~Jadikah sebaik-baiknya wanita yang dirindukan syurga bukan pria, jadilah sebaik-baiknya wanita yang bisa menjaga bukan dijaga~
Semua makanan sudah siap, Teena beranjak dari duduknya.
"Mau kemana?" tanya Abi, laki-laki itu ikut beranjak dari duduknya.
"Balik asrama lah, ngapain lagi?"
Abi melirik jam di tangan kirinya. "Makan dulu lah, sebentar lagi tamunya juga datang."
"Nggak laper, gue pulang." Pamitnya. Saat hendak menutup pintu, perempuan itu dikejutkan dengan kehadiran ustad Alfi dengan dua orang tua di belakangnya. Kaya nggak asing? Batinnya.
Mendapati santrinya keluar dari rumahnya membuat alis laki-laki itu berkerut.
"Shefa habis ngapain?" tanyanya. Perempuan itu meneguk ludahnya.
"Masak dia." Sahut seseorang yang tak lain adalah Abi. Laki-laki itu berdiri di belakang Teena. Tatapan kedua laki-laki itu bertemu saling memandang dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Berdua?" tanyanya seraya menatap Abi tajam. Laki-laki-laki itu tersenyum miring manatap kakaknya.
"Menurut lo?"
Merasa situasi tidak enak, Teena mengambil inisiatif untuk segera pergi.
"Aku pamit ustad, Assalamu'alaikum."
Baru selangkah ia berjalan, suara ustad Alfi menginterupsinya. "Tunggu."
Laki-laki itu memberikan bungkusan di tangan kanannya pada Teena. "Ambil, afwan udah bikin repot Shefa." Ujarnya. Dengan ragu, perempuan itu mengambil bungkusan tersebut.
"Makasih ustad."
"Lain kali jangan datang kalo cuman berdua di dalam rumah." Ujar ustad Alfi membuat Teena mengangguk sopan.
"Maaf ustad. Assalamu'alaikum."
Laki-laki itu menatap kepergian Teena. Tanpa sadar, tangannya sudah mengepal.
"Tegang banget tangan lo bang?" celetuk Abi dengan tampang mengejek. Laki-laki itu menghembuskan nafasnya. Ia kemudian mempersilahkan kedua orang tersebut untuk masuk ke dalam rumah.
***
Paginya, berita tentang Teena yang berdua di dalam rumah dengan Abi pun langsung terdengar ke telinga santriwati yang lain. Hal itu membuat beberapa orang langsung mencari tahu kebenaran berita tersebut. Teena sendiri sudah pusing mendengarnya, ia sudah jengah melihat tatapan kakak kelasnya yan amat menyebalkan, ia tahu salah tapi mereka berdua tidak melakukan sesuatu yang aneh-aneh bukan?
Perempuan itu kini tengah berbaring diatas ranjangnya, dengan bantal yang menutupi kepalanya.
"Kamu sama dia cuman masak aja kan Na?" tanya Sabrina untuk kesekian kalinya. Dibalik bantal, perempuan itu mendengus lirih.
"Tanya sekali lagi, bantal ini bakal melayang Sab!" ancam Teena. Perempuan pemilik lesung pipi itu pun langsung merapatkan mulutnya.
"Mereka kenapa si, heboh banget? Iri kali ya liat Teena bisa berduaan sama si Abi?"
Billa yang tengah berbaring di lantai pun lantas mendudukkan tubuhnya. "Ya siapa yang nggak mau berduaan sama orang ganteng?" timpalnya.
Sabrina memutar bolamatanya malas. "Ganteng doang akhlak minus." Celetuknya pelan, Teena yang berada di dekatnya pun menoleh.
KAMU SEDANG MEMBACA
ARLOJI
Lãng mạnIni tentang cerita cinta sepasang manusia. Bisa dibilang, cukup menyebalkan bagi Afsheen Fateena Aqilla, seorang ketua OSIS pada salah satu SMA yang ada di ibu kota. Cewek dingin, jutek, seperti es batu, dan tak tersentuh seperti Fateena harus berha...
