* Play the song 👏
"PERMISII!!"
Taeyong celingukan di depan bangunan kecil dua lantai itu. Di tangannya satu buah kresek berisi obat-obatan, perban, dan surpressant berguncang ribut. Bertubrukan satu sama lain selagi laki-laki itu meloncat-loncat berusaha menengok ke jendela yang tertutup tirai gelap di lantai dua.
Masih pagi-pagi buta. Tapi ia rela pergi keluar begitu sang Tuan muda mengetok pintu kamarnya secara pribadi tadi pukul empat. Menyuruhnya melakukan sesuatu untuk orang yang ia sayangi.
"PERMISII!!" Taeyong kembali berteriak.
Tak lama akhirnya pintu yang ia tunggu-tunggu terbuka. Yoona keluar masih dengan rambut acak-acakan dan mata setengah terpejam.
"Ya? Sia- Taeyong-ssi?!"
"Ah iya Yoona-ssi," Taeyong tersenyum kikuk pada perempuan paruh baya cantik itu, "saya mau mengantarkan dan menyampaikan pesan Tuan Muda."
"Tuan muda? Jeno-ya?!" Tiba-tiba Jaemin berjalan tertatih dari belakang Yoona, masih sambil memegangi lengannya yang berdenyut-denyut menyakitkan.
"Benar. Ini," Taeyong menyerahkan kresek putih itu.
"Maaf mengganggu waktu tidur kalian. Saya permisi dulu," Taeyong membungkukkan tubuhnya lalu berbalik masuk kembali ke mobil.
Belum sempat laki-laki itu membuka pintu tangannya ditahan Jaemin. Ada raut cemas di wajah tampan laki-laki itu. Netra kecokelatannya berkaca-kaca menatap Taeyong.
"Apa Jeno baik-baik saja?" Tanyanya takut.
Taeyong menyunggingkan senyum tipis. Ia menepuk pundak laki-laki bermarga Na itu, "Tuan muda baik-baik saja."
"Kau benar-benar yakin?! Dia baik-baik saja?!"
Taeyong mengangguk, "hanya sedikit terguncang. Tapi ia berkata semua akan baik-baik saja seiring berjalannya waktu."
"Lalu-" Jaemin semakin meremat tangan Taeyong, "-apa dia membenciku?"
Taeyong menggigit bibirnya tidak tahu harus menjawab apa. Tatapan khawatir dan sedih pada netra Jeno tadi pagi menunjukkan bahwa ia tidak membenci Jaemin. Tapi Taeyong juga menyadari ada rasa kecewa dan marah di iris hitam itu.
"Untuk yang satu itu aku tidak tahu Jaemin-ssi."
"Kuharap ia tidak membencimu," ucap Taeyong sambil memeluk Jaemin singkat, "karena kau satu dari sedikit orang yang membuatnya nyaman dan bahagia."
BRAK
Jaemin hanya menatap van hitam besar itu kembali memasuki jalan raya. Berjalan lurus dengan lampu sorot kuning di tengah hari yang masih gelap dan sepi. Seperti yang ia rasakan saat ini.
"Jaemin-ah ayo masuk," ajak Yoona. Dengan lembut ia mengamit tangan Jaemin yang tak terluka.
"Bukan salah Jeno kalau ia membencimu."
"Kau yang harus berusaha meminta maaf padanya atas kesalahanmu," ucap Yoona hati-hati. Ia pandangi wajah Jaemin yang semakin muram dan resah.
"Jaemin tahu Bunda."
"Eheum, anak Bunda anak yang kuat kan? Anak Bunda anak yang bertanggung jawab kan?"
Jaemin mengangguk. Ia membiarkan dirinya dituntun menaiki tangga dan diantar sampai depan kamar.
"Ayo, kau harus sekolah. Bunda buatkan tteokbokki. Nanti coba berikan pada Jeno ya?"
"Jangan lupa minum surpressant yang Jeno berikan."
KAMU SEDANG MEMBACA
OMEGAISME || JAEMJEN - ON HOLD
FanfictionDiantara seorang Alpha dan Omega, mereka membuat sesuatu yang dinamakan 'Omegaisme' Warning ⚠️: -B x B -TOP! JAEMIN -BOTTOM! JENO - Mature Explicit Content - ANGST, romance, friendship, comedy, fluff, slice of life, DRAMA, action, science fiction, i...
