Blackwolf

101 5 0
                                        

Terlihat seorang lelaki berjas hitam sedang bersantai dikursi kebesarannya, pria berkacamata hitam itu asik mengeluarkan kepulan-kepulan asap dari mulutnya.

Dari lantai 20, mata coklatnya menelusuri pemandangan kota New York dari jendela ruangan tersebut.

Tok..tok

Bunyi derap langkah kaki terdengar begitu teratur, orang yang tadi mengetuk pintu Ruangannya kini sudah berdiri tegap dibelakangnya.

Lelaki yang juga mengenakan pakaian serba hitam itu terlihat membawa amplop coklat berukuran kecil.

"Jadi, siapa target blackwolf selanjutnya?"

Lelaki itupun memutar kursinya menghadap sang asisten.

"Maaf Tuan, Saya harus menyampaikan kabar buruk ini kepada Anda"

Gavin menautkan kedua Alisnya, perasaannya kini menjadi tak tenang.

"Saya baru saja diberi kabar, bahwa paman anda yang ada di Indonesia, ditemukan tewas dikediaman nya tadi malam"

"APA!!!"

"KENAPA KAU BARU MEMBERITAHUKU?"

Bagai ditimpa batu besar, lelaki itu syok bukan main, bahkan kini jari-jarinya terasa bergetar.

"LALU APA PENYEBAB KEMATIAN NYA?? JANGAN BILANG INI ULAH BLACKWOLF SIALAN ITU!!!"

Mark sang asisten nya pun hanya bisa terdiam, ia tidak menjawab pertanyaan dari boss nya.

"Ck! sudah ku duga"

Lelaki itu tersenyum sambil memainkan polpoin yang ada diatas meja nya, senyuman itu...senyuman yang membuat Mark bergidik ngeri.

"Blackwolf...Kau tunggu saja, kali ini aku tidak akan diam, aku tidak akan membiarkanmu membunuh orang-orangku lebih banyak lagi!!!"

"Ini surat nya tuan"

Mark menyodorkan amplop yang dari tadi ia pegang, boss nya pun langsung mengambil amplop tersebut untuk segera ia baca.

"Gavin, saat kau membaca surat ini pasti kabar kematian pamanmu sudah terdengar ditelingamu itu, seperti biasa, aku kembali merampas orang yang kau sayangi, dan aku tidak akan berhenti sebelum kau benar-benar membayar kematian orangtua ku, ohh aku kira dengan menukarnya dengan nyawa mu itu cukup sepadan dengan rasa sakit ku ini, come on!!! Temukan aku, disaat itulah nyawamu akan melayang ditangaku Gavin!!! Jadi nikmatilah sisa waktu mu sambil menonton orang-orang disekitarmu kehilangan nyawa nya satu persatu! Sampai berjumpa disurat kematian selanjutnya GAVIN AREVIK!"

Gavin mengacak surat putih yang terdapat lambang serigala hitam itu, ia memejamkan matanya, rahang nya mengeras.

"Mark, kau ikut aku pulang keindonesia hari ini"

"Baik Tuan, kalau begitu saya siapkan perlengkapan anda"

Mark berbalik dan menuju pintu keluar, sedangkan Gavin, ia kembali menghadap jendela besar diruangan tersebut.

"Blackwolf"

"Kali ini akan ku temukan kau! Ku pastikan ini terakhir kalinya kau bisa mengancamku"

Sudah 5 tahun ini Gavin merasa hidupnya diteror, semenjak orangtua nya meninggal, ia sering mendapat ancaman dari orang yang bernama Blackwolf, orang itu sudah banyak membunuh keluarga Gavin.

Ia sendiri pun tidak tau motif dari si blackwolf tersebut, seperti tadi, surat ancaman itu berisi bahwa orang itu dendam karna kematian orangtua nya yang disebabkan oleh Gavin.

Gavin sendiripun bingung, ia tidak pernah membunuh seseorang, akan tetapi kenapa orang itu menyebutnya sebagai pembunuh.

Gavin sudah berulangkali melaporkan kejadian ini kepihak kepolisian, akan tetapi mereka selalu kehilangan jejak, bahkan barang bukti tidak pernah ditemukan, Blackwolf seperti pembunuh yang profesional.

Apakah ini ada kaitannya dengan kematian orangtua nya sendiri 5 tahun yang lalu, dimana ayah dan ibunya tewas dalam kecelakaan.

Entahlah, yang ingin Gavin lakukan sekarang adalah menemukan si Blackwolf itu agar ia berhenti membunuh orang-orang disekitarnya.

                              💫

Gavin terlihat sedang meletakkan beberapa pakaian nya kedalam koper, besok pagi ia harus segera kebandara untuk menuju indonesia, ia sudah memberi kabar pada Bibinya bahwa ia akan pulang untuk memberikan penghormatan terakhir pada Paman nya.

Setelah selesai dengan packing nya, Gavin pun merasa haus, ia pergi keluar untuk mengambil air mineral di dapurnya.

"Tuan.."

Gavin menghentikan langkahnya, ternyata Mark sedang menunggunya diruang tamu.

"Ada apa Mark?"

Mark menyodorkan sebuah rangkaian bunga yang ada ditangannya "ini ada kiriman untuk anda"

Gavin segera meraih rangkaian bunga Mawar putih tersebut, ia langsung mengambil kartu ucapan yang terdapat didalam nya.

"Turut berduka Cita Gavin, aku yakin paman mu pasti sudah berada di NERAKA! Tunggulah giliranmu"

Gavin melempar bunga tersebut kelantai, ia injak-injak hingga membuat bunga mawar itu tak berbentuk lagi.

"SIALAN!!! SIAPA YANG MENGIRIM BUNGA INI MARK?"

Suara Gavin menggema di ruang tamunya, Wajahnya kini sudah terlihat memerah.

"Bunga ini ditemukan terletak didepan pagar Rumah anda Tuan, setelah pengawal memeriksa CCTV, Mobil Sean berada didepan pagar anda pada jam yang sama"

"SEAN?" Gavin terlihat kebingungan.

"Benar Tuan, Sean Mahardika, Teman lama anda"

Gavin memutar otaknya, mengapa Sean mengiriminya Rangkaian bunga tersebut dan terlebih lagi lelaki itu mengucapkan bela sungkawa yang tak wajar, Gavin tidak pernah memberitahu kesiapapun bahwa paman nya telah meninggal.

"Mark, tolong suruh beberapa orang untuk mengawasi Sean secara diam-diam"

"Apa Tuan mencurigai Sean adalah Blackwolf?"

Gavin masih berpikir keras, ia mencoba mengingat bagaimana selama ini hubungan nya dengan Sean, teman lamanya itu telah banyak berubah saat orangtua nya meninggal.

Ia dan Sean dulu sangat akrab, mereka satu sekolah saat kedua nya duduk dibangku SMA.

Gavin selalu bersikap baik terhadap Sean, karna ia tau, bahwa Sean adalah anak Brokenhome, lelaki itu selalu mendapat perlakuan kasar dari sang ayah, hingga membuatnya sedikit trauma, Sean menjadi anak yang tempramen, hampir setiap hari ia dipanggil keruang BK karna terlibat perkelahian dengan teman lelaki nya dikelas.

Siapapun akan bergidik saat memandangi wajahnya, rambut ikal berantakan, sorot mata yang tajam hingga wajah yang sangat jarang tersenyum membuatnya digelari sebagai "Sean psycho".

Hanya Gavin yang saat itu berani mendekati Sean, hingga sang psycho pun akhirnya luluh, ia menerima ajakan Gavin untuk berteman.

Dan semenjak orangtuanya meninggal, Sean hilang bak ditelan bumi, ia mengabaikan ratusan telpon dari Gavin.

"Tuan?"

Suara Mark membuyarkan lamunan nya.

"Mungkin....bisa saja Sean dendam padaku karna ulah paman waktu itu Mark"

"Kau selidiki Sean secepatnya, awasi gerak-gerik nya setiap saat"

"Baik Tuan, saya permisi"

Mark menundukkan kepalanya lalu lelaki itu segera pergi dari kediaman Gavin.

"Jika memang benar Sean adalah Blackwolf, aku tidak akan mentoleransi semua perbuatanmu selama ini Sean! Walaupun kau dulunya adalah teman baikku sekalipun"

Gavin melanjutkan langkah nya kearah dapur, kepalanya terasa sangat penat, masalah ini benar-benar membuatnya harus berpikir keras.

                            💫

"Saat ada dendam dihatimu, selama melihat orang itu bernafas, maka selama itu juga dada mu akan terasa sesak, hanya ada dua pilihan, kau yang mengakhirinya atau kau sendiri yang berakhir"

-Blackwolf.

To be continue

Alkina Alisha (On Going)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang