*play the song 👏
Jeno menatap gorden putih yang melambai pelan tertiup angin. Semilir sejuk menerpanya yang duduk bersandar pada tumpukan bantal besar dan empuk kepala ranjang.
Sudah tujuh hari. Batang hidung Jaemin tidak juga terlihat. Alpha itu sama sekali tidak datang menjenguknya.
"Terserah," desis Jaemin, "aku tidak peduli lagi."
Kukuh pada perkataan spontan penuh ledakan emosinya.
"Kau tidak tidur?" Celetuk Haechan sambil mengemili potongan apel di piring, "orang sakit harus banyak-banyak istirahat."
Irene yang tengah memotong apel di sebelahnya mengangguk setuju. Ia menggigit bagian tengah apel tempat biji berada -sisa potongan namun sayang kalau langsung dibuang- sambil berujar, "betul sekali, Tuan muda. Harus banyak-banyak istirahat supaya cepat sembuh."
"Makan ini, apelnya manis sekali."
Jeno tidak menanggapi dua orang yang duduk di sisi kasurnya. Netranya masih saja menatap ke arah jendela. Entah apa yang dilihatnya disana.
Langit pun mendung penuh awan gelap abu-abu. Siap menurunkan tangisannya pada hari yang bahkan masih pagi itu.
"Aku mau pulang," lirih Jeno.
"Jangan!" Larang Haechan, "di rumah sakit saja, kakimu masih belum sembuh sama sekali!"
Irene kembali mengangguk, "betul! Jae-"
Haechan buru-buru membekap mulut Irene. Ia melirik gugup pada Jeno yang bahkan tidak repot-repot peduli. Jeno memainkan selimutnya. Wajahnya datar namun tatapannya sendu.
Omega itu tidak tahu jika setiap malam Jaemin setia menjaganya di depan pintu. Di saat Haechan atau Taeyong ketiduran, ia menjaga mereka tetap aman.
Jaemin baru pulang saat menjelang pagi, untuk sekolah kemudian kembali berjaga sebelum tengah malam. Meskipun ia tahu Seulgi selalu memantau dan menjaga Jeno lewat cctv.
Jaemin bilang dia tidak peduli tapi semua itu bohong. Dia peduli, sangat-sangat peduli melebihi kesehatannya sendiri.
Haechan pernah beberapa kali memergokinya saat ingin ke toilet di tengah malam, laki-laki itu terkantuk-kantuk di kursi yang terdapat di depan. Ia memukuli kepala dan pipinya sendiri supaya tetap terjaga.
Pernah juga setelah dari toilet Haechan mendapati laki-laki itu berdiri kaku di depan pintu. Tangannya bergerak ragu di dekat handle. Terus ditarik dan diulurkan bergantian. Tidak berani masuk dan takut menganggu.
Rasanya miris melihat dua orang yang saling menyayangi itu terhalang dinding dan sebuah papan kayu. Keduanya memiliki harga diri yang tinggi sekaligus pengecut dan keras kepala.
"Sama saja," gumam Jeno, "kakiku akan sembuh dengan sendirinya di rumah."
Irene dan Haechan berpandangan.
"Tuan tidak mau menunggu seseorang?" Tanya Irene pelan. Ia yang bertugas menjaga dari pagi sampai sore mendapati tadi pagi Jaemin berbaring menyamping di atas deretan kursi. Meringkuk dan gemetaran kedinginan.
Begitu ia bangunkan laki-laki itu meloncat berdiri. Lalu langsung terburu pergi setelah yakin Jeno dan Haechan bercakap ringan di dalam. Haechan memilih membolos hari ini. Sekolah tidaklah menyenangkan tanpa keberadaan saudara kembarnya.
"Maaf aku ketiduran," parau Jaemin waktu itu, "Jeno baik-baik saja kan?"
Irene miris. Jaemin terlihat tidak sehat. Kantung matanya terlalu tebal dan hitam. Tubuhnya semakin kurus dan luka-lukanya diobati asal. Dan tatapan matanya... Begitu hampa juga lelah. Baru bangun pun yang terpikirkan langsung menanyakan keadaan Jeno.
KAMU SEDANG MEMBACA
OMEGAISME || JAEMJEN - ON HOLD
FanfictionDiantara seorang Alpha dan Omega, mereka membuat sesuatu yang dinamakan 'Omegaisme' Warning ⚠️: -B x B -TOP! JAEMIN -BOTTOM! JENO - Mature Explicit Content - ANGST, romance, friendship, comedy, fluff, slice of life, DRAMA, action, science fiction, i...
