~Nyatanya, tidak semua rasa bisa diajak kerjasama~
Alfi berdiri di depan gudang belakang sambil sesekali melirik jam tangannya. Ia sudah menunggu seseorang selama hampir satu jam. Malam ini Alfi harus menemuinya untuk membicarakan sesuatu.
Alfi menghembuskan nafasnya ketika melihat sosok yang ia tunggu telah datang. Laki-laki itu melambaikan satu tangannya sambil berjalan menghampiri perempuan tersebut. Membuat perempuan itu sedikit kikuk.
"Maaf ustad, tadi nunggu yang lain tidur dulu." Ujarnya memberi tahu. Alfi mengangguk.
"Ada yang mau saya bicarakan."
"Ada apa?" tanyanya penasaran.
"Saya nggak mau basa-basi. Saya nggak bisa nikah sama kamu." Ujar Alfi, membuat perempuan itu menatapnya meminta penjelasan.
"Saya nggak cinta sama kamu."
"Cinta bisa tumbuh perlahan ustad." Jawabnya. Membuat Alfi mengangguk.
"Dansaya nggak mau menumbuhkan cinta itu sama kamu. Kamu teman dia kan? tahu saya dekat sama dia, tapi dengan mudahnya kamu mau saya menikahi kamu. Kenapa?"
Perempuan itu terdiam sejenak. Sejujurnya ia juga tidak mau dijodohkan dengan laki-laki itu. Sungguh, ia sama sekali tidak pernah memiliki niat sedikit pun untuk merusak pertemanannya.
"Aku juga nggak mau, ustad," jawabnya. Alfi memejamkan matanya sebentar. "Tolong, saya bener-bener nggak bisa. Kalau kamu nggak suka sama saya, saya yang akan bilang ke orang tua kamu."
"Silahkan, tapi apa ustad lupa siapa yang udah nolongin keluarga ustad dulu?" tanyanya kembali mengingatkan Alfi.
"Saya tahu, apa bayaran itu belum cukup juga?"
"Jangan pura-pura lupa, ustad yang udah bikin kakak aku ada di rumah sakit jiwa. Lupa!?" ujarnya sedikit membentak.
Alfi menjambak rambutnya kasar. "Berapa kali saya jelasin, bukan saya yang tabrak suami kakak kamu."
"Tapi bukti itu udah jelas kalau mobil itu punya ustad. Dan ustad sendiri yang ada di dalam mobil itu!"
Perempuan itu mengusap air matanya kasar. "Aku juga terpaksa lakuin ini, dia kakak aku satu-satunya. Tolong ustad ngertiin aku."
"Tapi saya benar-benar nggak bisa! Lebih baik saya masuk penjara daripada saya harus nikahin kamu, bukan kamu yang saya mau."
Perempuan itu maju selangkah lebih dekat. Ia mendongak menatap laki-laki di hadapannya dengan tatapan tajam.
"Ustad pikir aku nggak tahu ayah ustad ada di rumah sakit?"
Laki-laki itu menatapnya. "Jangan macem-macem kamu!"
"Aku bisa suruh orang buat bunuh ayah ustad sekarang juga. Jadi kita impas kan?"
"Gila kamu!" ujarnya tak habis pikir.
Perempuan itu terkekeh sinis. "Apa pun bakal aku lakuin, atau aku juga bisa bikin perempuan kesayangan ustad itu mati juga. Bahkan di depan mata ustad sendiri."
"Oke, saya bakal nikahin kamu. Tapi setelah lulus." Ujarnya.
Perempuan itu menggeleng. "Tiga bulan lagi, aku mau kita nikah pas ulang tahun dia."
Laki-laki itu mengerang frustasi. "Kamu punya dendam apa sama dia? Kenapa sampai segininya?" tanya Alfi emosi
"Karena dia udah rebut orang yang aku suka!" bentaknya membuat Alfi terkejut.
KAMU SEDANG MEMBACA
ARLOJI
RomanceIni tentang cerita cinta sepasang manusia. Bisa dibilang, cukup menyebalkan bagi Afsheen Fateena Aqilla, seorang ketua OSIS pada salah satu SMA yang ada di ibu kota. Cewek dingin, jutek, seperti es batu, dan tak tersentuh seperti Fateena harus berha...
