Kenzo melemparkan jaznya asal ke atas ranjang, lalu melepas dasi yang ia kenakan.
ia menarik nafas lelah, lalu merebahkan tubuhnya pada ranjang king size miliknya.
pikirannya kembali pada kejadian saat dikamar hotel bersama Sanah beberapa waktu lalu.
ia semakin frutasi saat mengingatnya, meskipun ia sudah memancing Junior dengan beberapa ciuman panas bersama Sannah bahkan ia telah menanggalkan pakaian Sannah, namun tetap saja Junior tidak tergoda. hingga akhirnya ia meninggalkan Sannah begitu saja.
"Sial." Kenzo bangkit dari tidurnya, ia duduk di ujung ranjang.
"Aaah!" teriakan Pelangi dari dalam kamar mandi, hingga membuat Kenzo segera menghampiri.
tanpa mengetok terlebih dulu Kenzo menyelong masuk karena panik juga reflek.
"Ada ap—" Kenzo tercengang dengan apa yang ia lihat hingga tak dapat berkata-kata. segera ia menghampiri tubuh Pelangi yang sudah tergeletak lemah tak sadarkan diri di atas lantai.
Kenzo menelan saliva berat. Beberapa kali menoleh kanan dan kiri ia pun menggaruk garuk tengkuknya yang tidak gatal. ia benar-benar bingung harus berbuat apa.
"Heh, hus, bangun he." Kenzo membangunkan Pelangi dengan kaki yang menggerak gerakan tubuh pelangi. tapi tidak berpengaruh Pelangi tetap tidak bangun.
"Serius dia pingsan?" ia bertanya pada dirinya sendiri.
Matanya menyusuri tubuh mulus Pelangi.
"Sial! Kenapa justru dia yang harus jadi tumbal junior!" gumam Kenzo menggerutuki dirinya sendiri, karena Junior miliknya kembali terbangun dan sangat bersemangat.
Kenzo merasa kalut, disisi lain dia merasa senang karena junior miliknya berfungsi kembali, namun di lain sisi ia terlalu gengsi untuk menerima gadis kecil itu, ia terlanjur menanam kebencian untuk Pelangi.
"Zo!" suara Mario dari luar kamar mandi.
membuat Kenzo terkejut dan panik.
"Gue disini." Kenzo semakin bingung berjalan mondar mandir entalah apa yang saat ini menyumbat kinerja otak cerdasnya, sehingga ia terlihat buntu untuk berfikir, dan tidak menemui titik terang.
"Buru kita telat nih!" Mario berdiri di depan pintu kamar mandi yang terbuka. dengan suara yang sedikit berteriak. namun Mario sempat melihat sebuah kepala tergeletak di lantai, sebelum Kenzo menutup pintu kamar mandi.
"Lu ngapain sih kaya orang ketahuan maling gitu?" tanya Mario setelah Kenzo keluar dari dalam.
"Em ..itu di di dilam ada ada___.. ."
"Ada apa!?" mata Mario membulat efek kehaluannya yang ketinggian.
"Jangan bilang kalo lu abis bunuh orang Zo!" dengan wajah cemas dan panik Mario menggeser tubuh Kenzo dari depan pintu kamar mandi.
"Jangan. jangan masuk Yo!" Kenzo tidak ingin beralih, sementara Mario kekeh ingin melihat kondisi kamar mandi.
"Lepas Zo! istifar siapa yang lu bunuh?" dengan Masih bergulat saling mempertahankan posisinya masing-masing mereka beradu argument.
"Zo. minggir Zo kita harus cepat tolongin dia sebelum dia bener-bener mati!"
"Bu_ bukan jangan. jangan masuk. gue mohon jangan masuk kedalam." pinta Kenzo serius dan panik ia hanya tidak rela tubuh mulus istrinya dilihat orang lain.
"Zo sadar zo!" ucap Mario sedikit keras.
hingga Kenzo akhirnya mampu kembali seperti sediakala, tenang dan santai.
"Apa sih. lu mau liat binik gue telanjang bulat hah!" tantang Kenzo dengan mendorong bahu Mario pelan.
"Ha ...serius Zo?"
"Dia pingsan di lantai. gue juga gak tau kenapa, dia teriak dan saat gue masuk dia udah pingsan."
KAMU SEDANG MEMBACA
Cinta Dua Puluh Empat Karat
General FictionArea 21+ bocil harap bijak. Om CEO vs Bocil, menikah! Pasti seru. yang satu layaknya pohon pisang dan satu lugunya kelewatan. Rumah tangga yang bermula dari sebuah kesalahan hadir dengan nuansa komedi romantis.
