaku." bisik Pelangi pelan.
"Markonah. jangan lupa drajatmu." pesan Kenzo seraya melepaskan genggaman tangan Pelangi dari lengannya yang kekar. ia berjalan mendahului Pelangi.
"His, dasar oom oom tua!" cibir Pelangi pelan. ia tidak ingin Kenzo mendengar cibirannya.
baru beberapa langkah dari Pelangi, kini Kenzo sudah berhenti ia menatap seorang wanita yang kini juga menatapnya.
Pelangi memegang lengan Kenzo menyadarkan Kenzo dari lamunan, ia menatap Pelangi dan kembali menggenggam tangan Pelangi, menuntunnya melewati wanita berpakaiyan OB yang berdiri di depan merek.
Wanita paru baya itu menunduk saat Pelangi dan Kenzo melewatinya.
* * *
"Selamat siang pak." Yuni meletakan map di meja kerja Kenzo."
"Kosongkan jadwalku hari ini, katakan pada Mario untuk menangani tugasku."
tidak menunggu jawaban dari Yuni, Kenzo segera keluar dari ruangannya.
pikirannya kacau setelah pertemuannya dengan wanita parubaya di kampus pagi tadi.
wanita itu terlihat sangat lusuh dengan rambut yang di tutupi oleh uban.
Kenzo tersenyum miris, menertawai nasibnya sendiri.
"Kenapa dari sekian banyak usiaku elu baru kembali sekarang?" gumam Kenzo pada dirinya sendiri.
Tak tahu harus kemana untuk menghilangkan rasa penatnya, Kenzo memilih duduk diam dalam sebuah bar.
Ia sudah menghabiskan banyak botol minuman vodka, dengan musik yang bising serta gemerlap lampu ditemani para gadis berpakaian minim.
Mario baru saja memasuki bar itu, ia mencari keberadaan Kenzo, diantara banyaknya pengunjung.
Melangkah memecah kerumunan para manusia yang berlenggak lenggok dilantai dansa.
"Zo." Mario duduk di samping Kenzo dan mengambil botol vodka yang akan kenzo tengguk.
Kenzo mengambil lagi botol minuman itu, meneguknya kasar.
"Gak gini caranya nyelsain masalah Zo. Pelangi nungguin elu, dia kuatir sepanjang waktu hanya mondar-mandir."
"Dia masih hidup Yo. perempuan bejat!" Kenzo kembali meneguk minumannya.
Mario merasa bingung dengan apa yang Kenzo ucapkan, semoga yang dimaksud Kenzo bukan gadis yang saat ini ia bicarakan.
"Lu tau yo usia gue 12 tahun saat itu, hampir setiap hari saat gue pulang sekolah gue harus menyaksikan pria lain tidur di kamar wanita bejat itu. sialnya Ayah tidak bisa mengerti apa yang di perbuat oleh mereka." Kenzo menjeda kalimatnya,
Mario menghela nafas, sepertinya yang dimaksud Kenzo memang bukan Pelangi, lalu siapa? Siapa yang Kenzo bicarakan? Mungkinkah Ibunya?
Kenzo tersenyum miris, ia menertawai nasibnya.
"Dan di usia gue yang ke 30 tahun gue harus menyaksikan tunangan gue tidur dengan pria lain, lu tau Yo gimana perasaan gue? bagi gue semua wanita itu kotor mereka hanya mencintai uang!" Kenzo kembali menengguk botol vodkanya.
Jika sudah seperti ini Mario tak tahu harus bagaimana, ia mengusab kasar wajahnya.
"Zo. Pelangi nungguin elu, ayo gue anter pulang."
KAMU SEDANG MEMBACA
Cinta Dua Puluh Empat Karat
Ficção GeralArea 21+ bocil harap bijak. Om CEO vs Bocil, menikah! Pasti seru. yang satu layaknya pohon pisang dan satu lugunya kelewatan. Rumah tangga yang bermula dari sebuah kesalahan hadir dengan nuansa komedi romantis.
