Setelah mengetahui bahwa Mama mengharapkan Pandu menjadi pasanganku, rasanya jadi agak aneh melihat Abimana dan Pandu berada di tempat yang sama seperti sekarang. Iya, aku tahu jika Pandu tidak punya perasaan apa pun padaku, tetapi harapan Mama membuatku merasa tidak nyaman.
Untunglah kecanggungan yang aku khawatirkan karena sikap Mama yang berada di pihak Pandu sama sekali tidak terbukti. Senyum Mama selebar tarikan bibir Pandu saat melihat kedatangan kami. Walaupun kadang-kadang berlebihan, Mama memang bukan ratu drama. Dia menghargai pendapatku sebagai anak. Aku mengaguminya itu hal itu.
"Wah... Minima!" Mama menerima pot yang diulurkan Abimana. Pengetahuannya tentang tanaman hias jelas berada jauh di atasku. "Kamu nggak perlu membawa oleh-oleh seperti ini. Philodendron jenis ini kan mahal banget. Rasanya jadi seperti merampok kamu."
"Ini nggak dibeli kok, Bu," Abimana mengulang penjelasan yang tadi dikatakannya kepadaku. "Kebetulan ibu saya juga suka tanaman, dan dia berhasil membudidayakan beberapa jenis tanaman. Ini salah satunya."
"Hai," Pandu ikut menyambut Abimana. Dia memperlihatkan tangannya yang kotor dengan pandangan menyesal ketika Abimana mengajak bersalaman. "Sori," katanya sambil tertawa kecil. "Salamannya nanti saja ya. Pandu," dia menyebut namanya.
"Ngobrol di dalam saja, Mbar," sela Mama. "Di sini kotor. Mama dan Pandu nyusul setelah selesai membenahi semuanya." Mama menunjuk tumpukan tanah yang sudah dicampur pupuk kandang, arang sekam, akar-akaran yang sudah mati, dan pot-pot kosong yang harus diisi dengan tanaman yang masih berjajar dalam polybag.
Aku lantas mengajak Abimana masuk ke ruang tengah sebelum dia menawarkan diri membantu Mama di kebunnya. Penampilannya hari ini tidak cocok untuk ikut bermain pupuk kandang. Bisa-bisa celana dan kemejanya terkena kotoran. Kami harus mengunjungi acara di tempat temannya. Aku yakin Abimana tidak pernah berada di tempat umum dengan pakaian berlepotan pupuk kandang yang bau. Aku tidak mau jadi pacar pertama yang membuat penampilannya ternoda.
"Pandu itu sepupu kamu?" tanya Abimana setelah kami duduk di ruang tengah.
Tentu saja aku sudah menyebutkan statusku sebagai anak tunggal kepada Abimana di awal-awal proses pendekatan. Jadi pertanyaannya terdengar wajar. Kalau bukan sepupuku, siapa lagi orang yang berdedikasi nongkrong di kebun bersama Mama pagi-pagi?
Aku hanya belum pernah bercerita tentang Pandu. Hubunganku dengan Pandu memang dekat, tapi aku belum merasa perlu menyebutkannya kepada Abimana. Tidak terlalu penting juga kan ujug-ujug menyebutkan nama Pandu yang tidak ada hubungan darah denganku. Aku pikir, seiring waktu, mereka toh akan bertemu juga.
"Pandu bukan sepupuku," jawabku terus-terang. "Dia itu...," Aku diam sejenak untuk mencari kata yang cocok, "... kakak angkatku." Kami berbagi warisan dari Ayah. Bukankah hanya saudara yang menerima warisan dari ayah mereka? Karena kami tidak punya ikatan darah, jadi saudara angkat pasti lebih cocok untuk menggambarkannya. Aku yakin Ayah memang sudah menganggap Pandu sebagai anaknya.
Abimana tersenyum. "Aku pikir ibumu adalah satu-satunya orang yang harus aku dekati untuk mendapatkan restu. Ternyata kamu malah punya kakak laki-laki."
Aku mengibas. "Jangan khawatir tentang Pandu. Dia bukan kakak sungguhan, jadi dia nggak akan ikut campur dalam kehidupan pribadiku." Secara singkat, aku menjelaskan proses masuknya Pandu dalam keluargaku.
"Pandu sudah menikah?"
Pertanyaan itu membuatku tertawa. Pernikahan sepertinya masih terlalu jauh untuk seorang Pandu. Dia bahkan tidak tahu bagaimana cara memelihara sebuah hubungan. Dia lebih menikmati perannya menjadi sopir Mama daripada menjaga perasaan perempuan yang sedang dekat dengannya. "Belum. Tapi semoga dia akan segera menemukan seseorang yang akan membuatnya memikirkan pernikahan."
KAMU SEDANG MEMBACA
Pilih Siapa?
Fiction généralePilih Siapa ya? Memang belum pasti sih kalau kedua sasaran tembak Ambar mempunyai perasaan tertarik padanya, tapi nggak salah dong kalau Ambar mengamati, menimbang, dan membaca perasaannya sendiri lebih awal, jadi dia tidak akan salah seandainya d...
