Aku tuh lagi rajin banget nih nulis, makanya update terus.
Happy reading!!!
🏠🏠🏠🏠🏠
"Menurut Mas, aku harus ganti baju berapa kali nanti pas resepsi?" Tanyaku sambil membolak-balikkan katalog baju pengantin.
Omong-omong kami lagi ada di butik untuk fiting baju pengantin. Lamaran resmi sudah di lakukan seminggu yang lalu, dan tanggal pernikahan kami pun sudah di tetapkan.
Aku sedikit mendengus geli saat ingat acara lamaran seminggu yang lalu Mas Reyhan ngotot ingin pernikahannya di adakan satu bulan lagi. Dia bilang dia tidak bisa menunggu lebih lama lagi untuk menjadikan aku sebagai istrinya. Tapi para orangtua tidak setuju, karena satu bulan itu jaraknya terlalu mepet untuk menyiapkan pernikahan. Saat itu pun aku setuju dengan yang di katakan para Orangtua, dan akhirnya di tetapkan kalau kami akan menikah dua bulan lagi. Yang tentunya di balas Mas Reyhan dengan muka masamnya yang berusaha dia tutupi.
Aku sampai di goda habis-habisan sama Rasi dan Mbak Siti saat tau itu. Dan kalian tau tanggapan Mas Reyhan? Dia cuman diam aja kayak nggak ada apa-apa. Mau heran, tapi ini Mas Reyhan.
"Ya terserah kamu, Mas ngikut aja. " Tipe laki-laki yang nggak mau ribet waktu di tanya.
Sejak acara resmi lamaran itu Mas Reyhan memang sudah mengganti panggilan untuk dirinya sendiri dengan sebutan, Mas. Membuatku yang belum terbiasa mendengarnya sedikit merasa deg-degan. Di waktu awal mendengarnya aku malah tersipu malu. Kalau dengar dia manggil namanya sendiri kayak gitu tuh aku berasa kayak lagi di sayang. Suka aja dengarnya.
"Sekali aja kali, ya? Pasti nanti bakal capek banget kalau keseringan ganti baju." Keluhku.
Kadang ada ya, kalau di acara nikahan itu pengantin wanitanya ganti baju sampai tiga atau empat kali. Aku yang ngelihatnya aja capek, apa lagi kalau di jalanin. Nanti kalaj terlalu capek nggak bisa malam pertama dong, ups. Jadi nggak sabar, hehehe.
"Hmm, aku ngikut apa kata kamu aja sayang."
Aku spontan mendengus mendengar panggilannya. Kedua pipiku terasa panas sekarang. Mas Reyhan itu, ada aja caranya buat aku tambah suka sama dia.
"Aku nikahan pakai hijab, ya?"
Mas Reyhan memutar duduknya menghadapku, "Mas nggak akan paksa kamu kalau nggak mau. Tapi alangkah lebih baiknya kalau kamu pakai hijab. Nggak rela Mas lihat rambut cantik kamu di tatap sama laki-laki lain."
"Tapi kan dari awal aku emang nggak pakai hijab, Mas." Sudah banyak laki-laki lain yang melihat rambuku ini.
"Ya karena kamu belum resmi jadi milik, Mas. Kalau sudah ya Mas bakal paksa kamu pakai hijab, kalau perlu kamu nggak usah keluar rumah supaya cantiknya kamu cuma buat Mas aja."
"Ih, Mas Reyhan." Aku memukul lengannya dengan malu-malu.
Aku nggak marah sama sekali waktu dia bilang bakal paksa aku buat pakai hijab kalau udah sah, karena aku ngerti apa yang dia bilang sama aku itu nggak salah. Memang nggak seharusnya aku mengumbar rambutku kemana-mana. Aku pun tanpa di suruh memang berencana ingin memulai menggunakan hijab setelah menikah dengannya. Kalau untuk sekarang jangan dulu deh, aku mau mempersiapkan hati dulu. Walaupun aku tau kalau memakai hijab itu wajib, di luar dari siap atau tidak siapnya hati kita, asal kita muslim hijab wajib di pakai.
Aku nggak tau kebaikan apa yang udah aku lakukan sampai-sampai mendapatkan laki-laki sebaik Mas Reyhan. Kalau sampai kami tidak berjodoh, aku nggak yakin bisa lupain Mas Reyhan dengan cepat. Kayak lagu yang lagi viral itu; Begitu syulit lupakan Reyhan, apalagi Reyhan baik.
Okey, lupakan lagu yang lagi viral itu.
"Kamu nggak marahkan?"
Aku mendengus geli, "Enggak!"
"Kalau marahpun Mas nggak peduli sih sebenarnya."
"Ih, Mas Reyhan!"
"Iya, cantik."
🏠🏠🏠🏠
Tidak terasa waktu berjalan dengan sangat cepat. Besok adalah hari pernikahan dan kehidupan baru bagiku. Jadi, malam ini aku sudah mulai memakai hena di kedua tanganku. Tentunya tidak sendirian ada Rasi dan juga Mbak Siti di sini yang menemani, ah salah, maksudnya juga ikut memakai hena. Kalau Rasi sih dia bilang ngidam pengen pakai hena pengantin. Nah, kalau Mbak Siti katanya supaya kecipratan dapat jodoh cepat. Alasan yang baru pertama kali aku dengar sih ini. Tapi kalau memang betul bisa di coba itu bagi yang belum nikah, kali aja dapet.
"Kalian nanti jangan lupain gue ya mentang-mentang udah berumah tangga semua." Mbak Siti mulai pembicaraan setelah Mbak-mbak yang bertugas memasangkan kami hena keluar dari kamarku.
"Mbak ngomong apa sih, ya nggak mungkin lah kami lupain Mbak."
"Ya kan bisa aja. Di antara kita bertiga cuma gue yang belum nikah, padahal gue yang paling tua." Gumam Mbak Siti sedih.
"Ih, Mbak Siti jangan ngomong kayak gitu dong, nggak bisa pelukan ini henanya belum kering." Mataku sudah berkaca-kaca.
Mbak Siti tertawa pelan, tapi air matanya malah menetes. Aku yang melihatnya pun ikut-ikutan ingin menangis. Pertemanan kami memang tidak terlalu lama. Tapi terbiasa bersama selama bekerja dan di luar pekerjaan membuat kami menjadi lebih dekat dan akhirnya memutuskan untuk bersahabat.
Aku menoleh kearah Rasi dan hampir saja tertawa melihatnya yang sudah bercucuran air mata dengan ingus yang hampir keluar. Bumil satu itu sepertinya sudah lebih dulu terisak mendengar ucapan Mbak Siti tadi.
Malam itu kami sama-sama menangis tanpa bisa menghapus air mata kami sendiri karena hena yang kami pakai. Aku tidak menyangka, momen di mana kami semua satu persatu mulai menemui kehidupan baru yang di namakan pernikahan.
🏠🏠🏠🏠
Dari layar tv menampilkan video Mas Reyhan yang dengan gagahnya sedang menjabat tangan Papaku. Aku bisa merasakan tanganku berkeringat dingin saat mendengar suara berat Mas Reyhan yang sedang mengucapkan qobul setelah Papaku mengucapkan ijab kepadanya.
Ucapan Alhamdulillah terdengar lantang dari luar dan di dekatku, di susul pelukan sayang dan kecupan di ubun-ubun ku. Mama dan Mama Susan tersenyum dengan mata yang berkaca-kaca, begitu juga dengan Rasi dan Mbak Siti. Sedangkan aku berusaha untuk tidak meneteskan air mata agar make up yang ku pakai tidak luntur.
"Ayo, kita kebawah. Suami kamu udah nunggu."
Aku mengangguk. Dengan di bantu oleh Mama dan juga Mama Susan aku berdiri dari dudukku dan berjalan keluar untuk menemui Mas Reyhan yang sudah menunggu di bawah. Dari atas sini aku bisa melihat Mas Reyhan yang sudah berdiri di dekat tangga, menampilkan senyum manisnya yang sangat jarang terlihat.
"Fokus nurunin tangga, Key! Jangan sampai oleng cuma gara-gara lihat Mas Reyhan senyum."
Bisikan dari belakangku itu yang di susul suara tawa kecil membuat diam-diam mendesis kesal. Bisa-bisanya dalam keadaan kayak gini mereka masih bisa ajak aku bercanda.
Saat sampai di hadapan Mas Reyhan, aku hanya diam sambil tertunduk malu, begitu pun dengan Mas Reyhan yang tidak mengeluarkan sepatah katapun. Sampai akhirnya tangannya terulur kedepan, Mama menyenggol lenganku untuk salim. Jadi, dengan malu-malu aku mengambil tangan Mas Reyhan dan menciumnya yang di balas dengan kecupan di kening ku. "Sah, kan?"
Auw, iya sah!!!
🏠🏠🏠🏠🏠
Akhirnya sah juga mereka berdua setelah sekian lama Mas Reyhan kasih kode-kode ke Keyra.
Happy Wedding buat Mas Reyhan dan Keyra.
Dan buat kalian jangan lupa vote dan coment, ya.
See you👋👋👋👋
Tenang, belum tamat kok.
KAMU SEDANG MEMBACA
Mas Reyhan
RomanceNamanya Reyhan Adiutama Perkasa. Mas Reyhan. Perkasa. Sangat cocok dengan orangnya yang memang perkasa. Dia sahabat dari Abang sahabatku. Bang Rangga. Entah ini kebetulan atau tidak, Mas Reyhan ini tetangga baruku. Rumahnya pas ada disebelah kontrak...
