21. Experiment ⚠️

22.7K 1.2K 167
                                        

*Play the song 👏

Lagi. Terjebak pada situasi yang sama. Sepuluh jam telah berlalu. Gelombang heat Jeno datang lagi.

Laki-laki itu kembali meringkuk di balik selimut, kepanasan dan kesakitan. Namun masih mencoba bertahan meski Jaemin menatapnya khawatir.

"C-coba Jaem," rintihnya.

Jaemin mengangguk. Ia duduk di sisi kasur Jeno, menatapnya lamat. Mencoba mengabaikan aroma manis yang mulai menusuk hidung dan membuat matanya bersinar kemerahan penuh kabut.

"Buka collarmu omega," titah Jaemin.

Jemari Jeno berkedut menahan hasrat untuk tunduk. Ia menggertakkan gigi dan meremat kaus merah maroonnya.

"Buka," ulang Jaemin. Nada suaranya berubah rendah dan monoton.

Jeno menggeleng kuat. Buku-buku jarinya semakin memutih dan ia meringkuk defensif melindungi titik lemahnya.

"Buka!" kali ini Jaemin mengeluarkan nada alphanya. Sangat mutlak tanpa penolakan. Desir halus merambati tubuh Jeno, menggodanya untuk takluk dan menyerah saja.

"Tidak!" Ketus Jeno. Ia menepis tangan Jaemin yang mulai mendekat pada lehernya.

Jaemin menyeringai, cukup puas akan pertahanan Jeno. Laki-laki itu berkembang dari sebelumnya. Seperti yang sudah diduga, apa yang Jeno mau akan ia dapatkan.

"Buka sayang~" ujar Jaemin seduktif. Feromonnya menguar sensual, membujuk sang omega.

Jeno menggeleng kuat meski nalurinya meronta-ronta menolak. Ia mendongak memerhatikan wajah Jaemin. Alpha itu terlihat luar biasa berkuasa, dengan mudah mampu membuatnya memuja dan menginginkan tubuhnya. Seringai yang terlalu tampan dan seksi.

Perwujudan nyata dari salah satu tujuh dosa besar. Dosa hawa nafsu.

Na Jaemin is a lust himself.

"Apa sudah cukup?" Tanya Jaemin. Nadanya kembali lembut seperti biasa.

"Eum, sekali lagi."

Tiba-tiba saja Jaemin mengungkung Jeno. Menahan bahunya pada kasur lembut sambil mendekatkan wajahnya pada leher laki-laki itu. Menjilati dan mengecupinya seduktif.

Tanpa sadar Jeno mendesah dan menekan tengkuk Jaemin semakin menempel pada lehernya. Permintaan tersirat untuk memberinya kenikmatan lewat gigitan dan hisapan penuh nafsu.

"Such a good boy," puji Jaemin manis.

"G-good boy," ulang Jeno senang. Sedetik kemudian ia mendorong Jaemin kasar. Malu terbuai pujian laki-laki itu.

Jaemin terkekeh pelan. Usakan lembut ia berikan pada surai Jeno. Meski netranya merah, cinta lebih besar dibanding nafsunya.

"Beritahu aku kalau kau sudah tidak tahan," ucapnya pelan.

"Sudah tidak tahan," ucap Jeno cepat. Ia melepas celananya tergesa dan menendang selimutnya sampai jatuh ke lantai. Kejantanannya sudah memerah dan mengeluarkan precum.

"Sudah latihannya?" Tanya Jaemin sabar.

"Sudah, nanti coba lagi."

"Lalu sekarang?"

Jeno menunjuk selangkangan Jaemin malu-malu. Ia keluarkan juga feromonnya lebih banyak, menggoda Jaemin untuk mau berhubungan seks dengannya.

Jaemin memejamkan mata erat-erat. Memilah-milah dan mencari dimana akal sehatnya diantara nafsu birahi. Seulgi sudah mengajarkannya sampai ia mau muntah saking lelahnya.

OMEGAISME || JAEMJEN - ON HOLDCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang