Afsheen Fateena Aqilla punya alasan kenapa dia tidak suka hujan. Pertama, hujan selalu identik dengan kenangan. Hujan membuatnya selalu mengingat hal rumit yang tak ingin dia ingat, tapi terpaksa untuk kembali mengingat. Kedua, Teena benci lingkungan saat musim hujan. Keadaan yang lembab serta aroma tanah bekas hujan yang sangat aneh di hidungnya.
Teena terlahir dari keluarga sederhana. Perempuan itu anak pertama dari tiga bersaudara. Si tengah, panggil saja Zain. Si tukang ngadu, tukang nyuruh-nyuruh. Zain ini termasuk manusia penganut sekte aneh, terutama soal makanan. Adik Teena yang kedua namanya Zeena, si bocil kematian, si tukang rusuh.
"Balik asrama jam berapa kak?" tanya Bunda yang tengah merapikan meja makan.
"Tiga kayanya." jawab Zain. Zain sudah hafal dengan kebiasaam sang kakak yang suka sekali terlambat ke asrama. Bodoamat sama hukuman, Teena hanya mengangguk singkat.
"Bunda bawain roti sapi sama brownis black forest ya? Ingat dimakan!"
"Iya-iyaa. Eh, jaket aku yang warna hitam mana bun? Aku cari di tempat laundry nggak ada." Belum sempat Bunda menjawab pertanyaan Teena, Zeena yang semula tengah bermain puzzle tiba-tiba menunjuk Zain dengan gerakan heboh.
"Aku lihat kemaren dipake temennya Mas, mana keringat semua bau banget pasti!"
Zain sendiri yang tengah makan pun menoleh, menatap sang kakak dengan cengiran khasnya yang menyebalkan. Ditambah tatapan maut Teena yang tengah berkacak pinggang didepan kulkas sambil memegang garpu membuatnya terlihat semakin ganas.
"Iyaa, nanti aku ambil. Jaket doang ribet amat!" Teena yang mendengar itu pun langsung menghampiri Zain dengan langkah menggebu.
"Ambil sekarang nggak!?" Zain berdecak malas, cowok itu akhirnya bangun dan menyambar kunci motornya. Bunda geleng-geleng kepala.
"Makanya disimpan kak, sukanya ceroboh."
Tak ingin menanggapi, Teena lebih memilih kembali ke kamarnya. Hidup di pondok pesantren memang keinginannya, tapi ternyata tak seindah bayangannya. Aktifitas yang padat, terutama kegiatan mengaji dan juga hafalan kitab, terkadang membuatnya kelelahan, bahkan saking seringnya ia absen, beberapa pengurus hampir tak percaya jika ia tengah sakit. Derita darah rendah ribet juga memang. Orang bilang pondok itu suci, pasti didalamnya adalah orang-orang suci, hatinya bersih, penghafal yang hebat dan lain-lain. Nyata tidak semuanya benar, santri pun banyak yang berpacaran, mencuri waktu saat meminjam hp pengurus untuk menghubungi pacar, adalah hal yang biasa Teena lihat dengan temannya.
Teena sendiri pernah berfikir, kapan ia bisa merasakan euforia jatuh cinta seperti yang temannya rasakan. Teena sendiri bukan santri yang taat aturan, ia pun sering melanggar, bahkan teman satu angkatan ada yang menyukainya pun Teena tak peduli. Menurutnya tidak menantang jika ia berhubungan dengan sesama santri di pondok pesantrennya
***
"Ingat, rotinya dimakan kak!" kata bunda kembali mengingatkan. Teena mengangguk. Tiba-tiba ia teringat dengan lelaki yang baru ia kenal.
"Kalo bunda mau jenguk, tolong bawain handphone aku dilaci ya bun?" ujarnya. Bunda memberi tatapan menyelidik.
"Nggak ada apa-apa kok."
"Iya, udah sana berangkat."
Akhirnya Teena pun kembali ke asrama, di sepanjang perjalanan Teena mulai membayangkan bagaimana rupa lelaki itu. Baru pertama kali ia berbincang dengan orang asing tapi tak merasa risih sediktpun, anehnya obrolan mereka terus mengalir sangat asik, seperti teman lama yang kembali berjumpa. Tak seperti biasa, kali ini dengan Alfi berbeda. Ia bisa nyaman berbincang selama lebih dari 2 jam, bahkan Teena sendiri tak memindah layar chat obrolannya ke beranda. Lucu memang.
KAMU SEDANG MEMBACA
ARLOJI
RomansaIni tentang cerita cinta sepasang manusia. Bisa dibilang, cukup menyebalkan bagi Afsheen Fateena Aqilla, seorang ketua OSIS pada salah satu SMA yang ada di ibu kota. Cewek dingin, jutek, seperti es batu, dan tak tersentuh seperti Fateena harus berha...
