13

9 9 1
                                        


~Jangan terlalu mengejar, Tuhanmu lebih mengetahui apa yang ada dalam hatimu~

"Nanti sore kita boleh keluar kan ya?" tanya Bita. Perempuan itu tengah duduk sembari mengunyah roti di tangannya.

"Heh, yang lain puasa malah makan di depannya. Nggak baik tau." Ujar Ziza mengigatkan.

"Niatku baik, buat menjaga iman kalian-kalian para perempuan iman lemah!" sahutnya santai. Zara yang berada di sampingnya pun menggelengkan kepalanya.

"Bakso di depan kira-kira ntar antri nggak ya? Bosen makan ayam mulu," celetuk Sabrina sembari menggosokkan rambutnya. Perempuan itu sepertinya barus selesai mandi.

"Aku gelem nasi padang cuy." Celetuk Billa. Zara melotot sembari menoleh gusar.

"Jangankeras-keras Bil, ntar ada anak bahasa denger di catat loh." Ujar Zara mengigatkan. Billa mengangguk.

Teena menyembulkan kepalanya. "Nitip plis." Ujarnya lirih.

"Siapa lagi yang mau beli nasi padang? Biar sekalian,"

"Mending samain aja nggak si, biar nggak repot. Biar aku sama Ziza deh yang keluar." Usul Zara. Bita mengacungkan tangannya.

"Ikut ah! Aku bagian beli minum." Ujarnya. Perempuan itu buru-buru kembali ke kamarnya, bersiap-bersiap. Semua santri dan santriwati memang diwajibkan untuk berpuasa Senin Kamis, jika melanggar maka akan ada hukuman yang menanti. Tak sedikit dari mereka juga banyak yang tidak berpuasa, dengan alasan berhalangan atau pura-pura sakit. Hal itu sudah biasa ditemukan, bukannya jera, santri-santri yang memang suka mencari keributan malah sengaja kembali membuat masalah, seperti sudah hobi mereka, membuat para ustad dan ustadzah naik darah.

"Sekarang hari Selasa ya? Halah, ikhwan jadwal keluarnya Rabu."

Zara menggelengkan kepalanya. "Mau liat siapa Bit?" tanyanya.

"Cuci mata aja si, kita di pondok ibaratnya kaya di kandang ayam. Di dalam terus nggak keluar-keluar, yang dilihat cuman sesama cewek aja, nggak sengaja lihat ikhwan langsung dihukum." Ujar Bita menggerutu.

"Namanya juga kita diajarin buat ghadul bashar Bit." Zara menimpali. Perempuan disampingnya pun menghentakkan kakinya kesal.

"Ghadul bashar apa an? Ustad Ammar tuh suami orang malah fine-fine aja, justru yang udah berumah tangga kaya beliau mah jangan di kasih rumah dikawasan akhwat dong!"

"Justrubeliau nih dijadikan contoh, biar kita nggak lirik-lirik suami orang." Bita memutar bola matanya malas. Matanya membola saat melihat objek yang tak jauh darinya.

Tangannya menepuk pundak Zara heboh. "Akhirnya liat ikhwan cuy, asksksks ganteng banget!"

"Jeli banget matanya liat begituan, Bit?"ujarnya heran. Zara menajamkan matanya saat melihat Daffa, pacar Billa yang tengah mengobrol dengan salah satu santriwati yang kebetulan tengah menunggu pesanannya.

"Itu Daffa atau mataku yang salah liat Bit?" tanyanya ragu. Bita mengerutkan keningnya.

"Mana si?"

Zara menunjuk Daffa yang ada di depan sana dengan telunjuknya. Bita mengikuti arah tunjuk sahabatnya.

"Wah cari masalah dia, ini kalo si barongsai tahu. Tantrum dia." Ujar Bita tak habis pikir.

"Semoga aja Billa nggak tiba-tiba nongol---"

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jan 12 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

ARLOJITempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang