15. An unusual way

10.6K 1.2K 139
                                        


*Play the song 👏


"Chenle-ya, bisa temani aku ke perpustakaan?"

BRAK

Ponsel keluaran terbaru berwarna gold dengan tiga buah kamera di pojok kiri atas itu terjatuh ke atas lantai saking terkejutnya sang pemilik.

"Kau berbicara padaku?" Tanya Chenle tidak percaya. Telunjuknya mengarah pada wajahnya sendiri yang melongo keheranan.

Jeno mengangkat sebelah alis, "tentu saja. Memang siapa lagi yang memiliki nama Chenle di sekolah ini?"

"Kalau tidak mau ya sudah."

"MAU! MAU!" Chenle langsung merangkul bahu Jeno dan menggiringnya menuruni tangga menuju perpustakaan.

"Habisnya tumben sekali kau mengajakku! Biasanya kalau ke perpustakaan kau suka sendirian."

"Menyendiri seperti anti sosial disana."

Jeno menatap lurus ke depan. Sejujurnya ia tidak ingin memasuki tempat itu lagi, tapi apa daya? Sang guru sejarah memberikan tugas merangkum kronologi sejarah Korea yang tak terdapat dalam buku teks pelajaran. Ingin mencari di internet Jeno rasa sumbernya tidak pasti dan kurang lengkap.

Memasuki ruangan luar biasa besar setinggi tiga lantai itu Jeno jadi teringat kejadian waktu itu. Ah, dia benar-benar malas dan benci mengingatnya. Tidak, Jeno tidak takut. Dia hanya merasa was-was dan membutuhkan seseorang yang ia percaya di sampingnya sekarang.

Chenle terus mengekori Jeno yang berjalan di tengah-tengah rak-rak tinggi berisi ratusan buku. Ia menatap malas buku-buku setebal lingkar lengannya itu. Tidak habis pikir bagaimana bisa seseorang membaca habis seluruh isinya. Lebih tidak habis pikir lagi dengan sang penulis yang mampu merangkai mungkin jutaan kata berisi fakta, teori, ataupun opini pribadi.

"Aku saja," serobot laki-laki bermarga Zhong itu begitu Jeno sudah mengulurkan tangan ke atas berniat mengambil sebuah buku berpunggung mocha.

"Aku lebih tinggi darimu," ucap Jeno datar. Namun ia membiarkan Chenle mengambilnya selagi mencari-cari buku lain.

"Aku kan hanya ingin membantumu Jeno-ya~" goda Chenle. Senang rasanya bisa bersama laki-laki itu. Beberapa hari ini Chenle merasa kehilangan sosok Jeno yang ia kenal. Tapi perlahan laki-laki itu kembali seperti biasa dan perkumpulan mereka juga kembali seperti semula.

Tidak lagi enam melainkan empat.

Entah Chenle harus bersyukur atau tidak. Dengan adanya Jaemin Jeno lebih ceria dan ia bisa lebih banyak melihat senyum manisnya yang tersembunyi.

Jaemin pergi senyum itu juga pergi.

Jeno kembali menjadi pribadi yang datar dan dingin. Tidak begitu peduli dan tidak banyak berbicara.



.



"Seorang manusia tentunya pernah salah dan pantas mendapat kesempatan kedua kalau ia bersungguh-sungguh berjanji dan bisa membuktikan tidak akan mengulangi kesalahan yang sama."

Kata-kata Renjun itu benar.

Tapi bagaimana membuktikannya? Jaemin ingin bertanya pada semesta. Apakah sang pencipta bersedia memberikan jawabannya?

Laki-laki bermarga Na itu menidurkan tubuhnya berbantalkan lengan. Seperti biasa, menyendiri di atap sekolah bertemankan kesepian.

Lama ia tatapi awan putih yang berarak pelan melintasi langit. Memerhatikan rombongan burung berwarna cokelat kecil yang terbang berputar-putar dalam adu tarian tak beraturan. Merasakan panasnya terik matahari membakar kulit dan retinanya. Menikmati hembusan angin yang membawa gelenyar panas ke tubuhnya yang tertutup hoodie tebal berwarna hitam.

OMEGAISME || JAEMJEN - ON HOLDCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang