2

38 19 0
                                        

~Cinta itu tentang ketulusan, bukan paksaan, apalagi menjadikannya pelampiasan.~

Siang itu, langit tampak cerah. Teena duduk di halaman belakang kelas sembari membaca novel kesayangannya. Tiba-tiba saja Shafa datang menepuk-nepuk pundak Teena dengan heboh, seolah cewek itu habis menang lotre.

"Ada ikhwan datang ambil galon! Ayo lihat Na!" ajak Shafa heboh.

"Ganteng nggak?" tanyanya tak sabaran.

"Nggak tahu, makanya ayo buruan bangun sebelum pada pergi itu!"

Keduanya buru-buru bangun dan berlari menuju dapur. Saat melewati kantor pengurus, mata Teena tak sengaja bertubrukan dengan mata teduh lelaki yang tengah duduk didalam kantor. Lelaki tadi langsung menundukkan pandangannya, membuat Teena mau tak mau ikut memalingkan wajahnya.

"Yahh, yang datang mereka lagi. Tapi itu ada satu yang ganteng, kenal nggak Na?" tanya Shafa yang tengah mengintip didekat lemari pendingin. Mata Teena langsung beralih melihat sosok yang ditunjuk Shafa.

"Gibran nggak si? Aku sempat lihat dia lagi ngobrol bareng Sahra. Pacarnya mungkin?" tebak Teena tak yakin.

"Kamu nggak ada kenalan ikhwan disana? Kenalin satu, keknya seru punya cowok dipondok." Teena berpikir keras.

"Adzki mau? Jomblo loh dia, dia juga suka anime kaya kamu, kali aja cocok." Sahutnya.

"Temenmu yang gamers itu? Emang dia mau sama aku yang kecil sangat tidak menarik ini?" tanya Shafa ragu. Mendengar itu Teena berdecak malas.

"Coba dulu si, lagian Adzki orangnya nggak aneh-aneh. Santai aja, nanti kalo ada waktu aku kasih tahu, okay sayangku?"

"Nggak boti kan Na?" tanya Shafa asal membuat Teena menggeplak bahu Shefa kencang.

"Sembarangan!"

"Siapa yang disitu!?" teriak seseorang yang sangat mereka kenal suaranya. Membuat kedua perempuan itu seketika panik.

"Dzah Aurel woy, kabur-kabur!"

Shafa langsung bergegas mengajak Teena kembali ke asrama, takut-takut jika Ustadzah Aurel akan menemukan mereka berdua yang tengah mengintip ikhwan, dan sebentar lagi akan ada kajian kitab oleh ustadz Ammar.

***

"Eh, siapa tu?" celetuk Sasa seraya memicingkan matanya. Di depan sana, Ustad Ammar sedang berjalan bersama seorang laki-laki.

"Ustad baru." Sahut Sabrina membuat yang lain menoleh menatapnya.

"Kok tahu?"

Perempuan pemilik lesung pipi itu terdiam. "Mungkin kan?" jawabnya asal.

"Assalamu'alaikum, hari ini ustad bawa ustad baru. Silahkan perkenalkan diri ustad." Ujar ustad Ammar mempersilahkan. Laki-laki dengan tinggi 172 cm, pemilik mata teduh juga alisnya yang tajam, dengan sarung hitam beserta peci di kepalanya itu berhasil mencuri atensi seluruh santriwati yang ada di dalam masjid.

"Ganteng banget buset!" ujar Billa dengan melotot, tangannya menepuk paha Asa keras. Yang ditepuk hanya berdecak.

"Apasi Bil, diem ah!" sungutnya kesal. Billa mendekatkan bibirnya di telinga Asa.

"Kalo aku selingkuh, Daffa marah nggak ya? Kamu nggak cemburu kan Sa?" tanyanya bercanda.

"Brisik Bil, dengerin itu mau kenalan orangnya!" sembur Asa.

"Assalamu'alaikum, perkenalkan nama ana Alfico Zylan, antum bisa panggil ana ustad Alfi. Ana disini menggantikan ustad Fakhri, nanti anak-anak takhasus setor hafalan ke ana, sekian syukron."

ARLOJITempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang