68. Draco Malfoy

5K 538 98
                                        

*Play the song 👏🏻



"Kau lihat baik-baik."

Renjun menarik Jaemin mendekat ke sebelahnya lalu ia tundukkan kepala laki-laki itu agar sejajar dengannya. Renjun mengarahkan kepala Jaemin ke arah Jeno yang diam-diam memberikan secarik kertas berisi kunci jawaban kepada Haechan.

"Kau lihat," ulang Renjun.

"Aku sudah lihat," tanggap Jaemin serius.

Renjun sama seriusnya. Ia berbisik tajam di telinga Jaemin. "Sekarang katakan, apa yang bisa kau tangkap dari perbuatan omega kesayanganmu."

Mata Jaemin terus mengikuti kertas yang dioper diam-diam itu. Dari Haechan ke Chenle, lalu Chenle ke Hyunjin. Dan terus menyebar kemana-mana hingga seisi kelas sepertinya mampu menyontek selaras.

"Baik hati," jawab Jaemin tanpa ragu. "Dia sangat baik membantu teman-teman kita yang kesulitan."

"Dangkal," ucap Renjun kesal, "otakmu itu dangkal sekali."

Jaemin melemparkan tatapan heran. Ia memelankan suaranya sekecil mungkin, takut tanpa sadar membangunkan Yoongi yang tengah asyik tertidur di kursinya. Sebuah buku yang terbuka ditaruh untuk menutupi kepalanya yang mendangak ke arah langit-langit dan mendengkur pelan.

"Memang baik 'kan?" Tanya Jaemin tidak mengerti, "Jeno membantu nilai ulangan teman-teman kita menjadi lebih baik."

"Bukan, dia menyesatkan mereka!" Bisik Renjun sebal. Tak disangka kertas kecil itu kini dioper padanya.

Renjun mengambilnya lalu mencocokkan jawabannya dengan isi yang ada di dalam diikuti Jaemin.

Ada miss beberapa. Tapi selebihnya sama.

Ia menyerahkannya pada Jaemin, meminta dia mengoper ke siswa di sebelah yang sudah berkeringat dingin karena waktu ulangan matematika hampir habis.

"Wajar dong?" Tegur Jaemin, "kalau sama semua nanti Yoongi Saem curiga. Tidak mungkin kan Jeno memberikan semua jawabannya pada kita?"

"Bukan itu! Berpikirlah satu langkah ke depan, bodoh!" Renjun membereskan alat tulisnya hati-hati lalu merapikan lembar soal dan kunci jawabannya.

"Alasan dia begitu mudah memberikan jawaban saat ulangan atau ada pr adalah agar siswa-siswi bodoh ini ketergantungan padanya."

"Huh?"

"Kalau kau ingin benar-benar membantu, yang seharusnya kau lakukan adalah mengajarkan, bukan memberi jawaban begitu saja," jelas Renjun, "ingat peribahasa ini: Give a man a fish and you feed him for a day; teach a man to fish and you feed him for a lifetime."

Renjun memindai wajah Jaemin yang berkerut berusaha mengerti. Butuh beberapa lama sebelum Jaemin melebarkan matanya.

"Maksudmu menyesatkan berarti selama ini secara perlahan Jeno membuat teman-teman kita bergantung pada jawabannya dan tidak mau berusaha? Sehingga saat ujian nanti, mereka akan kesulitan begitu?"

"Benar," bisik Renjun tertahan, "omegamu itu benar-benar cerdik, ani- licik!"

"Tapi bisa saja teman-teman kita ini belajar mati-matian sebelum ujian kan?" Tepis Jaemin positif.

"Manusia itu kalau terbiasa disuapi tidak mau makan sendiri," ralat Renjun, "yah, bisa saja sih kalau manusia-manusia ini punya otak dan kesadaran diri. Tapi, memangnya bisa ya? Kan kecerdasan mereka rata-rata, tidak seperti IQ omegamu itu yang tinggi dan belajar setiap hari."

"Benar juga," Jaemin memindai lembar jawabannya sendiri. Mulai meragu akan kemampuannya memecahkan soal meski tak jauh berbeda dengan kunci jawaban yang beredar.

OMEGAISME || JAEMJEN - ON HOLDCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang