3. First Love

13.6K 1.5K 70
                                        

*Play the song 👏

"Dok, aku harus apa?!" Haechan menjambak rambutnya sendiri di depan pintu kamar Jeno. Pintu berwarna biru muda itu kembali terkunci dari luar guna mencegah Jeno berlari mencari alpha demi menuntaskan hasrat seksualnya.

 Pintu berwarna biru muda itu kembali terkunci dari luar guna mencegah Jeno berlari mencari alpha demi menuntaskan hasrat seksualnya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Sang dokter, Johnny Suh menghela napas lelah. Ia meremas pundak Haechan, menuntun laki-laki itu ke arah sofa. Bertujuan menenangkan sekaligus menjabarkan apa-apa saja yang harus dilakukan pada kakak kembarnya.

"Bagaimana bisa Jeno seorang omega, Dok! Semua orang berpikir dia adalah alpha, termasuk aku dan Papa!"

"Kalian yang terlalu yakin," gusar Johnny. Ia mengelap keringatnya yang mengalir deras. Menahan seorang omega dalam masa heatnya membutuhkan usaha yang luar biasa. Terutama omega seperti Jeno yang menolak gender keduanya dan masih tidak memercayai kalau ia adalah seorang omega. Feromonnya menjadi sangat kuat dan memabukkan. Hal yang sama akan berlaku untuk alpha.

"Tap-"

"Haechan, memperkirakan gender kedua memang bagus sebagai tindak pencegahan. Kau bisa membuat rencana masa depan dan kelangsungan hubunganmu. Tapi jangan pernah terlalu memercayai semua yang kau ekspektasikan."

"Tidak semuanya berjalan sesuai keinginanmu. Selalu ada sebuah pengecualian. Selalu ada beberapa persen kemungkinan meski katanya mustahil."

Johnny memandang sendu pintu kamar biru langit itu. Mengingat Jeno yang sampai meringkuk kesakitan dan menangis terisak sungguh menyakitkan. Ia sudah mengenal laki-laki itu sejak kecil. Ia tidak pernah menangis ataupun protes saat sang Papa memaksanya untuk berlatih berbagai macam matrial arts yang sulit dan sangat keras. Selalu patuh pada perkataan sang Papa untuk selalu menjaga bentuk tubuh dan belajar dengan giat. Diikuti berbagai macam les dan pertemuan para konglomerat yang memuakkan.

Intinya, sejak kecil Jeno dituntut untuk serba bisa. Tangguh, mampu memimpin, dan dapat diandalkan, khas alpha. Berbeda dengan Haechan, sang Papa tidak begitu memaksanya karena berpikir sudah memiliki Jeno sebagai penerusnya. Penerus perusahaan berskala internasional yang bergerak di berbagai bidang seperti makanan, pakaian, hingga elektronik.

Haechan ikut melihat pintu itu. Ia memainkan jari tangannya lesu.

"Bagaimana nasib Jeno? Papa akan sangat marah padanya."

"Aku akan membicarakannya dengan Papamu," Johnny mengelus kepala laki-laki yang genap berumur tujuh belas tahun itu.

"Sangat menenangkan kau teridentifikasi sebagai beta. Bantulah Jeno untuk menerima gender keduanya okay? Jika tidak heatnya akan sangat menyakitkan dan feromon yang ia keluarkan akan mengundang semua alpha yang ada."

"Kita tidak mau hal buruk terjadi pada saudara kembarmu itu."

Johnny mencari-cari sesuatu di dalam tasnya. Ia mengeluarkan silinder tabung berukuran lima belas centimeter berisi puluhan pil berwarna putih dan biru, "ini surpressant untuk Jeno. Minum untuk mengurangi efek heatnya."

OMEGAISME || JAEMJEN - ON HOLDCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang