"Kelas kita jadi camp qur'an diluar nggak si?" tanya Ziza yang tengah mengaduk mie rebus.
"Emang boleh sama kepsek?" sahut Sabrina. Perempuan itu masih berusaha menghafal, sudah setengah jam baru berhasil menghafal tiga ayat.
"Rencananya minggu depan kan?" tanya perempuan si penyuka ungu. Shafa mengangguk.
"Iya, kalo beneran jadi bakal heboh sih. Secara kita akhwat ikhwan bakal full bareng kan?"
Rencanya minggu depan kelas takhasus akan mengadakan acara kemah qur'an diluar asrama. Sebuah kegiatan pertama kali untuk para santri dan santriwati di pondok tersebut, hitung-hitung refreshing untuk anak takhasus yang hafalannya lebih banyak dari kelas reguler.
Teena yang tengah menjahit celananya yang sobekpun ikut nimbrung. "Keputusannya nanti malem, kita tunggu aja." Ujarnya memberi tahu. Ya, kemarin malam ustad Alfi sendiri yang memberi tahunya.
"Hai gaes, kangen nggak sama inces!?" teriak Billa yang tiba-tiba datang dengan kedua tangan penuh makanan.
"Salam ngapa Bil, nyelonong aja!" cecar Sabrina. Billa melirknya cuek.
"Maling dimana Bil?" tanya Zara asal."
Billa memutar bola matanya. "Sembarangan!"
"Ya kamu mah kebiasaan, nemu makanan langsung diambil, nggak tanya dulu punya siapa. Sakit perut nyalahin orang!" timpal Sabrina membuat Billa mendengus kesal
"Brisik deh, ini inces bawa makanan. Adik kelas anak kamar tiga ada yang ulang tahun, jadi inces dikasih." Katanya.
Teena menatapnya datar. "Dikasih apa malak?" tanyanya. Billa memamerkan cengirannya.
"Malak si, tapi halal ini! Bocahnya ikhlas, kalo sakit perut samperin aja ntar."
Shafa mengerutkan kening. "Ngapain?"
"Paksa suruh ikhlas lah!" sahutnya. Perempuan itu meletakkan makanan tersebut di lantai, ia menyambar sendok di dekat Teena membuat perempuan jutek itu meliriknya singkat.
"Kotor, cuci dulu." Ujarnya memberi tahu.
"Udah jam segini kok belum bel ya? Sekarang jadwalnya kajian kan?" celetuk Shafa sambil menatap jadwal harian asrama.
"Udah telat setengah jam si, apa hari ini libur?" sahut Ziza sembari menatap mereka satu persatu.
"Turun dulu aja yuk!" ajak Zara. Semuanya mengangguk setuju. Kemudian semuanya bergegas turun sambil membawa buku catatan dan alat tulis.
***
"Assalamu'alaikum ustad." Sapa Ziza mengawali. Ustad Alfi mengangguk.
"Wa'alaikumsalam. Afwan, ustad tadi ada urusan makanya telat." Ujarnya memberi tahu.
"Gapapa ustad, terus kita jadi kajian atau ganti lain hari?"
Laki-laki itu melirik jam di tangannya. "Masih ada waktu, kalau kalian mau, sekarang juga boleh. Tunggu di kelas kalian aja."
Mereka mengangguk, kemudian segera bergegas menuju kelas. Semuanya sudah duduk melingkar dengan rapi, juga menyisaka n tempat untuk ustad Alfi duduk. Laki-laki itu datang dengan setelan jubah hitamnya, lalu duduk di tempat yang disediakan.
"Hari ini temanya bebas, kalian kalau mau ada yang ditanyakan, silahkan bertanya."
Semuanya saling melirik satu sama lain. Ziza berdeham pelan.
KAMU SEDANG MEMBACA
ARLOJI
RomansaIni tentang cerita cinta sepasang manusia. Bisa dibilang, cukup menyebalkan bagi Afsheen Fateena Aqilla, seorang ketua OSIS pada salah satu SMA yang ada di ibu kota. Cewek dingin, jutek, seperti es batu, dan tak tersentuh seperti Fateena harus berha...
