~Jangan biarkan hatimu menyimpan seseorang yang bahkan belum tentu menjadi milimu~
Saat ini Teena dan Zara tengah duduk di pinggir lapangan sambil berbincang kecil. Mengobrol dengan Zara menurut Teena sangat asik, menurutnya Zara adalah pendengar yang baik. Zara juga sering memberikan saran yang cukup berguna untuk Teena.
"Kamu kadang ngerasa susah hafalan nggak si Ra?" tanya Teena penasaran.
"Pasti lah, pasti ada ayat yang susah untuk dihafal. Kadang kalau tahajud suka nangis."
Ternyata aku nggak sendiri. Batin Teena.
"Bayangin aja, jadwal hafalan kita lebih banyak dari kelas reguler. Mereka tidur, kita masih hafalan. Mereka bisa main, kita masih harus kejar setoran yang nggak selesai-selesai. Mereka udah makan, kita masih antri setoran."
Zara merangkul pundak Teena
"Bener si, tapi tanpa kita sadar. Kita harusnya bersyukur, kita beruntung masuk kelas takhasus. Artinya, Allah pilih kita. Harusnya kita bangga dong!"
Teena mengangguk setuju. "Kadang mau nyerah tapi ingat orang tua."
"Semangat yuk! Kita kasih mahkota buat Ayah Bunda." Ujarnya menyemangati. Teena mengelus perutnya yang lapar.
"Mau ke koperasi nggak?" tanya Teena.
Zara menggeleng. "Enggak deh."
Teena berdecak pelan. "Hemat lagi? Boros juga perlu Ra, sekali-kali. Aku traktir deh, seblak, coklat, ayam, sayur. Atau apa? Gih buru, aku laper banget, ayo Ra, nggak usah malu---"
"Nggak gitu, aku puasa loh." katanya memberi tahu. Teena yang tak tahu pun menutup mulutnya rapat-rapat. Sementara Zara? Perempuan itu sudah cekikikan di sampingnya.
"Ngomong dong, kan malu jadinya!" sungutnya sebal.
"Yaudah ayo ke koperasi, sebentar lagi juga mau maghrib." Ajaknya. Keduanya pun beranjak dari duduknya untuk pergi ke koperasi.
***
Suasana malam hari di asrama sangatlah sepi, apalagi malam ini malam Minggu. Lebih tepatnya malam Minggu kedua, jadwalnya para santri untuk menonton film. Semuanya sudah berkumpul di salah satu ruang kelas, beberapa pengurus bahkan tengah sibuk menyiapkan proyektor.
Teena dan teman-temannya kini tengah menunggu diluar ruangan sembari memakan snack yang mereka bawa.
"Males nonton ih, mending tidur." Celetuk Sabrina, perempuan dengan jilbab marunnya itu tengah sibuk menggulung lengan kemejanya.
"Emang, mana siapinnya lama banget. Harusnya kalo udah siap, baru semuanya turun. Ini? Huft," keluh Billa sembari memeluk guling hello kittynya. Teena yang sedari tadi diam hanya menyimak.
"Aku mau ke kelas dulu deh ambil novel." Ujarnya, setelahnya ia pergi meninggalkan kelima temannya.
Saat melewati taman, matanya tak sengaja menangkap siluet laki-laki yang tak asing baginya tengah bermain gitar.
"Kaya kenal." Batinnya. Kakinya melangkah mendekat. Ia berdiri membelakangi cowok itu.
"Ustad!" panggilnya, yang dipanggil menoleh singkat.
"Cewek aneh, ngapain lo!?" tanyanya sewot. Sadar salah mengenali, Teena langsung mundur dua langkah.
"Lo lagi si? Ngapain disini?" tanya Teena dengan mata melotot. Cowok itu berdecak kesal.
"Kepo banget jadi orang. Jadi lupa kan gue sampe mana!" sungutnya sebal, tangannya kembali sibuk menyetel senar gitar. Teena mendesis pelan.
"Lo siapa si, dari kemaren disini mulu? Sebel banget lihat muka lo!" Cowok itu menoleh menatap Teena sengit.
"Lo pikir gue nggak enek?"
"Shefa?" panggil seseorang membuat keduanya menoleh. Senyum Teena mengembang. Siapa lagi jika bukan Ustad Alfi.
"Ustaadd!" sapanya senang. Laki-laki itu mengangguk singkat.
"Nggak nonton film?" tanyanya.
"Nonton, ini mau ambil novel dulu dikelas. Ustad sendiri mau kemana?" tanyanya balik.
Laki-laki itu mengangkat makanan di tangannya. "Habis beli makan. Mau?" tawarnya.
"Enggak usah, udah makan tadi ustad. Yaudah aku ke kelas dulu ya tad. Assalamu'alaikum." Pamitnya.
"Wa'alaikumsalam."
"Bye cewek aneh!" sahut cowok itu.
"Kenal?" tanya ustad Alfi pada cowok itu. Ia menggeleng.
"Nggak, ogah juga kenalan ama cewek aneh kaya gitu." Jawabnya sembari memetik giar ditangannya.
"Jangan ganggu dia." Peringat laki-laki itu, merasa aneh dengan perkataan kakaknya. Cowok itu menatap sang kakak dengan pandangan bertanya.
"Suka?" tanyanya blak-blakan.
Tanpa menjawab pertanyaan sang adik, laki-laki itu langsung pergi.
***
Fisika di hari Rabu itu seperti hukuman bagi Teena, apalagi ditambah Matematika di jam terakhir rasanya ingin sekali Teena kabur dari kelas. Maklum, kapasitas otak Teena jika berurusan dengan angka sangatlah minim.
"FISIKA ULANGAN GAIS, BAB 4!" Teriak Bita sebagai ketua kelas. Perempuan mungil itu datang membawa setumpuk kertas yang tidak lain adalah soal ulangan hari ini.
"Ibu wakil bisa tolong bantuin nggak ya?" tanya Bita dengan nada sedikit menyindir. Merasa dipanggil, Teena pun mendekat dengan langkah gontai.
"Buset banyak banget soalnya!" keluhnya saat melihat banyaknya soal yang terpampang.
"Berapa?" tanya Ziza penasaran.
"Lima puluh." Sahut Bita sambil membagikan soal pada setiap meja.
"Shibal!" umpat Billa kesal. Matanya menatap frustasi soal ditangan kirinya. Setelah semua soal terbagi semuanya kemudian mulai fokus mengerjakan.
Berbeda halnya Teena dan Billa yang kini sudah bersiap-siap keliling mencari jawaban.
"Wahai kawanku yang baik hati, bisakah kalian memberikan tuan putri jawaban?" ujarnya lebay dengan nada dibuat-buat, seraya mendekati Sasa.
Perempuan dengan mata sayu itu menoleh. "Mikir Bil." Sahutnya menohok. Teena yang hendak berdiri pun mendudukkan dirinya kembali. Sungguh, ia paling benci dengan pelajaran yang berbau angka dan rumus-rumus aneh seperti ini.
"Coba aja Bu Mika nggak pindahin Syaqeela ke kelas sebelah, udah pasti aman kita mah." Celetuk Sabrina dibelakang yang tengah mengunyah permen karetnya.
"Emang, dia kayaknya sengaja banget bikin nilai kita jelek." Sahut Billa kesal.
Yang lain masih sibuk berpikir, mencari jawaban. Lain halnya dengan Zara, perempuan penyuka serba ungu itu sedari tadi tengah fokus dengan soal di hadapannya. Butuh waktu 30 menit untuk Zara menyelesaikan soal tersebut, perempuan itu kemudian meluruskan tangannya yang pegal.
"Nih, sapa yang mau nyontek? Kalo salah banyak bodoamat ya?" katanya terlampau santai. Mendengar itu, yang lain buru-buru mendekat untuk menyalin jawaban Zara.
"Jambu yang di deket masjid udah pada tumbuh tau!" ujar Sabrina memberi tahu.
"Ntar habis dzuhur ambil yuk, kita bikin rujak!" ajak Ziza semangat.
"Sama minta mangganya ustad Alfi. Na, kamu yang minta ya?" Teena yang tengah menulis pun menggeleng tanda tak setuju.
"Males ketemu setan."
"Ternyata si cowok yang main basket itu, adiknya ustad Alfi woy! Pantes aja rada mirip, mana sama-sama ganteng." kata Ziza memberi tahu seraya meraut pensil di tangannya.
"Serius!? Gebet ah, nggak bisa dapet kakaknya, adiknya pun jadi." Sahut Billa semangat.
"HAHAHAHAHA, MIMPI!" Sambar Asa seraya menimpuk kepala Billa dengan LKS ditangannya.
Billa mendengus sebal. "Sakit banget Sa, sumpah. Kamu punya dendam apa si sama inces?"
Tanpa menghiraukan ucapan Billa, perempuan itu melanjutkan kegiatannya.
***
KAMU SEDANG MEMBACA
ARLOJI
Lãng mạnIni tentang cerita cinta sepasang manusia. Bisa dibilang, cukup menyebalkan bagi Afsheen Fateena Aqilla, seorang ketua OSIS pada salah satu SMA yang ada di ibu kota. Cewek dingin, jutek, seperti es batu, dan tak tersentuh seperti Fateena harus berha...
