~Semoga yang kurindu adalah bagian dari takdir tuhan untukku~
Mobil Alfi sudah merapat di parkiran asrama sejak 10 menit yang lalu. Namun, lelaki itu belum juga turun. Matanya melihat sekitar, beberapa santriwati masih ada yang menghafal terutama santriwati kelas takhasus. Alfi lantas membuka pintu mobilnya, berjalan melewati beberapa santri yang kini mulai memperhatikan dirinya.
Saat melewati dapur, dari celah pintu, ia bisa melihat seseorang tengah berjongkok sembari menunduk. Laki-laki itu memilih mengurungkan niatnya untuk kembali ke rumah. Perlahan kakinya melangkah mendekati orang itu. Alfi bisa melihat Sasa yang tengah melamun, wajahnya kusut, matanya sembab seperti habis menangis cukup lama.
"Ukhti?" panggilnya.
Hening.
Perlahan Alfi pun mendekat, lalu berjongkok didekat Sasa yang tidak merespons panggilannya.
"Ada apa?"
Mendengar pertanyaan itu membuat Sasa menoleh.Saat menyadari kalau sang ustad ada didekatnya, perempuan itu lantas memundurkan dirinya.
"Ngagetin aja ustad. Ustad baru pulang?"
Bukannya menjawab, Alfi kemudian berdiri.
"Naik ke asrama, sebentar lagi bel." Tanpa menghiraukan ucapan sang ustad. Sasa lantas mendongak menatap laki-laki itu.
"Semua cowok sama aja!" ujarnya tiba-tiba. Alfi yang tidak mengerti apa masalahnya pun menaikkan alisnya bingung.
"Maksudnya?"
"Ya semua cowok tu sama aja, nggak ada yang ngertiin kalo ceweknya marah!" gerutunya kesal.
"Anti pacaran sama ikhwan disini?" tanyanya tanpa memandang Sasa. Sadar salah berbicara, Sasa menggeleng panik.
"Enggak tad, tadi cuman salah ngomong aja!"
Sungguh, Sasa sekarang sangat panik. Ia lupa bahwa aturan di asrama tidak boleh berhubungan dengan lawan jenis, apalagi berpacaran. Dalam buku tata tertib tertulis poin 55 jika melanggar aturan tersebut.
"Pacaran sama siapa?" tanyanya lagi.
"Enggak, nggak ada ustad."
"Anti ngaku sekarang atau besok ustad kasih tahu ustad dan ustadzah yang lain?"
Mendengar itu membuat Sasa melotot. "Jangan ustad! Iya-iya ana ngaku."
"Siapa?" tanyanya. Sasa menggigit jarinya bingung.
"Ustad hitung sampai tiga."
"Satu."
"Dua."
"Ti---"
"Huzai ustad!" ucap Sasa dengan lantang. Laki-laki itu mengangguk.
"Naik ke asrama!" titahnya.
"Ustad tapi jangan kasih tahu ustadzah yang lain ya? Ustad hukum ana aja gapapa kok!"
"Laki-laki yang bukan mukhrimnya anti bela sampai segininya?" Sasa diam tak berkutik.
"Putusin dia."
"Nggak mau!"
Sang ustad mengangguk, setelah itu ia pergi meninggalkan Sasa yang kini gelisah ditempatnya. Dengan langkah gontai, Sasa kemudian memutuskan untuk kembali ke kamar. Semoga saja besok ada hari baik untuknya.
***
Hari ini semua santriwan dan santriwati berkumpul di lapangan, bahkan para ustad ustadzah beserta para guru pun ikut hadir. Hal itu membuat perasaan Sasa tidak enak. Pasalnya, jika para ustad ustadzah berkumpul, pasti ada suatu pengumuman atau hukuman untuk para santri yang melanggar.
KAMU SEDANG MEMBACA
ARLOJI
RomanceIni tentang cerita cinta sepasang manusia. Bisa dibilang, cukup menyebalkan bagi Afsheen Fateena Aqilla, seorang ketua OSIS pada salah satu SMA yang ada di ibu kota. Cewek dingin, jutek, seperti es batu, dan tak tersentuh seperti Fateena harus berha...
