Diantara seorang Alpha dan Omega, mereka membuat sesuatu yang dinamakan 'Omegaisme'
Warning ⚠️:
-B x B
-TOP! JAEMIN
-BOTTOM! JENO
- Mature Explicit Content
- ANGST, romance, friendship, comedy, fluff, slice of life, DRAMA, action, science fiction, i...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Seulgi terus menatap kaca spion tengah. Terus menatapi Jeno yang masih berada di pangkuan Jaemin, memeluknya begitu erat dan menciumi lehernya.
Omega itu kembali dikalahkan oleh instingnya. Nafsu kembali menyambanginya. Tidak terbantahkan.
Aroma vanila yang dulu Haechan sukai kini sangat kuat memenuhi ruang sempit van yang berguncang pelan itu. Dikeluarkan oleh saudara kembarnya yang masih saja merengek dan memohon pada Jaemin untuk membantunya.
Haechan menatap miris Jaemin yang berkali-kali menggigit lengannya. Lagi dan lagi cairan pekat amis itu membasahi tangannya.
"Alpha please~"
Jaemin menggeleng. Ia tatap lembut netra kebiruan penuh permohonan itu. Ia seka liquid bening dari netra Jeno. Ia juga mengelap keringat deras yang mengalir di pelipis dan dahi sang omega.
"Jangan ya? Nanti kau menyesal," bisiknya. Meski netranya kembali berwarna merah Jaemin sangat sadar. Rasa sakit yang berdenyut-denyut di tangannya lebih dari cukup menjaga kewarasannya.
"Hngh hiks- sakit," lirih Jeno. Ia meremat kemeja Jaemin kuat.
"Sedang dalam perjalanan Jaemin-ssi. Sabarlah," Taeyong di balik kemudi menginjak gasnya dalam-dalam. Meliuk-liuk melewati kemacetan menuju apotek terdekat.
Mobil berhenti mendadak di depan sebuah apotek kecil. Seulgi langsung membanting pintu mobil terbuka. Tergesa-gesa membeli sebuah pil kebutuhan seluruh omega.
Tidak sampai dua menit ia menggeser pintu van itu kasar. Kepala Jeno ia arahkan ke wajahnya. Mencekokinya dengan pil berwarna biru dan sebotol air.
"Ini Jaemin-ssi," Seulgi menyodorkan pil lain berwarna merah. Cepat-cepat ia kembali ke kursi depan. Tanpa basa-basi Jaemin langsung menelannya.
Mobil kembali berjalan mengebut selagi kedua laki-laki itu menunggu efek obat bekerja. Jeno masih merintih dan Jaemin menggeram tertahan.
Perlahan insting binatang dalam tubuh keduanya dorman.
Biru menjadi hitam. Merah menjadi kecokelatan.
Keduanya bertatapan. Campur aduk akan emosi yang berbeda.
Jaemin sadar Jeno sudah kembali pada akal sehatnya. Perlahan ia memindahkan laki-laki itu ke sebelah Haechan di depan. Duduk di kursi empuk single, bukan lagi di pangkuannya.
"Taeyong hyung pinggirkan mobilnya," ucap Jaemin, "aku turun disini saja."