~Kebanyakan manusia selalu menginginkan sosok yang terbaik, tanpa berusaha memantaskan diri apakah dia layak untuk dapat yang terbaik~
"Bantu terjemahin kitab!" titah Abi sembari menyerahkan satu buku kitab di tangannya. Mereka berdua tengah duduk di ruang tamu rumah ustad Alfi dengan pintu yang sengaja dibuka. Keduanya duduk berhadapan.
"Salah nyuruh orang lo, kitab sendiri gue terjemahin satu baris aja bisa seminggu." Ujar Teena. Abi melirik perempuan dengan gamis coklatnya.
"Yaudah bantuin gue masak aja, bisa nggak lo!?" tanyanya galak.
"Buat siapa?" tanyanya penasaran.
"Ada tamu nanti, abang gue belum pulang gue nggak bisa masak sendiri" jawabnya.
Teena mendesah pasrah. "Biasain bilang tolong bisa? Gue bukan pembantu lo." Ujar Teena membuat Abi mau tak mau mengangguk singkat.
Keduanya pun berjalan ke dapur, Abi membuka kulkas pelan. Matanya menelisik makanan apa yang akan ia masak bersama Teena.
"Masak apa?" tanya Teena. Tangannya terulur mengambil pisau dan beberapa bawang putih dan merah. Abi berpikir sejenak.
"Ayam asam manis?" tanyanya. Teena mengangguk setuju.
"Tolong cuci ayamnya." Titah Teena membuat laki-laki itu mengangguk. Abi mengambil ayam tersebut kemudian mencucinya hingga bersih. Sementara Teena mulai memotong bawang-bawang.
"Udah, terus?"
Teena menoleh. "Ya lo potong dong, masa lo gigit!?"
Abi mendengus mendengarnya. Ia mengambil pisau kemudian mulai memotong dengan hati-hati. Sembari memotong bawang, Teena sesekali melihat Abi yang tengah fokus memotong ayam. Kesal dengan gerakan Abi yang menurutnya sangat lambat.
Perempuan itu berdecak. "Lo motong ayam lama banget heran, kaya orang lagi nyatok rambut!" semburnya kesal.
Abi melirik Teena malas. "Berisik lo!" sahutnya.
Perempuan itu menggelengkan kepalanya. Teena kembali melanjutkan kegiatannya.
"Udah?" tanya Teena.
Cowok itu berdeham sebagai jawaban.
"Lo beneran adeknya ustad Alfi?" tanya Teena penasaran.
"Hm." Sahutnya singkat.
"Kenapa, mau bilang kok beda sama kakaknya?" ujarnya terdengar jengah.
"Dih, sensi amat."
"Bacot lo kaya dora!" Perempuan itu memutar bola matanya malas.
"Anak pungut lo ya?" ujar Teena bercanda.
Abi mendengus pelan. "Dia emang yang sempurna, gue mah remahan rengginang doang di rumah." Ujarnya.
Teena terkekeh pelan "Lah, sadar diri ternyata?"
"Semua cewek yang gue suka pasti selalu suka sama dia. Padahal gue juga nggak kalah ganteng kan?" ujarnya percaya diri. Teena melirik laki-laki itu.
"Sok ganteng banget heran."
"Lah? Gue mah emang ganteng!" sahutnya. Lagi-lagi membuat Teena yang tengah mengaduk masakannya pun terkekeh geli.
"Ada ya, orang se-PD lo di dunia ini?"
Mendengar itu membuat Abi melangkah mendekat, ia menatap Teena dari samping. Tangannya terulur merapikan rambutnya.
"Coba kasih tahu gue, bagian ama yang jelek?" tanyanya sambil menatap Teena intens. Perempuan itu menoleh.
"Akhlak lo!" Abi mencebik.
"Tolong ambilin garam sama gula." Abi menurut. Tangannya membuka lemari di dekat kepala Teena dengan pelan.
"Nunduk." Ujarnya membuat Teena langsung menunduk. Jarak keduanya begitu dekat, bahkan Teena bisa merasakan wangi parfum baccarat milik laki-laki itu dengan jarak sedekat ini.
Teena berdeham pelan. "Garamnya." Abi langsung menyerahkan garam tersebut pada Teena. Perempuan itu menerimanya, bukannya menjauh. Laki-laki itu masih berdiri di belakang Teena.
"Lo ngapain? Jaga jarak!" sungutnya.
Abi tersenyum jahil. Ia mendekatkan wajahnya pada Teena.
"Salting lo?" tanyanya. Teena menatapnya jengah.
"Nggak waras!" Ia melenggang pergi meninggalkan Abi yang kini tengah tersenyum geli.
"Kok kabur? Ini belum mateng woy!" teriak Abi pada Teena, Perempuan itu tak mau menanggapi.
***
Teena menata piring di atas meja, sementara Abi? Cowok itu sudah duduk manis di kursi sembari menatap Teena membuat perempuan itu meliriknya.
"Ngapain lo?" tanyanya. Abi menggeleng.
"Kalo diliat-liat, lo cantik juga ya?" ujarnya tiba-tiba membuat pergerakan perempuan itu terhenti. Ia menoleh menatap Abi sambil tersenyum.
"Baru sadar?"
Cowok itu terkekeh, ia menggulung lengan kardigannya, dari jarak sedekat ini. Teena bisa melihat dengan jelas wajah Abi yang biasanya selalu menatapnya tajam, kini laki-laki itu tertawa membuat Teena sempat terpesona dengan pahatan wajahnya yang nyaris sempurna.
Laki-laki dengan mata sipit dan tatapan tajamnya itu menoleh.
"Kenapa? Baru sadar gue ganteng?" celetuknya sembari menyugar rambutnya ke belakang.
Lagi-lagi Teena mendengus. "Najis!"
"Ternyata lo lumayan asik juga ya? Kemaren-kemaren kaya nenek sihir, ngomel mulu."
Teena melotot mendengarnya. "Nenek sihir nenek sihir, sembarangan lo!" sungutnya tak terima.
Abi kembali tersenyum. Ia mengulurkan tangannya pada Teena yang dibalas dengan tatapan aneh.
"Ngapain?" tanyanya bingung.
"Kenalan ulang. Abigail Dylan Bagaskara." Ujarnya sambil tersenyum.
"Kesambet lo? Tiba-tiba baik, ada maunya kan?" tudingnya sambil menatap Abi menelisik. Cowok itu menatap Teena sebal.
"Su'udzon mulu. Kapan gue jahat sama lo?" tanyanya sarkas.
"Bukan su'udzon, jaga-jaga aja gue mah." Sahutnya.
Tanpa menjabat tangan Abi, Teena menjawab.
"Afsheen Fateena Aqilla."
"Senang kenalan sama lo."
***
KAMU SEDANG MEMBACA
ARLOJI
RomanceIni tentang cerita cinta sepasang manusia. Bisa dibilang, cukup menyebalkan bagi Afsheen Fateena Aqilla, seorang ketua OSIS pada salah satu SMA yang ada di ibu kota. Cewek dingin, jutek, seperti es batu, dan tak tersentuh seperti Fateena harus berha...
