Dendam 2 lelaki

231 14 0
                                        

08.00

Al duduk termenung sendirian diRuang kamar inap nya, setelah kejadian kemarin, ayah nya sama sekali belum menemui nya lagi, sedangkan ayah Gia sudah berpamitan padanya pukul 6 tadi, karna Winarta harus segera menyiapkan pemakaman untuk putrinya.

Gadis itu duduk sambil memeluk kedua lutut nya, ia mencoba memutar ulang mimpinya tadi malam, Gia datang untuk mengucapkan selamat tinggal pada dirinya, Al berkali-kali mencubit tangannya, sekedar untuk memastikan bahwa ini hanyalah mimpi, tatapan matanya kini terlihat kosong, air matanya bahkan sudah terasa kering, yang ia rasakan ialah seperti kehilangan semua tenaga nya.

Al tidak tau apa yang akan terjadi setelah ini, bagaimana ia bisa melanjutkan hidupnya tanpa ada Gia, terlalu sering menghabiskan waktu berdua membuatnya kesulitan untuk membiasakan diri tanpa adanya Gia saat ini, keadaan telah berubah maka Al akan merasakan hari-hari yang akan terasa asing baginya.

"ALLL!!!!!"

Lelaki itu langsung berlari untuk memeluk tubuh Al.

"Al maafkan aku...Maafkan Aku"

Al hanya terdiam dalam pelukan lelaki itu, yang hanya ia rasakan adalah getaran dari tubuh orang tersebut.

"Siapa orang itu Al? SIAPA ORANG YANG MENYAKITI KALIAN BERDUA?"

kini lelaki itu melepaskan pelukannya, memegang kedua bahu Al, menatap lekat mata gadis itu agar segera menjawab pertanyaan nya.

Al membalas tatapannya "A-aku gak tau siapa orang itu Raf" lirihnya pelan.

Benar, lelaki itu adalah kekasihnya, Rafa baru mendapat kabar dari Ayah Gia pukul 5 pagi.

Lelaki itu sangat syok, mendapat kabar bahwa ada seseorang yang menyerang Al dan Gia dipuncak, terlebih Winarta yang langsung memberitahunya bahwa sahabat kekasihnya itu telah tiada.

Rafa langsung kembali kejakarta sendirian tanpa ditemani oleh ayahnya, Rafa mengemudikan mobilnya sangat laju, ia ingin segera menemui Al.

"Are u ok Al?"

Tatapan mata Al berubah, kini mata gadis itu mulai berkaca-kaca.

Rafa kembali memeluk gadis itu, sambil terus memusut pelan punggungnya.

"A-aku takut Raf..." lirih Al pelan.

"No!! Jangan takut, semuanya akan baik-baik aja Al, ada aku yang akan nemenin kamu"

"Ini semua salah aku Raf..seandainya kami tidak merayakan ulang tahun aku dipuncak, pasti Gia masih ada saat ini"

Rafa melepaskan pelukannya, ia duduk disamping Gia, menggenggam tangan gadis itu sambil menatapnya lekat.

"Al...jangan pernah salahin diri kamu sendiri, bukan kamu yang ngebunuh Gia...kamu dan Gia adalah korban"

"Dan jangan lagi mengandai-ngandai Al.. ini semua adalah Takdir, Jalan hidup Gia sudah sampai disini"

Air mata Al lolos seketika, mendengar Rafa yang berkata seperti itu, dadanya kini terasa sesak.

"Kamu harus banyak istirahat Al agar cepat pulih, Om winarta ngasih kabar kalo pemakaman Gia akan dilaksanakan jam 10 pagi ini"

"Aku mau kesana Raf, aku mau ngeliat Gia untuk terakhir kalinya" pintanya sambil memegang lengan lelaki itu.

"Iya Al, tapi kamu istirahat dulu, 1 jam lagi kita akan berangkat"

Rafa menuntun Al untuk segera berbaring "selamat tidur Al"

Al hanya menganggukkan kepalanya sambil menutup mata, gadis itu benar-benar lelah, lebih tepatnya jiwanya yang terasa lelah.

Rafa sesekali memusut kepala sang kekasih, hatinya benar-benar sakit melihat keadaan Al saat ini.

Karna itulah ia menunda untuk menanyakan bagaimana kejadian divilla saat itu, ia bisa melihat Al sangat syok dan ketakuan.

"Al..akan kupastikan pembunuh itu akan mendapat balasan yang setimpal, akan ku balas semua Rasa sakitmu ini Al"

Rafa mengepalkan Tangannya, kini sebuah dendam muncul dalam hatinya, orang itu sudah berani menyakiti kekasihnya terutama ia juga sudah membunuh teman nya yaitu Gia.

Rafa akan mencari cara untuk menemukan pembunuh itu, jika polisi tidak bisa menemukannya, maka ia sendiri yang akan mencari orang itu.

💫

02.00

Terlihat seorang lelaki sedang memandangi gadis yang sudah terbaring kaku dikamar Jenazah.

Hampir satu jam, Lelaki itu hanya diam sambil terus memandangi wajah gadis tersebut.

"Gia.." lirihnya pelan.

"Kenapa semuanya jadi begini? K-kamu cuma bercandakan sayang? Kamu gak mungkin ninggalin aku, k-kamu..."

Gavin tiba-tiba berlutut dilantai, tangannya meraih tangan Gia yang terasa sangat dingin.

"Gia kumohon bangunlah, katakan kalau semua ini cuma bohong, aku janji...aku gak akan ke Newyork lagi, aku akan tinggal disini sama kamu, A-aku gak akan ninggalin kamu lagi Gia!!"

Air mata Gavin terus berjatuhan, akan tetapi Ekspresi wajah lelaki itu tidak seperti menangis, air matanya seperti jatuh begitu saja.

"AIR MATA SIALAN!!! KENAPA KAU MENANGIS VIN!! GIA MASIH HIDUP" ucapnya sambil menghapus air matanya dengan kasar.

"Kamu bilang, kamu mau nikah sama aku..ayo sekarang kamu bangun Gia, kita nikah saat ini juga!!"

"GIA BANGUN!!!! AKU BILANG BANGUN YA BANGUN!!! KAMU GAK DENGER HEH????"

Gavin kembali berdiri, kini ia mengguncang-guncang bahu gadis tersebut sambil terus menangis.

"Gia..hiks.."

Akhirnya terdengar isakan dari lelaki itu, ia menundukkan wajahnya disamping kepala sang kekasih sambil memeluk tubuh gadis itu.

"Maafkan aku Gia.."

"Maafkan aku yang yang gagal ngelindungi kamu"

Gavin melepaskan pelukannya, ia kembali berdiri tegap, wajahnya kini terlihat datar, lelaki itu dengan cepat mengubah ekspresinya.

Sambil memandangi wajah dan tubuh Gia yang banyak terdapat luka, Gavin meraih ponselnya yang ada disaku celana.

Ia menekan nomor seseorang untuk segera ia hubungi.

"Hallo Mark, cepat kembali ke indonesia sekarang juga, ada hal penting yang harus kau lakukan disini"

"Baik Tuan"

Gavin mengakhiri panggilannya, ia kembali meletakkan ponselnya disaku celana "kali ini kau tidak akan bisa lepas dari ku Sean!"

Sebuah kebencian tersirat dari kedua mata milik Gavin, lelaki itu tidak bisa lagi menahan amarahnya, ia akan menghentikan semua ulah Blackwolf ini.

Ia akan pastikan, Gia adalah orang terakhir yang bisa Sean bunuh, selanjutnya Gavin sendiri yang akan membunuh lelaki itu.

💫

"Aku pikir Tuhan hanya merenggut Gia dari hidupku, ternyata aku salah, setelah kepergian Gia, hati dan separuh nyawaku juga ikut menghilang"

-Gavin.

To be continue.

Alkina Alisha (On Going)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang