Update!
Update!
Update!
Happy Reading!!!
🏠🏠🏠🏠🏠
"Astaga!"
Aku menepuk jidatku pelan saat menyadari kalau Ponsel ku ketinggalan di tempat Mas Reyhan.
Tadi aku memang sempat masuk ke Kontrakannya setelah di ajak oleh Maira. Kami sempat ngobrol-ngobrol sebentar sebelum akhirnya aku pamit pulang karena tidak kuat ditatap tajam oleh Mas Reyhan. Seakan-akan aku ini pengganggu. Apalagi waktu aku ketawa sama Maira, makin tajam tuh mata ngelihat nya. Kalau matanya bisa nusuk, mungkin aku udah sekarat sekarang.
Aku keluar dari Kontrakanku dan melirik ke tetangga sebelah. Sepertinya Maira sudah pulang, terbukti dengan tidak adanya sepatu Maira di depan.
Aku menggigit kukuku sambil berjalan kesana kemari. Gimana caranya aku mau ngambil Ponsel ku?
Keberanian ku tadi saat menggedor-gedor pintu kontrakan Mas Reyhan sudah hilang entah kemana. Sekarang buat ngetok secara pelan aja aku nggak berani. Habisnya Mas Reyhan makin lam makin serem kalau di lihat. Dia kan kalau sama aku nggak pernah santai, bawaannya tegang aja. Aku kan jadi ikutan tegang.
Apa aku tunggu Mas Reyhan aja ya balikinnya. Iya, kayaknya aku nunggu Mas Reyhan aja yang balikin. Mas Reyhan pasti sadar dong kalau ada Ponsel asing di rumahnya. Apalagi kalau Ponselku bunyi.
Aku menepuk tanganku sekali. Merasa ideku itu sangat briliant. Jadi aku nggak perlu tuh, ketuk-ketuk rumah dia. Lagian aku juga nggak terlalu butuh banget sama Ponsel malam ini. Kalau aku mau nonton, aku tinggal pakai laptop aja.
Dan untungnya aku bisa ngehindari telpon Mama yang entah kenapa akhir-akhir ini sering banget ngehubungin aku. Ternyata aku pinter banget.
Sambil bersenandung aku berjalan masuk ke dalam. Malam ini aku bebas mau ngapain aja. Apa aku harus download Dracin ya? Kayaknya kalau nonton Dracin seru juga.
Tok tok tok!
Pintu kontrakan di ketuk saat aku baru saja menyelesaikan episode ke-enam belas dari Drama yang aku tonton. Aku melirik jam yang menunjukkan angka sepuluh malam.
Dengan malas aku berdiri dari dudukku dan meletakkan laptop yang sebelumnya ku pangku ke atas meja. Aku mengintip dari balik jendela terlebih dahulu sebelum membuka pintu. Waspada ya, kali aja bukan orang yang ngetuk. Kan serem.
Tapi kayaknya ini lebih serem deh dari hantu. Sengaja nggak ngambil Ponsel dari rumah sebelah karena ngehindari telpon dari dia, eh orangnya langsung datang kerumah.
Mama ku, guys.
Aduh! Aku berdosa banget bilang Mamaku lebih serem dari hantu. Maaf kan anakmu ini ya Mamaku tersayang, tercinta. Jangan kutuk anakmu ini jadi berlian ya, Mak.
Dengan pelan, aku membuka pintu sambil tersenyum Pepsodent ke arah Mamaku yang melotot. Belum apa-apa udah di pelototin aja. Dedek takut, Mak.
"Assalamualaikum, Mamaku yang paling cantik."
"Wa'alaikumssalam."
Aku membuka lebar pintu, "Masuk atuh Mamaku tercinta."
Mama mendelik mendengar rayuan maut ku. Dengan kepala di angkat angkuh, beliau masuk kedalam. Mata Mama mengitari tempat tinggalku dengan cermat. Sepertinya beliau menilai-nilai, apakah tempatku ini layak di tinggali oleh anak gadisnya yang paling waw ini.
"Tempat kontrakan kamu ini terlalu bagus buat kamu."
Ingin rasanya aku berkata kasar.
Mama aku memang ajaib.
KAMU SEDANG MEMBACA
Mas Reyhan
RomanceNamanya Reyhan Adiutama Perkasa. Mas Reyhan. Perkasa. Sangat cocok dengan orangnya yang memang perkasa. Dia sahabat dari Abang sahabatku. Bang Rangga. Entah ini kebetulan atau tidak, Mas Reyhan ini tetangga baruku. Rumahnya pas ada disebelah kontrak...
