3

26 18 4
                                        

              ~Terkadang Tuhan menunda sesuatu yang indah, untuk menjadikannya lebih indah~

Matahari mulai menampakkan wujudnya, begitu pula dengan awan yang mengikuti. Embun pagi perlahan menghilang, menyisakan suara burung-burung yang bernyanyi dengan riang. Senyum Teena tidak pudar sedikitpun sedari tadi, karena kemarin ia berhasil menyetorkan tujuh halaman, sekaligus ia lulus ujian tahfidz, walaupun memang masih ada yang tidak begitu lancar. Tapi setidaknya ia diberi satu batang coklat oleh ustad Alfi.

"Karena hari ini udah setoran lumayan banyak, ustad kasih Shefai coklat." Kata Ustad Alfi sembari menyerahkan coklat itu pada Teena yang kini sudah tersenyum senang. Tangannya terulur mengambil coklat tersebut.

"Serius tad? Kok tumben ustad baik?" tanyanya.

"Malam minggu ujian tahfidz, anggap aja untuk pemanis Shefa. Satu kali duduk, satu juz ya?" Mata Teena melebar mendengarnya.

"Kok gitu?" sahutnya tak terima.

"Minggu kemarin Shefa harusnya ujian setengah juz, tapi Shefa nggak datang kan?" Teena menepuk jidatnya, minggu lalu ia memang tidak hadir karena ketiduran di asrama. Lebih tepatnya ia malas bertemu ustadnya.

"Tahu gitu ustad kasih coklatnya besok aja lah kalo aku lulus ujian." Sahutnya pelan.

"Yaudah, bawa sini coklatnya." Pintanya lembut. Teena langsung memberikan kembali coklat itu pada ustad Alfi. Tangan cowok itu terulur mengambil coklat tersebut, kemudian tersenyum kecil. Cowok itu mengusap kepala Teena menggunakan coklat tadi dengan gerakan pelan.

"Bercanda, makan aja. Ustad ada urusan, nanti setor ke ustad Ammar atau ke ustadzah yang lain dulu ya?" katanya.

Cowok bermata teduh itu lalu beranjak dari tempatnya meninggalkan Teena. Sementara Teena sendiri masih mematung ditempatnya.

"Barusan dia ngapain?" tanyanya bingung.

Saat Teena masih sibuk melamun, Ustadzah Aurel datang dengan gamis hitam tak lupa dengan tatapan sinisnya, ia berjalan mendekati Teena.

"Ustadzah mau bicara sama anti." Ujarnya. Kedatangannya yang secara tiba-tiba membuat Teena berjengit kaget., buru-buru ia berdiri dari duduknya.

"Kenapa ustadzah?" tanyanya sopan.

"Ada hubungan apa anti sama Ustad Alfi?" tanyanya. Matanya tak berhenti menatap sinis Teena yang kini gantian menatapnya.

Teena mengerutkan keningnya heran. "Hubungan? Ana nggak ada hubungan apa-apa sama ustad Alfi dzah." Jawab Teena sekenanya.

"Bisa anti jaga jarak sama beliau?"

"Covid, jaga jarak?" celetuk Teena pelan. Mendengar celetukan Teena, ia maju lebih dekat dengan Teena.

"Ustad Alfi itu ustad disini, anti harusnya hormat sama beliau. Paham?"

Setelah mengatakan itu, Ustadzah Aurel pun pergi meninggalkan Teena yang kini menatap punggungnya dengan tatapan yang sulit diartikan.

***

"Teena, sebutkan tahap menyusun teks cerita sejarah!" Lamunan Teena terhenti ketika mendengar namanya disebut dengan lantang. Tangannya menyikut lengan Zara yang kini sudah menahan tawa.

"Bantuin plis..." bisiknya pelan.

"Gimana Teena? Nggak bisa jawab?" Teena menggeleng takut.

"Besok-besok perhatikan guru yang mengajar, sekarang tulis semua yang ada di papan tulis. Semuanya kerjakan halaman enam puluh tiga." Perintah Bu Niken selaku guru Bahasa Indonesia. Wanita paruh baya itu kemudian pergi meninggalkan kelas.

ARLOJITempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang